AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 149


__ADS_3

Roy hanya hanya diam memandang Debora yang juga menatapnya.


"Roy... Aku terlalu cinta sama kamu.. Aku gak peduli jadi yang kedua tau yang keberapa yang penting aku tetap sama kamu.." Nur manatap Roy yang terus menatap Debora.


***


"Apa apaan itu Roy.. Kenapa kamu gak hubungi ak dulu sebelum ambil keputusan nikah sama perempuan itu? Aku bakal cari asal usul perempuan itu." Hery ingin berlalu tapi Roy menahannya.


"Hery. Kalau bisa aku menghindar tapi Debora buat aku gak bisa menghindar. Aku sudah coba untuk jujur dengan kenyataan kita berdua, tapi rupanya perempuan itu gak peduli dan di malah kasih bukti bohong yang gak bisa aku tolak, apaalgi persiapan dia datang ke rumah dengan bawa penghulu dan orang yang paham akan masalah yang di buat dia. Aku kalah karna Debora yang meminta. Kalau Debora gak minta aku juga gak mau.." Roy sudah menceritakan kisahnya semalam pada Hery.


"Roy.." Hery memijit kepalanya.


"Permisi Pak.. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan CEO." Seorang petugas masuk dan membawa seseorang.


Hery dan Roy saling melempar tetap.


CEO mana yang dia maksud... Apa yang asli atau yang palsu.


Pikir Roy dan Hery bersamaan.


Masuklah sosok wanita cantik dengan baju casualnya. Roy menghembuskan nafas kasar melihatnya.


"Kamu ngapain ke sini..?" Roy sangat ingin melempar Nur dari gedung bertingkat mereka ini.


"Ooohh, jadi ini ruangan CEO.. Luas juga.." Nur menyentuh lalu menyeret jarinya di pinggiran sofa hingga meja.


Hery menyipitkan matanya. "Wanita ini..?" Sepertinya Hery sudah bisa menduga siapa ini.


"Hai.. Kamu pasti yang namanya Hery.. CEO asli Gunha Group. Dan kamu suamiku adalah asistennya kan.." Nur bergelayut manja pada Roy.


"Maaf aku gak kenal kamu di sini.. Aku di sini kerja bukannya main main kayak kamu.." Roy melepaskan tangan nakal Nur yang mencoba menggodanya.


"Maaf tuan CEO, bisa tinggalkan kami berdua.." Nur benar benar berbeda jiika seperti ini, tidak terkesan polos lagi.


Hery menghempas jasnya dan keluar dari ruangan Roy. Nur menatap Hery hingga keluar dari ruangan itu.


"Itu teman kamu dari SMP kan... Ganteng juga.. Gak nyangka kalau dia pemilik perusahan ini. Tapi aku gak peduli itu. Yang aku mau itu cuma Kamu Roy.." satu tangan Nur mengelus dada Roy. Dan satu lagi dengan jarinya menyentuh bibir Roy.


"Tolong hentikan.. Aku ada pekerjaan kalau kamu gak ada kerjaan pulang dan diam di rumah.." Roy menghempas semua tangan Nur.

__ADS_1


"Siapa bilang aku gak ada kerjaan, ada kok.. Liatin suami aku. Jagain dia takut ada lagi yang minta di nikahin kayak aku.." Nur terus mengganggu Roy.


"Mau aku panggilkan sekuriti kah..? Keluar..!" Titah Roy.


"Oke aku keluar.. Tapi aku ada permintaan sama kamu dulu.. Kamu harus mau, kalau kamu gak mau aku tetap di sini sampai kamu pulang.. Tapi kalau kamu mau aku abis ini langsung pulang.." Mau tak mau Roy mendengarkan.


"Apa cepat..!"


"Aku ada peraturan baru untuk kamu, aku dan Debora." Roy langsung fokus mendengarkan.


"Oke.. Jadi gini.. Aku mau kamu setuju untuk bagi waktu yang adil untuk aku dan Debora. Aku 12 jam sama aku dan 12 jm sisanya sama Debora. Adil kan..?" Roy mengerutkan keningnya.


"12 jam..?" Roy menaikkan satu alisnya.


"Pasti ada yang gak berea sama permintaannya ini.."


Nur tersenyum penuh arti. "Debora dapat jatah sama kamu di siang hari dan aku di malam harinya.."


"Nah kan.." Roy sudah yakin pasti ada sesuatu di balik tawaran keadilan itu.


"Cukup adil kan sayang ku.." Nur mendekati Roy lagi.


"Ya kan kamu suami aku masa aku gak boleh dekat kamu.." Roy jijik rasanya dengan Nur yang seperti ini.


"Oke oke.. Aku setuju dengan permintaa kamu tadi.. Oke sudah sana pulang..." Roy langsung mengusir Nur.


"Betul ya setuju.." Nur mengeluarkan ponselnya yang rupanya ia gunakan untuk merekam ucapan Roy barusan yang setuju dengan permintaanya.


"Oke karna kamu setuju nanti setelah matahari terbenam kamu harus masuk ke kamar aku atau aku yang langsung manja manja sama kamu di depan Debora. Atau mungkin kita sekamar bertiga." Nur benar benar kehilangan akalnya.


"Ck.. Kamu.." Roy benar benar marah.


"Oke oke.. Fine... Aku pulang.. Dada suamiku sayang.." Nur pergi tapi pikiran Roy mulai kacau.


"Ooohh apa lagi ini... Apa aku pulang aja ya.. Kan waktu aku sama Debora cuma siang sampai matahari tegelam. Kalau aku di kantor gini ya kemakan banyak waktu aku.. Kalau aku pulang sore jam 4, waktunya mepet.. Aaahh Hery... Hery pasti ada caranya.." Roy bergegas ke ruangan Hery.


30 menit di tempuh Nur untuk pulang ke rumah Roy. Rumah suaminya.


"Aaahh Eyang sayang lagi apa..?" Nur menyapa Eyang yang sedang bersantai di kursi depan rumah.

__ADS_1


"Ooohh Nur.. Dari mana kamu nak, kok keliatannya senang banget.." Eyang bisa melihat aura kebahagiaan yang terpancar.


"Aku abis dari kantor Roy Eyang.. Aku kangen Roy..."


"Oohh ya Eyang mana Debora, ada yang mau aku sampaikan sama dia.." Maksudnya memamerkan keberhasilannya meminta pada Roy.


"Paling juga di kamarnya..." Eyang tak peduli jika membicarakan masalah Debora.


"Oke aku masuk dulu Eyang.." Nur masuk dengan semangat.


Tok tok tok..


"Debora.. Kamu di dalam..?" Nur seolah sudah akrab dengan Debora.


"Ya.." Debora yang pasrah dengan keadaan membukakan pintu kamarnya.


"Eeemm aku ada yang mau aku ceritain.. Tapi dengar ini dulu.." Nur menghidupkan rekaman suaranya tadi di kantor Roy.


"Oke aku setuju.."


Hanya sampai di situ rekaman yang dapat Debora dengar. Ia sedih mendengar Roy setuju dengan permintaan Nur, tapi apa boleh buat.


"Kamu setuju juga kan.." Nur sudah tahu jawabannya.


"Ya... Setuju.." Debora mengangguk pelan menatap Nur.


"Oke mantap.." Nur langsung berlalu dengan gembira hati dan Debora dengan hati teriris.


***


"Apa kamu bolehkan seperti itu Her.. Apa itu gak berlebihan..?" Roy di ruangan Hery dan bertukar pikiran bagaimana cara mengatasi permintaan dari Nur tadi.


"Ya aku gak keberatan kok.. Ini kan perusahaan aku.. Yang penting nanti kamu dan Debora jaga kebersihannya aja.. gampangkan...?" Hery tersenyum untuk menghibur temannya ini.


"Ya Her.. Aku suka idemu.. Hery kamu memang yang terbaik..." Roy memeluk Hery.


"Ya ya ya.. Sudah lepas.. Nanti bau parfum kamu nempel lagi di baju aku, nanti Rena curiga lagi, bau parfum yang baru dia cium.." Hery trauma dengan kejadian bau parfum baru.


"Oke sip.." Roy memberi hormat.

__ADS_1


Flashback on


__ADS_2