AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 258


__ADS_3

Bisma menoleh ke arah Adel. "Eehh eeehh...?" Bisma pun terkejut Adel menangkupnya dan menatap Bisma teliti.


"Kamu Bisma kan..?" Adel mencurigai Laki laki di sampinnya ini bukanlah Bismanya biasa.


"Iya.. Ini aku Bisma.. Adel... Eeemmmphhh.."


Adel mengerakkan kepala Bisma ke mana mana.


"Kamu kayak bukan Bisma aku.." protes Adel.


"Loh memangnya aku kayak apa lagi..?" Bisma melepas tangan Adel dan menahannya.


"Bisma mu seperti apa..?" Mata Adel dan mata Bisma bertemu, tak ada kata takut Adel untuk menatap mata itu dan sebaliknya juga.


"Bismaku itu, lucu, humoris, pengganggu, nakal.. Banyak omong.. Cerewet.. Ini? Cemburuan..?" Adel menaikkan satu alisnya.


Bisma terdiam menatap Adel lamat lamat. Ia menelan salivanya perlahan.


"Apa aku beda gitu..?" Bisma menjauhkan tubuhnya dari Adel.


"Gak juga sih.. Mungkin perangai baru.." Cicit.


"Aaaa... Ampun.. Ampun.. Bisma.. Aaaaaa.. Ahaaaahahahahaa.." Adel merasa geli karna pingganya di gekitikki Bisma. Sampai sampai Adel berbaring di rumput hijau itu.


"Ahaaahhhh.. Ampun Bisma.. Salah aku apa..?" Bisma menghentikan aksinya tapi mendengar itu Bisma melotot lagi


"Tanya lagi. Aku tuh gak nakal, aku gak pengganggu, aku gak cerewet, aku gak banyak omong.." Cicit Bisma.


"Laaahh itu barusan..!"


"Del... Mau tekencing di celana kah..?" Bisma menggerakkan beberapa jarinya mengancam dan mendekatkan ke tubuh Adel.


"Ampun.. Ampun.. Ampun.." Adel mencolek dan memainkan dagu Bisma.


"Awas kamu..!"


.


.

__ADS_1


.


.


.


"Romantisnya mereka.." Cicit Albert.


"Diam..!" Stuart mengepal tangannya.


"Liat.. Ck ck ck.. Adel sentuh dagu Bisma.. Wahh coba dia sentuh dagumu.. Pasti lebih enak.. Dagumu kan s*ksi, ada belahannya.." Albert mencolek dagu Stuart.


"Ck.." Stuart menepis tangan Albert.


"Adel milikku dan aku miliknya.. Kalau naru pegang dagu bukanlah apa apa.. Adel boleh pegang semua yang aku punya.." Stuart menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


.


.


.


.


.


"Ya.. Dia di sana.. Biasanya tiap hari minggu ia ke sana untuk menghibur dan membantu sebisanya. Temui aja dia.. Sekalian kamu bawa ini.. Gantikan punya Rena dulu.. Aku gak mau dia ingat ingat Rena aku lagi.." Hery menitipkan amplop coklat pada Debora.


"Jadi betul dulu Rena pernah dekat sama Dion..?" Debora menganga. Hery menganggukkan kepalanya.


"Oohhh.." Debora mengangguk.


"Baiklah besok aku cari dia, aku juga pinjam mobil dan mang Adi kamu ya.." Hery mengangguk lagi sambil tersenyum.


"Mungkin aja dia jodoh kamu Debora.. Selamat mencoba dan bawa jauh laki laki burung pipit itu.." Gumam hati Hery.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Pagi pagi Debora sudah nerangkat dengan sopir Hery biasanya. Ada satu tempat tujuannya hari ini.


Jantung Debora sudah berdetak tak menentu apalagi saat ia mengingat saat saat bersama Dion.


Dion adalah laki laki yang pernah berteman bahkan mencoba mendekati Rena, tapi mungkin karna bukan jodoh maka Rena dan Dion tak bertemu lagi.


Mobil yang di naiki Debora tiba di tempat yang tak biasa. Banyak anak anak yang berlarian, laki laki atau perempuan bersama ke sana dan ke sini.


"Apa dia ada di sini..?" Debora memegangi dadanya.


"Eehh suara apa itu..?" Debora mendengar suara yang indah dari dalam sana.


Debora masuk dan mengikut anak anak yang berlari masuk juga.


"Popsy..!"


"Popsy.. Nyanyi Popsy.." Para anak anak berteriak dan bersorak.


"Buat hidup ku lebih berarti... Cintamu.. Senyaman mentari pagi.. Seperti pelangi selalu ku nanti.." Suara merdu itu sedikit menghilang seiring pandangannya menatap wanita yang tengah masuk menuju mereka.


"Popsy.. Kok berhenti.. Lagu nya bagus tadi.." cicit para anak anak yang manis itu.


"Maaf.. Tadi Popsy grogi.. Ada bidadari datang ke sini.." Dion melirik Debora lagi.


"Waaahhh Iya memang cantik." Anak anak itu pun menoleh ke arah pandangan Dion.


Debora yang jadinya salah tingkah. "Gabung Bidadari... Ayo sini.." Anak anak lain pun bersorak.


"Sini.." Panggil Dion dan menepuk kursi di sampingnya.


"Aku...?" Debora menunjuk dirinya sendiri.


"Iya.. Kamu bidadari.." Dion mengedipkan mata pada Debora.

__ADS_1


"Ayo ayo ayo ayo ayo..!" Semua anak anak itu bersorak setuju dengan yang di katakan Dion.


Debora.


__ADS_2