
Bisma mencoba untuk tetap kuat. Ia masih bisa mengenali kalau yang di sampingnya ini adalah Adel.
"Lindungi aku.. Adel.." Gumamnya sebelum tak sadarkan diri.
"Bisma Bisma.. Tolong.." Adel menahan tubuh Bisma yang sudah tak bisa menahan diri sendiri.
"Kak Bisma..!?" Hery melihat Adel kesulitan menahan tubuh Bisma.
***
Adel dan Hery membawa Bisma ke rumah sakit. Bisma segera mendapat perawatan. Adel selalu di sampingnya. Tak sekalipun Adel meninggalkan Bisma.
"Adel tenanglah.. Bisma baik baik aja, itu akibat traumanya.. Kita harus cari tahu traumanya itu dan bantu dia pulih." Hery menghampiri Adel yang sedang duduk di samping brankar Bisma.
"Ya.. Itu yang harus di lakukan.. Bisma sudah lama menderita.." Adel prihatin dengan keadaan Bisma.
***
"Jadi Bisma kambuh lagi..? Aku yakin Bisma gak akan sekuat itu.. Lambat laun dia pasti menyerah.." Gumam Stuart.
Semua informasi terbaru dari Bisma dan Adel ia cari tahu, Stuart mengincar semua berita terbaru dari Bisma, apalagi Adel. Ia sangat gencar dengan Adel.
Adel berhasil mengambil hati Stuart saat pertama kali bersamanya di apartemen. Sejak saat itu, Stuart selalu memikirkan Adel. Adel yang hanya menjadi istri bayaran Bisma. Sungguh tal patut gadis secantik dan sebaik Adel menjadi pasangan seorang GAY.
Stuart merasa dirinya yang lebih pantas bersama Adel. Ia bisa membuat Adel lebih bahagia bersamanya.
"Bagaimana..?" Albert datang.
__ADS_1
"Jangan dulu.. Kondisinya belum tepat.. Kalau dia sudah baikkan, baru kita bergerak.. Apalagi nanti dia mulai pengobatan, itu waktu yang paling tepat untuk bergerak.." Stuart membasahi bibirnya sendiri dengan lidanya.
"Ck.. Kamu juga kenapa.. Baru kali ini bisa ngeras sama perempuan, yang sudah punya suami lagi.. Banyak perempuan di luar sana. Mana ada kamu tertarik kayak gini.." Albert protes.
"Kamu gak akan paham.. Sudah sana." Usir Stuart pada Albert.
"Cih.. Jangan jangan malam itu kamu.." Albert menggoda
"Sudah diam. Gak ada sangkutanya sama kamu.. Malah itu untungkan kamu kan.. Sudah ikut aja yang aku minta.. Di jamin kamu juga senang.." Stuart langsung bangkit dari duduknya.
"Oke.. Awas aja kalau bohong.."
***
Bisma membuka matanya perlahan. Adel masih di sampingnya. Tertidur dengan pipi bertumpu di dangan Bisma.
Ingin rasanya jika Bisma memeliki kekuatan untuk menggendong Adel untuk membawanya berbaring di bantal empuk ini. Tapi jangankan menggendong Adel. Keseimbangan tubuh saja Bisma tak memilikinya.
"Adel..Del.." Panggil Bisma.
"Eemmm?" Adel membuka matanya dengan rasa berat yang ia rasakan di bagian pelupuk mata.
"Sini baring sama aku.. Kasian kamu di situ.." Bisma sangat mengharapkan Adel mau berbaring bersamanya.
"Aahh Gak apa apa kok.. Apa kamu haus..? Mau minum..? Lapar..?" Adel mengucek mata.
"Gak.. Aku cuma mau kamu bobo sama aku.. Mau ya.." Ajak Bisma lagi.
__ADS_1
"Eeemm tapi.." Adel ingin menolak.
"Aku mohon Adel.." Bisma sangat memelas.
"Oke oke.. Ayo.." Adel naik ke brankar Bisma.
"Tidurlah lagi.." Ajak Adel pada Bisma.
"Eemm ayo..." Bisma memeluk Adel. Adel yang masih mengantuk pun memejamkan matanya.
Satu minggu kemudian. Perceraian antara Debora dan Roy berlangsung. Debora duduk di temani Rena, dan menunggu putusan dari hakim.
"Gugatan perceraian dari pada Nyonya Kadet Debora seminggu yang lalu kami terima, dengan menimbangkan dari segala sisi dan fakta, maka kami menerima kasus perceraian ini. Menimbang dari keterangan Nyonya Debora dan bukti buktinya, dan dari keterangan saudara Roy Filip, keduanya mulai detik ini, telah bercerai.."
Setelah mendengar semua itu, ketukkan palu yang menyertai juga, Debora merasa lega, ia bisa bernafas lega dan lepas.
Roy tak bisa mengelak, Eyang memegangi bahu Roy untuk menguatkan. Roy di temani Eyang untuk hari ini.
Roy hanya mampu menganggukan kepalanya mengerti keadaanya sekarang. Sedangkan itu Rena tersenyum pada Debora. Menggenggam tangan Debora erat.
"Selamat datang di hidup baru nona Debora.." Bisik Rena.
"Ya.. Betul.." Debora setuju dengan yang Rena katakan.
Ini adalah hidup barunya. Ia harus menyambut bahagia langkah besar yang ia ambil ini.
Sedangkan itu Nur...
__ADS_1