AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 124


__ADS_3

"Sayang.. Kamu tahu yang paling menggoda di kamu itu apa?" Rena mengelus dada Hery dengan satu jarinya.


"Apa sayang.. Yang mana?" Hery pun sama nakalnya.


"Aku suka bibir kamu, aku suka banget, terus ada tahi lalatnya gini tu keliatannya imut gitu.." Rena menyentuh Bibir Hery.


"Makanya kalau pagi pagi senang natap aku gitu ya.. Pasti liatin bibir sama tahi lalat aku.." Hery menganggat alisnya beberapa kali.


"Isss sok tahu aaah.." Rena tak mengakuinya.


"Iya kok aku liat, aku kan bangun duluan dari kamu, kamu bangun aku pura pura tidur..." Hery menjelerkan lidahnya


"Iiisssshhh.." Rena tertangkap basah.


"Ya aku gak larang kok kamu lirik lirik, sentuh juga gak apa.." Hery memperbaiki rambut atasnya.


"Aaaahhh Gayanya." Rena sangat gemas melihat tingkah Hery.


"Sayang tadi aku minta loooo.." Hery tetap menagih.


"Gak nanti. Malam.." Tolak Rena.


"Aaahh sayang.. Eeemm tapi oke juga sih.. Nanti malam aku punya hadiah untuk kamu sayang..." Hery baru ingat ia punya hadiah istimewa untuk Rena malam ini.


"Apa?" Rena, sangat penasaran.


"Ya tunggu waktunyalah.. Sabar ya.. Nanti malam khusus untuk kamu yang tercinta." Hery mencolek dagu Rena.


"Heeem ya lah itu.. Aku tunggu.."


***


"Roy apa masih sakit.." Eyang datang dan mengecek keadaan Roy.


Debora sedang bersama Roy di dalam kamar, Roy masih merasakan sakit pada Giginya. Beberapa kali Rpy meringis.


Debora mengompres pipi Roy dengan handuk dingin dan batu Es. Berharap rasa sakit yang Roy rasakan mereda.


"Masih ada rasanya Eyang.. Tapi udah mendingan." Jawab Roy pelan.


"Heemm.. Debora, Roy sudah minum obatkah?" Tany Eyang pada Debora.


"Ya Eyang sudah, walaupun cuma pereda Nyeri. Sebentar lagi juga bubur Roy matang, nanti Debora suapi Roy.." Ucap Debora.

__ADS_1


"Ya baguslah.. Habis makan buburnya istirahat ya Roy.." saran Eyang.


"Debora Eyang titip Roy ya.. Eyang yakin kamu bisa rawat Roy dengan baik." Eyang juga memberi semangat pada Debora secara tak langsung.


"Ya Eyang" Debora juga siap temani Rpy dalam sakit giginya ini.


Debora menganti dan mendinginkan handuk untuk Roy. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamar Debora.


"Itu pasti Bibi antar bubur untuk kamu Roy.. Tunggu ya.."


Debora bergegas ke pintu dan benar yang ia duga, itu adalah Bi Mila yang membawa bubur untuk Roy. Karna giginya sakit jadi Roy tidak bisa banyak mengunyah makanan, maka Eyang menyarankan Bi Mila untuk membuatkan Roy bubur saja.


"Roy ini buburnya, mau kan.. Aku suapi ya.." Debora meniup niup sesedok bubur.


"Eeemm aku gak mau makan banyak ya.." Roy mengingatkan dari awal.


"Ya coba dulu.." Debora menyuapkan Roy.


"Enak..?" Tanya Debora. Rpy terus menatapnya.


"Eeemm lumayanlah.." Bubur yang lembut bisa langsung di telan Roy dengan mudah.


"Lagi ya.." Debora menyuapkan Satu sendok lagi.


Roy memakan semua bubur yang di suapi Debora, bukan hanya makan yang Debora suapi tapi minum juga dengan bantuan Debora. Debora sangat senang melakukannya Dan Roy sangat menikmati pelayanan Debora padanya.


"Udah gak terlalu sakit.. Aku baik baik aja kok.." Roy merasa lebih baik.


"Eeemm kalau kamu sudah baikkan, ada yang mau aku tanyakan.." Ungkap Debora.


"Apa..?" Roy memperbaiki posisi duduknya.


"Eeemm itu kartu ATM aku kok udah bisa di pake..?" Sehabis kepulangan ia dari minimarket ia semakin bingung, kenapa kartu ATMnya bisa di pakai lagi.


"Ya kan aku sudah aktifkan lagi kartu kamu.." Roy menjawab seadanya.


"Ooohhh pantas aja, tadi pas aku di minimarket aku kan beli pudding sama bahan es krim coklat, durian, vanila, kacang, strawbery, nah aku lupa bawa dompet, aku cuma bawa tas sama kartu ATM di kantung kecilnya. Aku gak bisa bayar pake uang kas, jadi aku coba bayar pake Kartu ATM, eh bisa.. Aku kaget banget." cerita Debora.


"Ya aku sudah aktifkan kartu ATM kamu beberapa hari yang lalu. Jadi kamu bisa pake lagi itu, tapi pake yang betul, beli kebutuhan aja, keinginan jangan dulu.. Tanya aku dulu kalau mau belinya.. Biar gimana pun aku masih suami kamu..." Ucap Roy juga.


Hati Debora tersentuh mendengarnya. "Biar gimana pun aku masih suami kamu." Ucapan itu terus menggema di pendengaran Debora.


"Makasih Roy..." Debora ingin menangis saat itu juga, ia merasa seperti sudah mendapat maaf dari Roy.

__ADS_1


"Kamu kenapa..?" Roy menyadari perubahan suara Debora.


"Gak... Gak apa apa kok." Debora mengeleng dengan cepat.


"Aku tahu, dan kamu juga tahu, hubungan kita berdua bertahun yang lalu kayak apa.. Susahnya, sedihnya, sakitnya, kamu juga tahu rasanya ketika aku balas kamu juga. Dan sekarang Hery yang tanggung jawab ulah yang aku buat, kamu... Kamu kehilangan bayi kamu dengan rasa sakit yang sangat kan.. Kita sudah dapat ganjarannya masing masing.. Aku harap kita berdua mawas diri dan bisa koreksi diri masing masing... Yang kamu lakukan sudah bagus, kamu belajar dari orang yang baru, tapi aku... Aku belum tentu bisa rubah diri aku sendiri, rasa takut di hianati aku masih menganggu.. Aku harap kamu bisa paham.." Debora meneteskan airmatanya.


"Roy..." Debora menangis memeluk Roy.


"Maaf Roy... Aku minta maaf..." Tangisnya.


"Sudah..." Roy mengerti keadaan Debora.


"Aku... Aku pasti bisa Roy, aku bisa jadi istri yang baik untuk kamu.. Aku janji..." Debora terus memeluk tubuh Roy kencang.


"Ya.. Aku usahakan juga terima kamu Debora.. Tapi aku juga gak janji juga.." Roy memegangi lengan Debora.


"Aku janji Roy.. Aku janji..." Debora sangat yakin.


Roy menghela nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya.


"Makasih Roy.." Debora memeluk Roy lagi.


Tidak ada rasa seperti dulu saat Debora memeluk erat Roy, rasanya seperti tidak terjadi apapun dengan Roy.


***


"Papamu mana ya sayang.. Kok Mama gak liat..?" Rena berkeliling sendiri mencari Hery.


"Nyonya...?" Panggil seorang pelayan laki laki vila itu.


"Tuan Hery sudah menunggu anda." Tambahnya lagi.


"Eeemm Tuan Herynya di mana ya..?" Rena ingin mencarinya sendiri.


"Maaf Nyonya, tapi ini perintah tuan Hery." Tambah sang pelayan ini.


"Oohh ya.." Mau tak mau Rena mengikuti si pelayan.


Rasa penasaran Rena semakin menjadi, ketika ia di bawa ke teras yang luas di vila itu, langit malam yang cerah malam ini juga terlihat indah dari teras ini, belum lagi udara yang segar dan asri sangat nyaman.


"Silahkan Nyonya lanjut sendiri sampai di tempat yang terang itu." Tunjuk si pelayan.


Rena lanjut seorang diri. Saat tiba di tempat yang di maksud pelayan, Rena sangat terkejut.

__ADS_1


"He... Hery..?" Rena menganga tak percaya.


Off dulu kawan.. Like dan komen ya.. Rate bintang dan favoritkan


__ADS_2