
Hery menemani Rena berjalan dark toko satu ke toko lainnya. Meski terus mendapat penolakkan Rena tak menyerah dan ada Hery juga yang akan menyemangatinya.
"Hah... Ren ini sudah jam makan siang, kita istirahat dulu ya sambil makan siang sekalian." Saran Hery.
"Oke juga deh... Ayok.." Rena langsung menyetujui ajakan Hery.
Hery memberhentikan mobilnya di depan Restoran berbintang. Rena dan Hery keluar dari dalan mobil.
Kini keduanya sedang memesan menu yang ada di restoran itu. Tak jauh dari mereka ada seorang pria juga yang sedang makan siang bersama saudaranya. Pria itu begitu mengenal Rena yang hari ini hanya mengenakan kemeja biri kotak kotak dan juga jeans birunya dan juga sepatu putih bersihnya.
Karna jarak yang tak terlalu jauh Pria itu bisa mendengar apa yang sedang di bicarakan keduanya itu.
"Her apa kira kira aku bisa berkerja di tempat ini gak ya... Kalau aku bisa kerja setidaknya seperti pelayan barusan aku bisa kok." Ucap Rena semangat.
"Iya Ren aku yakin kamu bisa tapi apa mereka mau dulu nerima kamu, nanti alasannya lagi gak butuh tenaga tambahan kayak yang udah udah tadi." Kata Hery yang tadinya berjas biru navi sekarang hanya mengenakan kaos dengan gambar tulisan Jepang di bajunya itu. Membuat Hery nampak seperti orang biasa juga, jika ia mengenakan jas pasti akan sedikit mencolok berdiri di samping Rena yabg sedang mencari Pekerjaan.
" Eh dia mau cari pekerjaan. Buat apa bukannya dia punya kartu Gold." Ucap Pria itu dari jauh.
"Kak... Kamu ngomong sama siapa sih?" Tanya saudaranya itu. Dengan cepat pria itu mengelengkan kepalanya.
"Habis ini kita kemana lagi Ren..?" Tanya Hery lagi l
pada Rena yang sedang menikmati makanannya yang sudah sampai di depan mereka.
"Eemm gak tahu juga Her.. Aku gak punya orang lain di kota ini. Teman aja sedikit.." keluh Rena pada Hery yang juga di dengar orang lain di sana.
Hery menatap Rena dengan sendu " Rena kamu pasti dapat pekerjaan yang kamu bisa. Aku mau aja bantu kamu masuk perusahaan Roy tapi takut Roynya gak setuju." Ucap Hery yang memang ada benarnya juga.
"oohh laki laki ini adalah Sahabat Roy Filip. Pantas saja seperti mengenalnya, tapi kenapa Rena ingin mencari pekerjaan, padahal Roy bisa saja memberikan pekerjaan atau pun usaha kecil untuk Rena. Ada apa sih sebenarnya?" Pria ini tadi benar benar penasaran dengan apa yang tengah Rena lakukan. Ingin rasanya ia langsung menghampiri dan menanyakan langsung pada Rena tapi kembali pria itu berpikir, laki laki yang sedang bersama Rena adalah Sahabat Roy Filip, jika ia salah langkah maka identitasnya akan terbongkar. Dia tidak ingin Rena mengetahui siapa sebenarnya dirinya.
"Iya Her aku paham kok... Dengan kamu ikut bantu aku cari kerjaan aja sudah sangat bersyukur..."
Seorang pelayan mendatangi Rena dan Hery lagi. "Maaf tuan nona, apa masih ada yang ingin di pesan atau masih ada yang kurang?" Tanya si pelayan.
__ADS_1
"Eemm aku ingin es krim coklatnya ya.." Ucap Rena lagi.
"Saya mau coba Es kopinya ini." Hery juga menambah pesanannya.
"Maaf mbak... Di restoran ini masih cari pekerja baru lagikah atau siapa tahu ada yang lagi butuh tenaga tambahan gitu?" Tanya Rena, sedari tadi ia sungguh ingin menanyakannya.
"Aduh maaf ya mbak belum ada, biasanya kalau ada itu menjelang tahun baru banyak cari tenaga, begitu..." Jelas Pelayan itu pada Rena.
"Oohh gitu ya... Makasih ya infonya." Ucap Rena dengan sopan.
"Rena apa sebenarnya yang terjadi... Apa kamu dalam kesulitan sekarang?" Pria itu meromta ronta dalam hatinya ingin tahu dan ikut membantu Rena juga.
"Ooohhh Heryyyy.... Bagaimana ini... Aku masih belum dapat pekerjaan..." Rengek Rena rasanya ingin ia menyerah.
"Tenanglah Rena pasti ada kok..." Hibur Hery pada Rena. Tak lama pun Pesanan tambahan Rena dan Hery tiba.
"Nah.. Ini Es krimmu.. Biar hati dan pikiranmu tenang dulu... Coba deh..." Hery menyodorkan pesanan Rena itu kedepan Rena langsung.
"Benar... Es krim selalu bisa membuatku tenang.." Rena mulai melahap Es krimnya itu. Entah karna porsinya kecil atau Rena memang sngat doyan memakan es krim itu.
Dan ya Ren dan Hery mengistirahatkan diri dengan es krim di depan mereka. Dari jauh juga pria itu tersenyum melihat Rena dan Hery yang sedang memakan es krim dengan tawa renyah mereka. Layaknya teman yang sangat akrab.
Tanpa Rena sadari sedari tadi gantungan di ponselnya berkedip kedip menandakan pasangannya ada di dekatnya.
Begitu pula ponsel Dion yang sedari tadi gantungan lucu itu menyala, berkedip kedip. Ya pria yang sangat penasaran dengan apa yang sedang Rena dan Hery lakukan hari ini. Dan untuk apa Rena mencari pekerjaan jika dirinya memiliki kartu Gold Roy. Sangat aneh pikirnya.
"Apa mungkin Roy Filip telah mencampakanmu Rena...." Hanya bisa terus menebak nebak apa yang terjadi.
***
Roy dan Debora sudah sampai di kediaman Eyang Tika, yaitu Eyangnya Roy.
Tampak wajah bahagia Debora sangat terpancar Debora langsung berlari dan memeluk Eyang Tika dengan sangat erat. Berterima kasih atas saran yang sangat bermutunya itu dan membuat Debora dan Roy bisa kembali mesra seperti saat ini.
__ADS_1
Roy juga menghampiri kedua wanita kesayangannya itu yang sedang berpelukkan, Debora melepas peluknya dan Roy lagi yang memeluk Eyangnya yang sudah keriput di makan usianya itu.
"Eyang... Aku sangat merindukanmu..." ucap Roy saat masih memeluk tubuh Eyangnya.
"Iya makanya Eyang suruh kalian berdua mengunjungi Eyangmu yang sudah payah ini." Ucap Eyang Tika pada Roy dan mencubit pipi cucunya itu.
"Iya Eyang makanya ini kami datang..." Ucap Roy tak mau kalah juga.
"Sudah sudah... Ini sudah hampir lewat jam makan siang, kita makan siang dulu ya.... Lama sekali Eyang tidak makan siang bersama kalian lagi. Ayok cepat..." Eyang menenteng cucu cucunya itu.
Makan siang yang penuh canda dan tawa Roy bersama Eyang dan tak lupa sang istri membuat Roy lupa akan segalanya. Semua penat pekerjaannya dan stresnya hilang.
Berkumpul seperti ini sangat menyenangkan menurutnya. Ia tidak tahu kedepanya apa yang akan terjadi. Debora yang juga sedang sangat bahagia kini mulai menyusun rencana untuk memproduksi anaknya dan juga Roy. Debora benar benar sudah tidak sabar. Tapi melihat sejauh ini rencananya berjalan dengan baik Debora tak khawatir sama sekali. Tinggal menunggu jam mainnya. Dan Roy sama sekai tidak mengetahui apa yang tengah Hery dan Rena lakukan di luar sana, mencari ke sana ke sini, menanyakan kepada satu orang ke orang lainnya. Tapi hasilnya masih nihil.
***
Dion terus mengikuti Hery dan juga Rena kemana pun mereka pergi. Adiknya yaitu Dario sampai sampai memilih untuk ikut taxi saja, Dario tidak ingin mengikuti kakaknya yang mengikuti mobil di depannya yang entah apa faedah untuknya. Maka Dario memilih untuk naik taxi saja dan kembali ke rumah.
Begitu pula dengan Hery dan Rena, sepertinya sudah lelah berkeliling. Keduanya beristirahat di sebuah taman kecil di kota itu. Dion pun milih untuk mendengarkan dari jauh apa yang sedang Rena dan Hery bicarakan.
"Her... Untuk hari ini sudah dulu deh... Aku udah capek banget.." Keluh Rena yang nampak lesu karna perjalanannya dan juga penolakannya di berbagai tempat ia melamar pekerjaan.
"Iya Ren... Lebih baik kamu istirahat dulu. Pasti kamu capek banget nih... Kelihatan banget..." Ucap Hery menatap Rena yag sangat tampak kelelahan.
"Iya aku lanjut besok aja. Siapa tahu besok aku dapat pekerjaannya." Hibur Rena pada dirinya sendiri.
"Iya Ren... Tapi maaf ya... Aku mungkin gak bisa temani kamu tidak besok. Aku harus turun ke kantor gantiin tuan Roy yang pergi cuti ini." Jujur Hery pada Rena, sejujurnya Hery masih ingin menemani Rena mencari pekerjaannya tapi Hery juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Iya Her... Aku paham kok... Lanjut aja kerjaanmu, aku bisa kok.. Dan makasih untuk hari ini udah bantu aku cari kerja" ucap Rena masih tersenyum pada Hery dan tak lupa berterima kasih.
"Iya tenang aja, aku sudah anggap kamu temanku juga seperti Roy. Pastilah aku bantuin kamu. Asal kamu jangan sungkan aja minta tolong sama aku." Ucap Hery. Karna Hery yakin Rena pasti akan membutuhkannya lagi. Tak ingin Rena kesulitan atau merasa sungkan dengannya maka Hery memulai pertemanannya ini dengan Rena dari malam di mana Hery mengirimkan Dompet berisi uang itu untuk Rena.
Rena pun demikian, ia sangat senang mendapatkan Teman seperti Hery yang siap membantunya seperti ini. Tapi seorang dari kejauhan kini merasa lega.
__ADS_1
"Rupanya mereka hanya berteman biasa. Tidak lebih. Tapi kenapa dengan Rena yang nekad mencari pekerjaan. Pasti.. Pasti Roy mencampakannya." Dion menganguk anggukan kepalanya mengerti.
💖💖💖💖