
"Hei... Apa kabar..?" Kata pria itu yang sejak tadi memperhatikan Rena dari jauh.
Rena berbalik dan mengerutkan keningnya lalu tersenyum kepada pria itu.
"Hai... Kamu juga ada di sini?" Rena tak percaya bila mereka akan bertemu di sini lagi.
"Ya tentu saja aku ada di sini tidak mungkin di negara lain atau bahkan dunia lain." Kata pria itu lagi.
"Hei kamu ini tidak bisa di tanya sedikit sajakah?" Rena masih tak menyangka akan secepat ini bertemu dengan orang yang baru ia kenal ini juga.
"Apa yang sedang kamu cari?" Pria itu pura pura tidak tahu apa yang sedang Rena cari padahal sedari tadi ia sudah memperhatikan Rena dengan sangat seksama. Dan dari tadi Rena hanya sibuk mencari handuk kimono yang ia inginkan.
"Oohh ini aku mencari handuk kimono yang aku inginkan." Jawab Rena sambil meperlihatkan pilihannya pada Dion. Ya pria itu adalah Dion. Dion sedari tadi memperahatikan Rena, entah karna apa tapi kebetulan sekali Dion dan Rena kembali bertemu.
"Oohh itu semua bagus kok. Tapi itu kualitasnya biasa saja. Ayo aku tunjukkan yang lebih bagus lagi." Ajak Dion pada Rena dan Rena pun mengikuti Dion.
Sampailah mereka berdua di depan lemaro kaca yang memperlihatkan semua baju pilihan pilihan ternama di simpan di situ untuk orang orang yang mampu membelinya saja yang bisa membelinya.
"Ini dia. Ini sama dengan gaya yang kamu pilih tapi ini lebih halus karna dari kain yang bagus dan berkualitas tinggi. Khusus untuk penggunanya merasa nyaman." Jelas Dion bagaikan seorang promotor.
"Wahh iya juga ya.. Sangat halus.." Rena menyentuh kain handuk tersebut.
Sedangkan itu kini Debora dan John masuk juga ke dalam toko yang Rena dan Dion tempati. Rupanya Mall tempat Rena dan Debora berbelanja sama hari ini.
"Permisi tuan nyonya.. Ini hanya untuk kalangan atas saja" Ucap penjaga toko yang ada di dekat situ.
Debora dan John menoleh ke arah suara itu rupanya penjaga toko itu sedang berbicara dengan orang yang berada di dekat lemari para sultan.
"Cihh sok kaya.." Secih dari Debora melihat amatirnya para pembeli di situ.
"Maaf ya nona apa kartu ini bisa membayarnya?" Rena mengeluarkan kartu goldnya dan memperlihatkan pada penjaga toko itu.
Dan penjaga toko itu langsung terkaget kaget melihat penampakan langsung kartu yang jarang ia lihat. Bukan hanya penjaga itu yang kaget tapi Debora dan John juga ikut terkejut dengan orang yang baru saja mereka remehkan rupanya malah memiliki kartu yang tidak pernah mereka sentuh sama sekali. Biar pun Debora Istri dari seorang Roy Filip, ia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menggunakan Kartu gold itu.
__ADS_1
Sebenarnya Roy sudah pernah ingin memberikan Debora kartu itu untuknya tapi saat kartu itu Roy dapatkan dan siap ia berikan pada Debora, Roy malah mendapatkan kenyataan pahit tentang bohongnya Debora tentang penculikannya dan permerkosaannya saat itu. Dan mulai dari situ Roy mulai mengulik semua kebohongan demi kebohongan Debora.
Dan sekarang kartu yang akan berikan pada Debora malah di berikan pada Rena. Dan kini Debora sedang menyaksikan kartu yang seharusnya menjadi miliknya di pakai oleh wanita lain.
"Oohhh maafkan saya nona.. Maaf.. " Penjaga itu malu pada dirinya sendiri yang telah menegur Rena dan Dion yang sedang memilih milih barang mahal di tempatnya itu.
Rena telah memilih dan masih di temani Dion Rena melakukan pembayaran. Setelah selesai membayar Rena dan Dion keluar dari toko itu menuju toko lainnya.
"Hei kamu ingin membeli apa di sini?" Rena lupa menanyakan apa yang hendak di beli Dion di Mall yang besar ini.
"Aahh aku tadi sedang mencari hadiah untuk adik adikku saja. Mereka akan berulang tahun sebentar lagi. Maka aku mencari hadiah yang pas untuk mereka di hari ini karna hari ini aku agak senggang di kantor." Jelas Dion akan tujuannya ke Mall ini.
"Oohh begitu. Kamu sangat perhatian ya pada adik adikmu. Imut sekali.." Ucap Rena pada Dion, dan di tangapi tawa renyah Dion.
"Iya merekakan adik adikku. Dan ku sangat menyayangi mereka. Dan begitu pula mereka." Tiba tiba Rena teringat akan ucapan Sesa saat di tempat Vallen.
Sesa mengatakan bahwa anak anak Vallen sama sekali tidak satu ayah. Tapi Rena malah mendapati hubungan yang sangat dekat antara kakak beradik seperti Dion dan Adik adiknya. Sungguh Rena iri dengan Dion yang memiliki keluarga yang bisa ia sayangi dan menyayanginya.
"Mereka akan berulang tahun di tanggal yang sama." ucap Dion lagi meneruskan cerita kakak beradiknya sambil terus berjalan mengikuti Rena yang tampa arah.
"Hahaha.. Bukan. Mereka hanya sama tanggal lahir dan bulannya juga sama. Tapi untuk tahun mereka beda 3 tahun." Jelas Dion lagi karna melihat tanggapan Rena yang tak paham.
"Ooohh" Rena hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Lalu kamu dengan mereka beda berapa tahun?" Tanya Rena lagi.
"Aku dan saudara perempuanku berbeda 6 tahun. Dan dengan adik laki lakiku beda 9 tahun tentunya." Jawab Dion lagi sambil terus tersenyum dan mengeluarkan suara merdunya.
"Oohhh oleh karna itu kamu adalah kakak yang sangat penyayang." ucap Rena lagi. "Kamu mau kemana lagi sekarang? Apa kamu sudah mendapatkan semua yang kamu ingin berikan pada adik adikmu?" Rena teringat lagi akan hadiah yang baru saja di ucapkan Dion barusan.
"Oohhh itu belum, tadi aku mencari di toko tempat kita bertemu tapi aku tidak menemukannya, dan jujur hadiah yang paling sulit aku cari yaitu untuk adik perempuanku. Cukup sulit mencari hadiah yang cocok untuknya." Kata Dion lagi. Sungguh Dion jujur akan kondisinya tanpa menyembunyikan apa apa dari Rena.
"Hei apa kamu keberatan jika aku ikut kamu berbelanja? Sebenarnya aku juga tidak tahu aku ingin belanja apa sejak tadi. Ini aku hanya mendapat handuk ini. Setelah itu aku bingung mencari apa? Jika aku ikut denganmu mungkin aku akan menemukan sesuatu yang cantik untuk aku beli. Apa boleh?" Rena juga jujur akan dirinya yang sejak tadi bingung harus ia apakan lagi kartu goldnya.
__ADS_1
Saat melihat penjaga toko tadi yang terkaget Rena paham kartunya dapat ia gunakan untuk berbelanja apa saja. Tapi masalahnya ia tidak tahu ingin belanja apa.
"Tentu saja aku juga akan senang jika ada yang ikut aku berbelanja. Ayo kita cari apa yang patut kita beli" Ajak antusias Dion dengan suara khasnya yang sangat merdu meski tidak sedang menyanyi.
Keduanya kemudian berkeliling Mall itu untuk mencari apa yang harus mereka beli.
Sedangkan itu di kantor Roy. Roy masih sibuk dan kini sudah lain pekerjaannya. Kini ia tengah menanda tangani dokumen dokumen yang telah ia periksa.
Sudah sekitar satu jam dari saat Roy memerintahkan Hery membakar dan menaburkan abu dokumen ayah John, kini Hery mengetuk pintu ruangan Roy dan Roy menyuruh untum masuk barulah Hery masuk.
"Tuan saya sudah mengerjakan apa yang tuan perintahkan. Sudah saya taburkan bakar dan saya taburkan di laut dokumen yang tuan perintahkan tadi." Ucapnya dengan percaya diri.
"Bagus.. Mungkin kedepannya kita akan membakar orangnya lansung tapi kita tidak akan menaburkan abunya di laut tapi kita biarkan saja terbawa air hujan ke dalam tanah." Ucap Roy menyudahi dulu perkerjaannya.
"Tuan istirahat dulu. Ayo makan siang ini sudah jam makan siang." Ucap Hery masih penuh formalitasnya. Sungguh di acungi jempol untuk keteladanan Hery.
"Iya aku akan istirahat bawakan makan siang kita. Dan kamu temani aku makan sebagai kawan bukan sebagai asisten karna ini sudah bukan jam kerja" ucap Roy yang memang paham akan keteladanan temannya itu.
Setelah mendengar ucapan Roy yang sedikit manis itu barulah Hery mulai tersenyum dengan nakal pada Roy dan mengambil tisu di atas meja Roy dan membersihkan tangannya menggunakan tisu tersebut.
"Her... Cuci tanganmu.. Pasti sangat kotor tadi memegang abu dari sampah itu." Kata Roy sambil membuka kancing di pergelangan dan memerhatikan tangan yang Hery lap mengunakan tisunya.
"Baiklah.. Sekalian aku ambil makanan dulu. Kamu mau ayam apa daging?" Tanya Hery sebelum keluar dari ruangan Roy. Tentunya formalitasnya sudah tidak ada di antara keduanya.
"Ayam saja... Lagi gak kepengen daging." jawab Roy dengan singkat dan merebahkan tubuhnya di sofa dan meregangkan tubuhnya hang letih sedari tadi duduk di kursi kebesaranya.
Sedangkan itu Rena dan Dion asik memilih pernak pernik yang cantik cantik di Mall tadi. Sementara itu Debora dan John masih di tempat Rena dan Dion membeli handuk tadi.
"Sayang kamu lihat tidak tadi itu kartu itu bertuliskan nama siapa?" Tanya John pada Debora.
"Tidak" Jawab santai Debora sambil terus mencari sesuatu yang menarik.
"Ah kamu ini. Kalau aku gak salah lihat kartu itu bertuliskan Roy Filip sayang..." ucap John penuh penekanan
__ADS_1
Debora
Off dulu mt malam readers... udah hampir jam 11 mlm ini.. Author istirahat dulu.