AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 74


__ADS_3

Rena menarik nafasnya dalam dalam. Roy mendekati Rena lagi dan memegangi tangannya.


"Rena, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku tahu yang di berikan Debora ke kamu tadi pagi itu benar benar sakit untuk kamu. Aku juga gak tahu kenapa aku bisa gak terkendali kayak gitu. Tapi percayalah Rena aku tetap cinta sama kamu dan di banding cinta aku sama Debora ya lebih besar cintaku untuk kamu Rena." Rayu Roy.


Rena menutup matanya seorang kalau ia bisa ia juga ingin menutup pendengarannya. Sedangkan Hery sebenarnya tak ingin melihat adegan ini. Karna ia tahu Rena juga masih mencintai Roy maka cepat atau lambat Rena pasti akan memaafkan Roy.


"Roy kamu tahu kan aku sangat percaya sama kamu... Tapi kamu..." Sisi sedih Rena sekarang yang mendominasi.


Memang ibu ibu hamil itu aneh aneh ya.. Kadang marah marah, kadang manja manja, kadang nangis nangis, semua itu karna hormon yang ada saat sang wanita mengandung. Dulu author juga pernah mengandung. Dan sumpah, beda banget. Dulu itu waktu mengandung, author gak peduli apa apa, gak mudah nangis apalagi cengeng, dan bahkan pas mantan pacar dari suami auhtor telpon sama suami Author di depan mata sendiri, author gak peduli. Dan itu tuh jelas banget kalau itu cewek cari simpati sama suami author siapa tahu suami author masih ada perasaan sama dia, karna dia waktu itu di tinggal suaminya padahal anaknya baru aja sebulan lahir, dan waktu itu author sama sekali gak peduli, gak ada rasa cemburu atau apa pun. Marah gak, sedih gak. Ya gak tahu juga ya kok rasanya kayak gitu. Tapi puji Tuhan, suami aku setia sama aku. Kalau sekarang itu cewek telpon, beeeeehhhh... Perang dunia ketiga itu..


Eh malah curhat... Dah lah...


Balik ke cerita.. Selamat membaca..


"Rena aku mohon maafkan aku. Aku janji itu gak akan terjadi lagi. Kasih aku kesempatan sekali lagi untuk perbaiki semuanya.." Pinta Roy penuh memelas.


"Roy aku mau kamu pergi dari hadapan aku sekarang juga. Aku gak mau ketemu kamu.." Rena berbalik dan masuk ke kamarnya lalu menguncinya.


"Hery tolong aku..." Roy mencari keberadaan Hery di belakangnya tadi.


Tidak ada Hery di belakangnya, Roy mencarinya dan ternyata Hery berada di meja di dapur sedang obati lukanya dengan obat obatan yang ada di dalam kotak P3K.


"Hery...?" Roy terkejut.


"Epe..?" Jawab Hery sambil mengoles oleskan obat luka di sudut bibirnya sendiri dan itu membuat pengucapannya aneh terdengar.


"Hery maafkan aku... Kamu..." Roy malu melanjutkn ucapannya.


"Udah gak usah di pekir... Aku gak papa.. Kamu itu memang ceroboh.." Ucap Hery lagi sambil terus melakukan pengobatannya.


Rena mendengar semuanya, rupanya ia juga khawatir dengan Hery tadi Rena juga mendengar Roy mencari Hery dan Renab baru ingat akan Hery yang babak beluk karna Roy mengira Hery tidak menjaga dirinya dengan baik. Saat Renam membuka pintu ia melihat Roy ysng juga menemukan Hery.


Betapa baiknya Hery mau memaafkan Roy padahal yang di lakukan Roy tadi sangat fatal dengan melukai sahabatnya sendiri.


"Persahabatan mereka memang beda ya nak..." Lirih Rena pada kandungannya.


"Hery sini aku bantu.." Roy mengambil kapas Hery dan dirinya yang mengoleskan obat itu pada Bibir Hery.

__ADS_1


***


Debora dan Eyang kini sedang berada di rumah sakit, Eyang meminta Debora menemaninya. Mau tak mau Debora ikut. Karna sebenarnya Debora punya rencana baru lagi.


"Eyang sudah enakkan?" Debora pura pura perhatian pada Eyang.


"Iya Debora sayang.. Orang cuma di ambil darah dikit kok.." Eyang tadi melakukan cek darah rutinnya untuk mengetahui penyakit penyakit yang bersarang di dalam diri tuanya ini.


"Oohh baguslah Eyang.. Eh itu kayak Hery...?" Ucap Debora tiba tiba menunjuk pria berjas tak jauh dari mereka."


"Hah..?" Eyang pun tertipu.


"Eeh ternyata bukan Debora salah Liat Eyang..." Kilah Debora lagi.


"Isss kamu ini belum tua kayak Eyang kok bisa salah liat orang." Eyang mengeleng gelengkan kepalanya.


"Iya Eyang, sebenarnya Debora memang kepikiran Hery terus semejak Debora tahu kalau Hery punya pacar yang lagi hamil juga Eyang..." Mulai melancarkan rencananya.


"Eehhh iya ya.. Hery.. Ya ampun, tapi gimana ceweknya ya.. Apa baik baik aja ya.. Kamu pernah ketemu pacarnya Hery itu kah Bora..?" Eyang mulai penasaran.


"Iya Eyang aku pernah ketwmu pacarnya itu, tapi aku gak nyangka kalau Hery senekad itu sampai kasih hamil itu Cewek Eyang." Semakin mengompori sang Eyang.


"Iya Debora Eyang setuju dengan yang kamu bilang ini. Kayaknya Eyang bakal minta Hery untuk nikah sama pacarnya itu. Hery juga biasanya gak akan nolak permintaan Eyang. Liat aja nanti... Kasian kan anak yang di kandung itu..." Eyang mengikut apa kemauan Debora.


Jauh di lubuk hati Debora, ia kegirangan mendengar ucapan Eyang itu. Rupanya benar benar ampuh rencananya ini.


"Iya Eyang setelah dari rumah sakit ini nanti kita langsung ke tempat Hery ya Eyang..." Ajak Debora lagi.


"Eeemm Eyang akan panggil aja Hery ke rumah. Nanti Eyang minta Hery mampir aja ke rumah.. Eyang lelah kita pulang ya.. Eyang mau istirahat..." Pinta Eyang lagi dan tak lama kemudian nama Eyany pun di panggil petugas mendis.


Debora merungut kesal. Sebenarnya ia ingin langsung membawa Eyang untuk menemui Rena dan Hery langsung di apartemen. Tapi Eyang malah mengajaknya pulang.


***


Roy dan Hery pergi dari apartemen Rena dan keduanya memilih untuk makan siang berdua. Sebelum itu Roy memesankan makanan untuk Rena dan memintanya untuk di kirimkan ke apartemen Rena.


Tapi sepertinya Roy salah membeli menu makanannya. Rena sekarang tidak suka makanan seperti yang di pesan Roy. Roy memesan makanan yang lebih banyak di goreng goreng, jika dulu Rena memang suka menu yang seperti itu, tapi bukan berarti dalam kondisi sekarang yang sedang mengandung seleranya akan sama.

__ADS_1


Hery tidak memberitahu Roy yang sebenarnya tentang selera Rena yang sekarang. Ia membiarkan saja Roy melakukan apa yang ia anggap benar.


"Hery.. Aku benar benar menyesal semua ini... Aku sudah gak sanggup lagi.. Kasian Rena, dia yang menderita dengan semua ini..." Roy mulai menyadari semuanya setelah merenunginya.


Mungkin Roy sudah hampir kehilangan kewarasannya karna semua ini. Tapi kalau Roy berpikir dengan baik, tenang dan tidak banyak menambah beban sendiri maka barulah ia menjadi Roy Filip yang sebenarnya.


***


Rena membuka pintu unitnya karna ada menekan bellnya.


Rena menemukan ada kurir yang mengantarkan makanan.


"Nyonya ini ada paket untuk anda.." Kurir itu meyerahakan paketnya untuk Rena.


Rena menerimanya tanpa curiga. Ia yakin ini pasti dari Roy.


"Terima kasih..." Rena menutup pintunya dan menuju dapur dan membuka paket itu.


"Cih.. Sudah aku duga ini pasti dari Roy... Lihat dia bahkan gak tahu apa yang mau aku makan saat ini... Dia kira seleraku masih sama seperti dulu..." Mata Rena mulai basah lagi karna sedih melanda dirinya lagi.


***


Roy masih terus menyesali semua yang terjadi, Hery masih sama mendengarkan dengan baik.


Tiba tiba ponsel Roy berdering, Roy kira itu adalah panggilan dari Rena tapi ternyata dari sang Eyang.


"Ya Halo Eyang.. Tumben telpon... Ada masalahkah dengan pemerikasaan Eyang..?" Roy tiba tiba panik mendapat telpon dari Eyangnya.


"Semuanya baik baik saja Roy... Eyang hanya ingin menghubungi kamu.. Eeemm Roy apa Hery bersama kamu sekarang...?" Debora duduk di samping Eyang tersenyum bahagia.


"Eeemm Iya Eyang aku sedang bersama Hery di restoran kami sedang makan siang." Jawab Seadanya Roy.


"Oohh baguslah... Nanti bisa bawa Hery ke sini.. Ada yang ingin Eyang bicarakan sama Hery." Roy menyerngit memandang Hery. Hery mengangkat bahunya.


"Eeem iya Eyang abis ini kami langsung pulang ke situ Eyang.." Eyang mengangguk dari balik Telpon.


"Tadi katanya ada masalah di kantor.. Kok bisa cepat pulang..?" Roy salah tingkah mendengar pertanyaan Eyangnya.

__ADS_1


Roy.....


Off guys... Likenya donk...


__ADS_2