AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 212


__ADS_3

Roy di ruangannya, ia tak ingin bertanya atau pun menghampiri Hery di ruangannya. Roy tahu jika ia ke sana, ia hanya akan mendapatkan ceramah Hery dan ejekkannya.


Walaupun tak ada kerjaan di ruangannya ia memilih untuk tetap di sana.


Cklek


Pintu ruangan Roy terbuka dan seorang masuk ke ruangannya.


"Pak Roy..?" Panggilnya.


"Ya.. Sarah..?" Rupanya itu adalah Sarah asisten untuk Roy dari Hery. Kadang Roy kesulitan menghadapi reporter yang bertanya padanya, oleh karna itu Hery memberikan Roy Asistennya sendiri.


Sarah sudah berkerja sejak Roy bergabung di perusahaan ini. Kerja sama Sarah dan Roy selama ini bagus sehingga membuat Hery yakin pada keduanya.


"Maaf pak.. Nanti siang ada wartawan dari TV Chanel 21. Mereka mau wawancara tentang produk yang baru saja kita keluarkan, Pak Hery juga sudah mengirimkan data dan pertanyaan yang mungkin akan mereka tanyakan dan jawaban kita. Hanya tinggal menyelaraskannya pak." Lapor Sarah.


"Oh.. Oke.. Mana datanya..?" Sarah dengan serius memberikan berkas itu pada Roy.


Mata Sarah tertuju pada Roy. Selama ini diam diam Sarah menyimpan rasa pada Roy. Sarah wanita yang pemalu jika itu masalah perasaan. Apalagi Roy sudah berkeluarga. Tapi melihat berita baru bari ini yang mengatakan kalau Roy memiliki istri dua, Sarah iri dan kesal, seharusnya ia memperjuangkan dari dulu cintanya pada Roy.


"Oke.. Nanti siang ya.." Roy sudah membacanya dan mengerti.

__ADS_1


"Kalau gitu saya pergi dulu.." Pamit Sarah.


Sarah keluar dari ruangan Roy. Roy kembali bosan. Ia hanya berpura pura semangat saja tadi.


"Debora.. Nur..?" Roy berpikir keras.


"Aku sudah buat Debora sakit hati. Hah.. Kayak apa aku ambil hatinya lagi.. Anakku sedang di kandungnya.. Debora sayang aku, dia gak mungkin kuat jauh dari aku lama lama." Roy percaya diri sepertinya penyakit percaya berlebihan milik Debora dulu berbalik arah pada Roy.


***


"Aku sudah hubungi Psikiaternya.. Kita sudah di buatkan jabwal. Sore besok." Ucap Adel bersamangat.


"Iya baguslah.. Bantu aku ya.. Temani.." Bisma tersenyum sangat manis.


***


"Eeemm Psikiater...??" Stuart membasahi bibirnya.


"Albert.. Kamu bisa kah..?" Albert berada tak jauh dari Stuart.


"Jika itu bisa membuat Bisma kembali padaku.. Aku bisa.." Albert dan Stuart merencanakan hal yang paling mustahil.

__ADS_1


***


Malam tiba. Sejak Roy pulang tadi, ia sudah menduga kalau Debora masih belum kembali ke rumah ini. Jangankan kembali, pesan, telpon dari Roy saja tak di terima.


Maka semakin hilanglah rasa cinta Roy pada Debora. Jika ada itu hanya untuk anak di kandung Debora. Berkali kali Roy menghela nafasnya, melirik makanan di meja makan sama sekali tak menarik nafsu makan Roy.


"Bi.. Apa Eyang dan Nur sudah makan..?" seorang bibi melayani Roy di meja makan.


"Ohh Eyang sama Nyonya muda sudah makan tadi sore sekitar jam 5'an sebelum tuan pulang." Sahutnya.


"Oohhh bibi.. Simpan aja dulu.. Aku belum lapar.." Roy segera bangkit dari kursinya dan memilih masuk ke kamar Nur.


"Haiiiss tuan macam ini.. Apa dia gak kangen Nyonya Debora.. Dan ini dia gak ada rasa rindu sama Nyonya yang lagi hamil anaknya itu.. Ck ck ck.." Gibah sang Bibi.


Roy dengan lesunya masuk. Saat masuk ke dalam kamar Nur semuanya gelap. Tak nampak apa pun.


"Nur..?" Panggil Roy.


"Tutup dulu pintunya..!" Terdengar suara Nur entah dari mana di kegelapan itu.


Roy menurutinya saja dan menutup pintu rapat rapat.

__ADS_1


Dan..


__ADS_2