
Adel dan Bisma tiba di tempat acara di langsungkan. Sebuah hotel berbintang dan sudah di kerumuni para wartawan dan juga kamera yang siap mengambil gambar para tamu yang berdatangan.
"Gandeng aku sayang.. Tunjukan kalau kamu milik aku..!" Titah Bisma lembut pada Adel. Adel membalasnya dengan senyum manis dan menautkan lengannya di lengan Bisma.
DariĀ sebrang nan tak jauh dari sana, seorang pria menggoyang goyangkan gelaa berisikan wine. Ia sangat mengagumi kecantikkan Adel malam ini.
"Lihat..! Sangat sempurna.. Apalagi kalau bertemu aku di atas ranjang.." Gumamnya.
"Ayo.." Ajak seorang pada laki laki yang meneguk habis winenya.
"Eeeemmm aku ingin segera bertemu dengannya.."
.
.
.
.
.
Malam tentu juga tiba di rumah Hery. Debora bersama Rena di kamarnya. Rena sedang mengupasi buah apel untuk Debora.
"Bora.. Tadi kamu teriak kenapa..?" rasa penasaran Rena masih ada.
"Aku.. Itu.. Eemm..." Debora tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku harap.. Hubungan kamu sama Dion lebih baik lagi Bora.. Dion laki laki yang baik.. Dia sangat penyayang bahkan lembut. Dia membungkam orang orang di depannya dengan caranya sendiri.."
__ADS_1
Debora mendengarkan dan mengambil satu contoh, saat Dion dan dirinya bertemu dengan Roy juga Nur, Dion menjawab ucapan Nur dan membuat keduanya terdiam dan tak menjawab.
Hanya dengan kata katanya saja. Mungkin itulah kehebatan dan keunggulan Dion.
"Hmmmmmm dia memang baik.. Tapi.. Aku rasa aku yang kurang baik.. Mana cocoknya aku dan Dion. Dia laki laki mapan dan aku.. Janda muda.." oceh Debora dan di tambah cekikikannya.
"Heh...! Aku pernah dengar ya.. Janda semakin di depan.." Oceh Rena lagi yang membuat keduanya tertawa terpingkal pingkal.
"Tapi yang aku bilang itu betul Ren.. Dia terlalu baik.. Aku pernah ketemu dia di panti asuhan, dia di panggil Popsy sama anak anak di sana.. Mereka sangat sayang sama Dion dan begitu pula sebaliknya.." Debora menceritakan kisahnya.
"Dan kalau begitu. Dia ayah yang baik untuk baby donk.." Rena mengusap perut buncit Debora.
"Eehh? Kok baby ku.. Biar aja dia buat sendiri.." Cicit Debora.
"Kayak apa dia buat sendiri.. Kalau harus ada temannya...?" Yang di katakan Rena benar adanya.
"Emangnya Dion bisa membelah diri dan jadilah, baby untuknya.. Ya gaklah.. Harus tanam benih.." Debora terkekeh lagi mendengarnya.
"Iisshhh.." Debora mengibas ibaskan tangannya di atas kepalanya.
"Kenapa Bora..?" Rena melihatnya dengan jelas.
"Aahhh ada nyamuk..." Padahal dirinya menghapus bayang bayang gila itu.
"Ren.. Menurut kamu, Dion pernah bercocok tanam gak ya..?" Rena menutup matanya tapi bibirnya tersenyum.
"Kamu tanya aja sama Dion.. Pernah gak dia..?" Goda Rena.
"Hmmm malu lah.." Keduanya sama sama terkekeh lagi.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sementara itu, gemerlap dan kemeriahkan pesta yang Adel dan Bisma hadiri cukup memukau mata. Terlihat elegan dan berkelas.
Adel tak melepaskan tangannya dan tangan Bisma, karena ia melihat banyak wanita wanita cantik juga yang menghadiri pesta ini.
Melihat penampilan Suaminya yang tampan tentu tak membuat Adel membiarkan wanita wanita itu memandang indah Bisma.
Adel menangkap seseorang yang sepertinya ia kenal.
"Itu seperti..?"
Adel melirik Bisma. Bisma sedang asik berbincang dengan kawannya.
"Winenya nona.." Seorang pelayan membawakan minuman.
"Tidak terima kasih.." Tolak Adel.
Seseorang memperhatikan gerak gerik Adel.
"Dia menolak Wine.. Berarti rencanamu sudah hancur.." Ledek seorang dari sampingnya.
__ADS_1
Mata hijau tua itu...