AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 293


__ADS_3

Mata Hijau tua itu menyipit. "Dia milikku malam ini. Kamu tahu itu.."


"Aku akan temui Bisma.. Kamu gak mau ikut..?" Tawar Albert.


"Tentu.. Aku juga ingin menemui Adel." Stuart bangkit terlebih dahulu.lmn


"Selamat malam tuan dan nyonya.." Sapa Stuart.


"Eehhh kalian..?" Adel menoleh sontak Bisma juga ikut berbalik.


"Albert..? Stuart..?" nada yany sangat berbeda dari Bisma. Ia sudah merasa tak suka melihat Stuart.


"Kalian juga hadir.. Waw.. Ini sangat menyenangkan." Albert melipat tangannya.


"Eemmmm.. Senang melihat kalian sangat akrab." Ledek Bisma. Padahal ia tahu Albert dan Stuart sangat jarang akur.


"Hmmmmm.. Bolehlah.." Sahut Stuart. "Adel.. Kamu sangat cantik dan menawan malam ini.." Godanya.


"Makasih.." Sahut singkat Adel.


"Tentu dia cantik... Suaminya berikan yang di butuhkan.." Bisma menjadi posesif seketika.


"Oh ya..?" Tantang Stuart.


"Tentu.. SEMUANYA.." penuh tekanan.


"Hmmmm baguslah.." Adel merasa pembicaraan ini semakin dalam dan penuh arti.


"Bisma, aku tadi liat teman aku di sana.. Aku mau ketemu sama dia.. Boleh..?" pinta Adel.


"Perempuan...? Laki laki..?" Bisma semakin menjadi.


"Perempuan... Kamu juga kenal.." Adel menarik tangan Bisma.


Stuart memandang punggung Adel dan Bisma. Tersenyum kecut, mengepalkan tangannya.


"Dia sangat berbeda.." Nilai Albert. "Dia seperti bukan Bisma yang aku kenal. Dja sangat laki laki.."

__ADS_1


"Aku gak peduli.." Stuart meninggalkan Albert.


.


.


.


.


.


.


Debora seorang diri di dalam kamarnya. Matanya benar benar tak bisa terlelap.


Setiap menutup matanya wajah, senyum, dan bibir lembut Dion terngiang dan tiba tiba muncul di pikiran Debora.


"Aaarrhhhgg.." Debora mengacak. rambutnya.


Debora mengingat kejadian tadi siang. Tiba tiba ia berteriak kencang karena Dion.


Mengkhayalkannya saja sudah membuat pipi Debora memerah.


" Ck.. Kamu kenapa Debora.. Baru di gituin aja kok udah..." Debora mengangkup pipinya yang terasa panas.


Debora merebahkan lagi kepalanya di bantal, berharap bisa terlelap.


Saat memejamkan matanya. Dion yang mengecup keningnya dan mengabsen setiap inci wajahnya.


"Aaahh" Debora memegang keningnya.


"Issshhh.." geramnya.


"Aku yakin kamu gak akan bisa tidur malam ini karena gak ada aku..." Tiba tiba ucapan Dion sebelum ia pulang.


"Issshh laki laki itu.." Debora ingin kesal tapi malah rasa senang yang ia rasa. Akhirnya hanya decakkan yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


Debora keluar dari kamarnya. Berjalan perlahan menuju dapur. Tak ada siapa pun di sana.


Debora mengambil biskuitnya dan membukanya. Satu biskuit, dua biskuit, hingga minum air putih yang Debora lakukan.


"Haaaahhh.." Rasanya ada yang kurang.


Mungkin kerena ia sedang sendiri saja. Pikir Debora.


"Debora..?" Hery tiba tiba datang mengangetkan Debora juga.


"Hery..?" Debora menoleh.


"Kenapa..? Apa kamu gak enak badan..? Mau sesuatu..?" Hery yang sedang membawa botol pink di tangannya ini berucap.


"Gak.. Gak apa apa kok Her.." Debora tersenyum seolah baik baik saja.


"Ooohhh kengen seseorang..!?" Hery mengisi botolnya sambil meledek Debora.


"Heh..? Sejak kapan kamu pintar ledekin orang hah..?" pipi Debora memerah lagi.


"Hahahaha.. Masalahnya tadi.. Seseoran titipkan pesan, kalau malam ini pasti ada yang susah tidur.." Cicit Hery lagi.


"A..?" Debora mati bahasa. "Ck.." hanya bisa mengatakan itu.


"Mau aku panggilkan kah dia malam malam gini..?" Tawar Hery sambil berkacak pinggang.


"Hah..?" Debora mendelik.


"Mau gak...?" Hery memasang wajah jahil.


"Gak usah.."


"Oohhhj berarti ada.." Hery mengangguk paham.


"Ada apanya..?" Debora meneliti wajah Hery.


"Ada yang benar benar gak bisa tidur.. Ahaaha." Hery berlalu sambil tertawa.

__ADS_1


Debora...


__ADS_2