
Dion tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati kedua wanita itu.
"Mereka kan sudah menikah.. Tapi kehidupan mereka baru di mulai.. Jadi apa salahnya mereka mengulang pernikahan.." Ucapan Dion semakin membuat Debora dan Rena bingung.
"Coba ceritakan..?" Debora melipat tangannya di dada.
"Gini.. Tadi.. Hery minta tolong aku untuk buat persiapan, untuk merayakan Bisma dan Adel yang sudah akan memulai hidup baru. Aku awalnya juga pikir, paling aku pesan makanan dari luar, hias hias ruangan.. Tapi.. Aku seketika dapat ide. Aku mau mereka betul betul merasa baru memulai hidup. Kita akan ulang lagi pernikahan yang kemarin hanya sekedar pengucapan janji antara kedua mempelai. Tapi yang malam ini.. Yang akan kita buat ini adalah pernikahan yang sesungguhnya untuk mereka.
"Ini.." Dion mengeluarkan kotak kue yang sangat besar.
"Waahh.." Debora dan Rena bersamaan lagi.
"Ini kue pernikahan mereka, ini.. Gelas yang akan mereka pakai untuk minum berdua, ini.. Aku dapat ini.. Eehh aku lupa.. Belum.. Hihihi..." Dion mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.
"Untuk apa kotak cincinnya..?" Rena melihat dengan jelas itu adalah kotak cincin.
"Aku mau Bisma dan istrinya nanti pakaikan masing masing cincin lagi.. Aku minta tolong Hery untuk ambilkan cincin mereka berdua. Aku gak enak kalau aku ganti cincinnya atau curi cincin mereka dulu.. Tapi aku yakin Hery punya ide bagus.." Dion mengangguk yakin.
"Aku masih gak paham.." Cicit Debora.
"Hmmmm ya. . Gak apa apa tunggu aja waktu mainnya.. Kamu pasti paham Bora.. Sekarang aku punya tugas berat.. Dan sebelum, maaf nyonya nyonya.. Aku harus acak acak rumah kalian.." Cicit Dion dengan senyum manis.
"Boleh.. Kami bisa bantu apa..?" Debora mengangguk setuju dengan ucapan Rena.
"Kalian..? Kalian bantu aku.. Di situ..!" Dion menarik tangan Debora dan Rena.
__ADS_1
"Di sini..?" Keduanya bingung.
"Ya di sini.. Duduk.. Oohh hai Baby..?" Dion melihat Alf dan Elf bersama para bibinya.
"Ya kalian di sini bersama Baby baby imut itu.. Dan tenang.." Titah Dion. Dion membawa Debora dan Rena ke sofa yang sudah di pindahkan anak buahnya dan meminta mereka duduk di sana dengan tenang.
"Ck.." Decak keduanya lagi.
"Maaf tapi hanya itu yang patut para bumil lakukan saat ini." Dion melambaikan tangannya dan berlalu bergabung dengan anak buahnya mengerjakan tugas.
Satu sampai dua jam berlalu, barulah semua tugas yang di katakan Dion tadi selesai. Debora dan Rena sangat kagumĀ dengan hiasan hiasan yang di pasang Dion.
"Keren kan.. Aku jamin.. Mereka berdua juga suka hadiah ku yang lainnya.." Dion berkacak pinggang dengan bangga.
"Iya.. Masih ada yang lain.." Dion mengedipkan matanya pada Debora.
"Eemmm segar.." Dion meneguk air minum yang Debora bawakan untuknya.
Dion sungguh sungguh bekerja dan membuat dirinya berkeringat hingga membasahi bajunya, wajahnya, lehernya, dadanya.
Pamandangan kejam untuk setiap wanita yang memandang Dion. Apalagi wajah tampan dan imutnya itu.
Rena senyum senyum sendiri ketika melihat keduanya bersama. Rena sangat mengharapkan keduanya juga bisa berbahagia.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sudah tiba waktunya Adel untuk ke kantor Bisma. Menjemputnya dan keduanya berjannji untuk berbelanja bersama.
Adel berangkat tepat pukul 12 siang. Ssat tiba di kantor Bisma harapannya Bisma sudah selesai makan siang dan bisa pergi dengannya.
Sementara itu Bisma sedang bersama Hery. Hery meminta sesuatu pada Bisma.
"Apa aku harus membelinya... Untuk apa.. Aku punya kok di rumah.."
"Bisma.. Ini kan hubungan baru kalian jadi karena semuanya serba baru jadi apa salahnya kamu beli cincin baru untuk Adel.. Gak salah kan.. Malah jadinya romantis gitu.. Apalagi kalian mau ke undangan itu.. Pastinya kalian harus serasi kan..?!" Hery memberi saran.
Bisma berpikir sejenak, yang di katakan Hery ada benarnya juga. Tidak ada salahnya untuk membelikan istrinya perhiasan baru apalagi sepasang untuknya dan Adel.
Bisma..
maaf slow up. Karena di tempat othor lagi jelek banget sinyalnya.. maaf ya pembaca setia..
__ADS_1