
"Dia... Mencari..." Hery masih ragu sekali.
"Cari apa Her...?" Sedangkan Roy sudah tak sabaran.
"Roy... Rena mencari pekerjaan baru." Akhirnya Hery memberitahukan yang sebenarnya. Mungkin jika Hery memberi tahu yang sebenarnya Roy akan kembali menjadi Roy yang takan mudah di perdaya oleh Debora.
"Hah...? Cari pekerjaan? Bukankah aku sudah memberikannya uang sebelum aku pergi ini?" Roy tak yakin dengan apa yang ia dengar dari Hery.
"Iya Roy... Rena mencari pekerjaan. Begini yang aku tahu Roy. Aku menanyakannya langsung pada Rena kenapa ia mencari pekerjaan. Katanya ia takut. Ia takut kamu akan mencampakkannya dan membuangnya, oleh karna itu dia bersiap siap mencari pekerjaan yang lain kalau kalau kamu melakukan itu maka ia tak kesulitan lagi mencari pekerjaan baru karna ia sudah punya.." Jelas Hery yang jelas jelas Roy paham akan hal itu.
"Jadi ia merasa aku pergi dengan Debora ini adalah untuk mencampakkannya? Apa dia sedih Her?" Tanya Roy sedikit merasa bersalah pada gadis yang memberikan mahkotanya itu padaRoy dengan ikhlasnya.
"Iya Roy dia sangat sedih, bahkan wajahnya lesu. Aku tadi memutuskan untuk menemani Rena mencari pekerjaan tapi entah berapa tempat Rena melamar tapi tidak ada yang mau menerima Rena. Dan itu semakin membuat Rena sedih Roy." Kata Hery lagu menceritakannya dengan nada yang sedih sekali berharap ini akan berhasil.
Roy juga merasa sangat bersalah sekarang ini. Dengan kata lain ia sudah mengecewakan Rena yang sangat sayang padanya. Mengingat betapa baiknya Rena dan perhatian yang Rena berikan pada Roy yang tak pernah Deboda berikan.
"Lalu Her aku harus melakukan apa sekarang? Rena pasti sakit hati denganku." Ucap Roy lesu juga.
"Roy... Rena itu wanita yang baik sekali. Cobalah kamu telpon dia pasti ia akan sedikit terhibur jika kamu yang menelpon walau hanya menanyakan keadaanya. Dia bukanlah tipe Wanita ambekan, Rena tak seperti itu Roy..." Saran Hery dengan sangat bijaknya.
"Baiklah Her aku tutup dulu telponnya." Roy memutuskan telponya dan menelpon Rena.
Rena sedang menikmati malam di balkon unitnya bersama Dion dengan coklat panas yang nikmat.
Ponsel Rena berdering dan terpampang nama Roy. Dion yang melihat Rena ragu untuk menerima telpon dari Roy.
Dioj menganggukan kepalanya dan akhirnya Rena menerima telpon Roy itu. "Halo Roy.." ucap Rena biasa saja.
"Halo.. Rena... kamu sedang apa?" Tanya Roy langsung.
__ADS_1
"Aku sedang minum coklat panas di balkon Roy.. Kenapa kamu telpon malam malam begini, nanti Debora lihat gimana?" Rena takut hal yang lain sebenarnya. Takut Debora dan Roy sedang sibuk.
"Tidak... Tidak akan Rena sayang. Bagaimana kabarmu..?" Roy ragu ragu bertanya hal itu.
"Oohh aku baik baik saja." Ucap Rena pelan.
Roy paham sekali Rena jika Roy menanyakan kabar Rena biasanya Rena akan menjawabnya dengan antusias dan sedikit merayu Roy. Tapi kali ini tidak, tampaknya benar yang di katakan Hery tadi. Rena sedang sakit hati padanya.
"Rena... Aku tahu kamu sedih aku pergi dengan Debora seperti ini. Dan membuat kamu merasa di jauhi. Tapi bukan begitu maksudku. Dengar sayang ini hanya sebentar. Setelah aku pulang dari sini barulah aku akan menemuimu. Aku mohon jangan sedih ya..." Rena menangis tanpa suara mendengar Roy yang mengaku dirinya menjauhi dirinya dan lebih milih bersama Debora.
"Iya..." Hanya kata itu yang bisa Rena katakan.
"Rena...." Roy memelas dari dalam telpon Rena dan terdengar jelas oleh Dion yang sedari tadi di samping Rena.
"Apa..?" tanya Rena seolah tak tahu apa apa.
"Iya Roy... Baiklah..." Lagi lagi singkat saja yang Rena ucapkan. Jujur kini Rena sedang marah pada Roy. Rena marah bukan karna Roy pergi dengan Deboranya. Tapi Rena marah karna Roy tidak memberi tahunya kalau Roy akan pergi dengan Debora itu saja yang Rena kesalkan. Roy menyembunyikan hal itu. Berarti ada yang sedang Roy inginkan bukan.. Tentu saja.. Roy pasti ingin Rena tidak menganggunya dam Debora. Karna mungkin mereka berdua memiliki misi sendiri. "Roy aku mengantuk.. Aku tidur dulu ya.." Rena menutup telponnya.
Rena mengahapus air matanya sebelum Dion benar benar melihatnya. Padahal Dion sudah melihatnya. Tapi Dion pura pura sibuk meminum coklat hangatnya.
Rena kemudian tersenyum saja pada Dion seakan tak terjadi sesuatu. "Hei apa yang akan kamu lakukan besok?" Tanya Dion mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada.. Ah mungkin aku akan lanjut mencari pekerjaan baru saja." Tutur Rena.
"Oohhh benarkah... Apa aku boleh ikut... Sekalian kita berbelanja untuk kebutuhan di dapurku. Coba kamu cari kerjaan kepasar, pasar sekitar sini saja. Aku dengar dengar kalau di pasar banyak yang bisa memberikan perkerjaan. Banyak teman temanku yang berkerja di pasar.. Aku akan coba tanya mereka dari sekarang... Bagaimana kamu mau?" Tanya Dion dengan antusias.
"Hah benarkah? Mau Dion mau.. Kok kamu peke tanya lagi.." Dion bagaikan malaikat yang datang dan menyelesaikan semua masalah Rena begitu saja.
***
__ADS_1
Roy yang masih tidak tahu cara mengatasi Rena yang sedang bab mood hanya bisa kembali ke kamarnya dan juga Debora dengan gontai.
Dari dalan kamar terdengar suara Debora sedang bertelponan juga. Roy mencoba menguping apa yang sedang Debora bicarakan.
"Iya sayang aku tidak akan lama di sini. Setelah aku dan Roy puas melakukannya, dan yakin aku akan segera mengandung barulah kami pulang sayang.." ucao Debora yang Roy dengar.
Hati Roy kembali bergemuruh. Masih saja Debora mengecewakannya padahal Debora sendiri yang meminta perdamaian yang ada ini tapi masih saja Debora merusaknya.
''..... ....''
Roy tidak dapat mendengar apa yang orang dari telpon itu ucapkan. Tapi ia masih bisa mendengar apa yang Debora ucapkan.
"Pastilah Sayang... Masa Roy gak sehat..."
"Apa? John mengatakan aku tidak sehat.. maksudnya apa?" Guman Roy masih terus mengintip dn mendengarkan.
".... ..... .... ..."
"Iya sayang Roy itu subur kok.. Pasti aku bisa mendapat anak darinya. Kalau pun memang Roy tak sehat, kan ada kamu yang sehat..."
KRAK KRUK KRAKKKKK... Hancur kebahagian Roy sekejap itu. Kabahagian yang Debora tawarkan sekejap pada Roy.
Debora tertawa senang di dalam kamarnya sedangkan Roy terduduk tak berdaya di luar kamar. Apa yang baru saja di katakan Debora sudah menyatakan, Roy kini bukan apa apa untuk Debora, bahkan Debora sudah menyiapkan John untuk mendapatkan anaknya.
Air mata Roy mengalir membasahi pipinya. Sakit sungguh sakit lagi hatinya. Rasa sakit yang teramat. Semua kata kata Debora terlintas di pendengaran Roy. Tiba tiba wajah cantik dan senyum Rena timbul di depan Roy. Wanita yang selalu bisa menghibur Roy dalam dukanya seperti ini.
Dan Roy juga mengingat kata kata Rena tadi saat di telpon, suara Rena yang sedang sedih karna kepergiannya dan Debora. Sakit hati Roy semakin menjadi, dia sudah menyakiti wanita terbaik dalam hidupnya, tapi ternyata dirinya malah di sakiti oleh Debora.
BARU SADAR DIA READERS...
__ADS_1