
Dion hanya memarmerkan deretan gigi putih dan rapinya.
"Itu.."
Flashback on
Debora turun dari mobil Dion dan terlebih dahulu masuk ke tempat makan itu.
Dion melirik paperbag Debora di kursi penumpang di belakangnya.
"Aku tahu.. Tapi.. Ya sudahlah.." Dion menulis pesan singkat di sebuah kertas berwarna hijau, kertas notebok biasanya yang dapat di tempel.
Dion pun menempelkan kertas itu di salah satu baju bayi. Entah Debora akan melihatnya atau tidak yang penting ia sudah memberi tahu yang sebenarnya tentang siapa dirinya.
"Aku yakin kalau dia liat.. Gak lama lagi kita pasti akan ketemu lagi, kalau dia gak liat.. Mungkin butuh bertahun tahun lagi untuk ketemu.."
Setelah itu barulah Dion menyusul Debora dan Debora sudah memesan beberapa menu kesukaannya.
Dan saat Debora memasuki area panti, Dion sudah bisa tahu apa maksud Debora datang menemuinya.
Flashback Off.
"Ya ampun Dion. Kamu buat aku pusing.. Aku sampai gak bisa tidur di malamnya karna mikirin ini belanjaanku, aku sengaja pilihin kamu baju dan perlengkapan yang berkualitas dan kamu main lempar lagi ke aku..?" Debora mengeluarkan unek uneknya.
"Iya.. Aku cuma mau bantu.. Senang liat kamu pilih pilih barang yang bagus untuk orang lain tapi, yang sakitnya, aku liat kamu pilih barang yang kurang bagus untuk calon anak kamu ini.. Aku ya gak terima donk.. Makanya aku masukkan semua belanjaan yang kamu pilihkan untuk aku.. Lagian aku cuma bohong kok.. Gak ada saudara aku yang lagi hamil atau punya anak bayi.." Dion menggaruk pelipisnya.
"Dion.. Kamu..?" Debora lebih terkejut dengan kenyataan yang di ucapkan Dion barusan.
__ADS_1
"Iya.. Maaf ya.." Dion meminta maaf dengan sangat tulus.
"Ck.." Debora ingin marah tapi rasanya ia tak kuasa memarahi laki laki manis di depannya ini.
"Eemmm terus ini yang dari Hery.." Dion menatap amplop coklat di tangannya.
"Ini.. Punya aku juga.. Sudah ya aku mau pulang dulu.." Pamit Debora dan hendak bangun dari duduknya.
"Eeehh mau ke mana..? Jangan pergilah.. Kita belum makan siang.."Dion berdiri di depan Debora dan menghadangnya.
"Issshhh.. Sudahlah Dion.." Pinta Debora.
"Ayo.. Sekali aja ya.. Mau..? Kita makan sama Mereka.." Dion menunjuk anak anak di belakang mereka.
Ting ting ting..
"Ya Popsy.." Semua anak anak itu tiba tiba berbaris.
"Eehhh?" Debora heran melihatnya.
"Mereka berbaris untuk pergi cuci tangan, ada 5 tempat cuci tangan.. Mereka sudah di latih untuk barbaris dan menuju masing masing keran cuci tangan. Dalam waktu 20 sampai 30 menit mereka sudah kumpul di ruang makan. Dan bell barusan tadi adalah bell untuk cuci tangan dan bersiap makan." Jelas Dion dan tanpa izin Debora lagi Dion menggandengnya dan menarik Debora bersamanya.
"Ya ampun laki laki ini..?" Debora sedikit terkejut.
"Kita juga harus cuci tangan lagi.." Ajaknya.
Debora menatap Dion sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
"Bisma ini undangan kapan..?" Hery hari ini turun ke kantor seperti biasanya dengan janji akan di antarkan Rena makan siang.
"Oohh itu.. Entah mungkin sore kemarin datang. Aku kemarin juga gak turun karna rasa aku kurang baik.. Jadi sore aku pergi ke psikiaterku." Jelas Bisma lagi.
Hery sedang di ruangan Bisma yang kini adalah Asisten Hery. Jika Tak ada Hery di kantor maka Bisma yang harus ambil alih pekerjaan Hery di Kantor.
Ada sebuah undangan yang di tujukan untuk Hery. Dengan cepat Hery menggeleng tak yakin dengan undangan itu.
"Kenapa..? Ada yang salah..?" Bisma menghampiri Hery yang sedang memegangi undangan itu.
"Aku gak mungkin datang. Aku gak bisa datang, pasti di sana ada banyak media yang menyorot, belum lagi aku harus bawa Rena.. Gak gak.. Aku gak bisa pergi.. Tapi kayaknya kamu sama Adel bisa pergi." Hery mengangkat alisnya beberapa kali di depan Bisma.
"Hah.. Aku juga.." Bisma menggeleng.
"Ayolah Bisma.. Ini Hm, besok lusa.. Bisalah kalian pergi anggap aja lagi kencan..: Hery menyiku Bisma beberapa kali.
Bisma..
__ADS_1