AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 287


__ADS_3

Dion mengusap puncak kepala Debora.


"Karena aku mau habiskan waktu bersama kamu.." Dan setelah mengatakan itu Dion mencolek Dagu Debora.


"Hmmmm kamu ini.." Debora berbalik dan akhirnya ia melihat keberadaan Roy di depan pintunya.


"Roy..?" Debora menyelipkan anak rambutnya di telinganya.


"Selamat pagi.." Sapanya.


"Selamat pagi.." sapa balik Dion.


"Emmmm maaf kalaj aku ganggu kalian berdua.. Aku.."


"Gak apa apa.. Gak apa apa.. Aku keluar dulu ya.." Pamit Dion pada Debora.


"Emmm" Debora mengangguk.


Dion berlalu. Sempat ia berpapasan dengan Roy di depan pintu. Mata Roy menelisik tubuh Dion. Siapa tahu ada Jejak jejak secamnya.


"Kenapa kamu pagi pagi ke sini..?" Tanya Debora.


"Aku cuma kangen kamu.." Roy masuk ke dalam kamar Debora.


"Aku bawa buah buahan untuk kamu..".Roy menyerahkan bawaannya.

__ADS_1


"Eeemmm terimakasih.. Kamu juga harus sering belikan buah untuk Nur dan kandungannya."


"Ka.. Ka.. Kamu tahu dari mana?" Roy tak pernah mengatakan pada Debora kalau sekarang Nur sedang mengandung juga.


"Aku tahu dari Eyang.. Beberapa hari yang lalu Eyang ada hubungi aku.. Kami bicara banyak hal.. Dia ceritakan keadaan Nur sama aku.." Jelas Debora.


"Oooohhhh gitu.." Roy tidak terlalu peduli pada penjelasan Debora karena otaknya sedsng berputar putar sambil melirik, gelas, nampan, kotak biskuit, dan selimut yang tak rapi.


"Kamu dan.. Laki laki itu.. Dion.. Kalian tidur bersama..?" Roy langsung bertanya. Matanya sudah memerah karena pikirannya sendiri yang melihat selimut yang berantakan milik Debora.


"Hah..? Dion dan Aku..?" Debora menggelengkan kepalanya.


"Tapi.. Dia..?" Roy ingin sekali tahu.


"Semalam dia nginap di sini, karena sudah terlalu larut untuk dia pulang.. Makanya ada dia di sini.. Tapi dia gak tidur sama aku, dia tidur di kamar sebelah itu, tapi pas malam, aku mual mual. Dia datang bantu aku ambil biskuit dan buatkan aku susu.." Jelas Debora.


"Eeemmm baguslah kalau begitu.. Jaga jarak sama dia.." Tegas Roy lagi seolah laki laki yang sedang cemburu.


"Kenapa.. Dia baik kok.." Cicit Debora. Ia ingin melihat tanggapan Roy.


"Baik..? Kamu tahu dari mana..?" Nada bicara Roy naik.


"Ya.. Aku sudah sering sama dia belakangan ini.." Tambah Debora.


"Kamu baru kenal dia.. Kamu gak tahu dia itu, anak seorang pela*ur. Mana ada baiknya dia itu.. Kamu itu cuma terpesona sama dia aja.. Kamu mana tahu kan mungkin aja dia sering ke klub malam.. Bermain dengan para wanita malam di sana!" Debora tak suka Roy mengungkit ngungki asal usul Dion.

__ADS_1


"Lalu kamu..? Kamu juga gitu kok.. Dulu kamu sering ke klub, kamu juga saat sama aku dan Nur seperti di klub dengan Nur. Kalian putar lagu sama seperti di klub hampir tiap malam.. Aku gak sembarang bicara, karena aku liat sendiri pakai video ku.. Dan masalah aku sama Dion. Kamu gak usah khawatir.. Aku suka sama dia. Dia buat aku nyaman dan aman. Dan ya.. Bahkan semalam kami tidur bersama dan yang lebih serunya lagi kami...." Debora tak menyangka malah dirinya yang naik pitam.


"Kami bersenang senang.." Sambung Dion tiba tiba.


Debora mengangkat wajahnya dan melihat Dion di belakang Roy.


"Di.. Dion." Hati Debor Bergemuruh takut. Apa ia sudah salah bicara..?


"Benarkan sayang.. Selamam.. Sangat menyenangkan.." Dion masuk dan memeluk pinggang Debora.


Dion menyentuh perut buncit Debora dan mengelusnya.


"Dia menyetujuinya selamam.. Dia setuju ada yang jenguk dia.."


Debor diam seribu kata. Kebohongannya tadi malah berujung dirinya yang terjebak.


"Maaf ya.. Aku gak bisa menahan diri.. Aku sangat menginginkannya.." Cicit Dion lagi.


Debora membulatkan matanya. Semalam mereka tak melakukan apa apa. Tapi kenapa Dion memiliki cerita seperti itu.


Dion mengedipkan sebelah matanya oada Debora. Sebelah sudut bibir Debora naik.


"Jadi.. Gitu.." Roy melemah.


"Aku permisi.. Selamat untuk kalian.." Roy pergi dari hadapan Debora dan Dion.

__ADS_1


Debora...


__ADS_2