AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 26


__ADS_3

Dion hari ini sangat bahagia dan begitu pula dengan adik adiknya.


Dario dengan semangatnya membuka kadonya karna ia tahu apa yang kakaknya belikan adalah hadiah yang terbaik dari sang kakak.


"Wow... Ponsel keluaran terbaru... Kakak memang hebat." Dario antusias dengan hadiahnya.


"Apa kamu suka?" Tanya Dion pada adik bungsunya itu.


"Ya kak aku sangat suka..." Tambah Dario lagi.


"Bagaimana warnanya apa kamu suka?" Tanya Dion lagi penasaran dengan tangapan adiknya.


"Ya kak aku suka... warna putih... Benar benar indah.. Aku sangat suka. Terima kasih kak Dion." Dario memeluk kakak pertamanya itu dengan erat.


Diana yang melihat interaksi kakak adik itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya. Kini Diana yang membuka hadiahnya sari Dion.


Sejenak Diana terdiam melihat dan meneliti hadiahnya. Dion yang melihat ekspresi adiknya perempuannya itu melepaskan peluk Dario dan memegangi tangan Diana.


Diana menoleh lada Dion. "Kenakanlah kalau kamu berangkat kerja, aku jamin itu akan melindungimu dari berbagai hal. Ingat ya... Kenakan ya... Aku memang tidak bisa selalu melindungi kalian berdua setiap saat, tapi dengan sarung tangan itu aku merasa sudah melindungi satu dari kalian. Walaupun hanya dengan hal kecil seperti ini" Diana terharu mendengar ucapan kakak laki lakinya itu yang sedari dulu memang selalu melindungi Diana dan Dario dengan caranya sendiri. aku Dan hingga kini pun masih seperti itu.


Diana memeluk kakak laki lakinya itu dengan air mata yang mulai membasahi pipinya walaupun tak bersuara tangis Diana tapi bukan berarti di sedang sedih melainkan kini Diana sungguh bahagia memiliki kakak laki laki seperti Dion uang sangat menyayangi adik adiknya seperti dirinya dan juga Dario.


Dario juga sangat perasa orangnya. Kini Dario juga memeluk kedua kakaknya yang sedang berpelukan.


"Aku ingin setiap tahun seperti ini..." ucap Dion di sela pelukannya.

__ADS_1


***


Kini Debora kembali menghubungi John tapi kali ini bukan untuk sayang sayangan lagi Tapi kini untuk marah marah.


"Sayang maafkan ayah ya... Dia tidak tahu apa apa. Dia kira kamu memanglah pemilik asli dari Persuhaan Roy itu. Oleh karna itu dia melakukan ini sayang. Kan kamu sendiri yang bilang itu adalah perusahaanmu... Jadi yang di pikirkan ayah itu memang benar adanya kan." John membela sang ayah yang menurutnya tidak melakukan kesalahan. Yang salah di sini adalah Debora yang telah mengaku ngaku sebagai pemilik perusahaan Roy. Ayah mana yang tidak senang mengetahui calon menantunya adalah pemilik perusahaan besar, pikir John.


"Iya memang aku yang katakan aku pemiliknya tapi seharusnya ayahmu menghubungiku terlebih dahulu agar ini semua tidak terjadi. Lihatkan Roy mengusirku dari perusahaannya tadi siang dan menjadikannya trending topic hari ini. Seorang istri CEO Filip di usir keluar oleh sekuriti suaminya sendiri. Aku malu John. Banyak yang melihatnya. Aku benar benar malu. Aku inikan orang terpandang John. Mau di taruh di mana mukaku ini." ucap kesal Debora dan ia lampiaskan pada John.


"Tapi Debora... Roylah yang membuatmu di pandang banyak orangkan..." Tegur John kali ini benar.


"Iya justru karna aku yang Roy buat di pandang tak seharusnya dia melakukan seperti itu padaku kan..?" Debora masih besar kepala dengan apa yang sudah Roy berikan padanya selama ini.


"Iya dan dia berhak mengambil apa saja yang telah dia berikan padamu..." John juga kesal dengan sikap Debora yang kekanak kanakan seperti ini.


"Hais kamu ini bukanya mendukungku tapi ternyata kamu juga menyalahkan aku. Katanya kamu sayang sama aku. Tapi kenapa kamu tidak mendukung semua keinginanku?" Ohh Debora.. Tolong apa ada obat untuk ketidak tahuan diri Debora? Sungguh apa yang Debora pikirkan kali ini. Apa dia memang sebodoh ini?


"Biarlah sekali kali kan..." Ucap Roy lagi. Roy mematikan laptopnya dan membaringkan dirinya di tempat tidur yang di sediakan di dalam ruang kerjanya.


"Oohh Renaku sayang... Aku ingin tidur denganmu sekarang." Roy memeluk gulingnya dengan agresifnya seolah guling itu Rena.


***


"Yo... Tumben hadiahmu cantik cantik begini..." ucap Diana yang kagum kali ini dengan hadiah dari Dion kakaknya yang sering ia panggil dengan sebutan 'Yo'.


"Iya aku ada sedikit bantuan kemarin.. Hehehe..." Dion mengaruk garuk tengkuknya.

__ADS_1


"Uuuuu... Kakakku ada teman rupanya... Aku kira kakak tidak akan berteman dengan siapa pun." Ledek Dario ada kakaknya yang ia kenal tidak mudah berteman ataupun berkawan.


"Iya... Ada deh..." Dion malah membuat kedua Adiknya gemas padanya yang rupanya semakin pintar menggodak mereka berdua. Berbeda di banding saat tahun tahun yang lalu Dion sama sekali tidak dapat di ajak becanda, tapi kini malah Dion yang mengajak adiknya untuk sedikit bersenda gurau.


Mungkin karna terlalu serius menjalankan pekerjaannya membuat Dion lupa akan kabahagian keluarganya termasuk adik adiknya. Tapi tahun ini mulai ada perubahan dari kakak pertama mereka. Dion lebih sering tersenyum dan mengajak adik adiknya tertemu meski hanya untuk makan siang, mulai mengajak tinggal bersama, tapi karna adik adiknya sibuk sendiri dengan pekerjaan masing masing hal itu tidak dapat mereka lakukan. Karna hal itu tidak dapat di lakukan maka Dion meminta agar tiap ulang tahun dari antara ketiganya, maka mereka harus berkumpul bersama walau hanya sehari, bahkan sejam saja cukup.


***


Pagi menanti kegiatan kegiatan dari seluruh orang di dunia ini. Begitu pula dengan Roy kini ia sedang bersiap siap untuk berangkat ke kantornya. Roy mengenakan dasi sendiri bak bujangan yang tak punya istri. Tapi tak apalah. Nikmati saja pikirnya. Karna Roy berpikir nanti akan ada yang menunggunya dan siap melayaninya. Siapa lagi kalau bukan Rena. Roy berencana akan melakukan hal yang sama lagi hari ini. Pulang lebih awal dan tinggalkan pekerjaan untuk Hery dan langsung menuju apartemen Rena dan menghabiskan waktunya bersama Rena.


Roy turun dan langsung menuju ke pintu utama. Tanpa Roy sadari Debora sudah menuggunya di ruang tamu. Sambil menikmati secangkir teh hangat Deboda tersenyum manis pada Roy seperti tak terjadi apapun di antara mereka.


"Roy..." Panggil Debora dengan sangat lembut dan layaknya seorang istri penuh kasih sayang.


"Apa?" tanya Roy bagaikan tak ada lawan bicara karna dirinya hanya fokus pada sepatu yang ia kenakan.


"Roy... Aku minta maaf... Aku salah..." Katanya penuh keikhlasan tanpaknya atau mungkin dia memiliki maksud lain.


"Yaya... Aku tahu kamu memang salah gak usah di bahas lagi. Aku mau berangkat kerja." Roy hendak berlalu tapi Debora memegangi tangannya.


"Roy malam ini kita dinner ya di restoran biasa. Aku kangen dinner bareng kamu.." gemelayut Debora di lengan kekar suaminya.


"Tapi aku sibuk Debora. Kamu makan malam sendiri aja ya... Terserah kamu mau pake barapapun uangku tapi aku mohon aku akan benar benar sibuk bulan bulan ini. Maaf ya..." Roy hendak pergi lagi tapi tiba tiba ponsel Roy berdering.


Roy membaca nama penelpon di ponselnya, betapa terkejutnya Roy membaca nama yang tertera. Kepucatan wajah Roy menjalar. Ingin angkat tapi takut. Tidak di angkat nanti kena masalah lagi.

__ADS_1


off dulu kawan..


__ADS_2