
Debora semakin panas hati menunggu pintu kamar Nur tak kunjung terbuka juga. Rasa di hati tak bisa di bohongi dengan kata sabar. Apalagi ia kembali membayangkan bagaimana malam itu Roy dan Nur bising.
Pikiran Debora melayang ke mana mana. Rasa cemburu juga menyeruak, bercampur menjadi satu.
"Kalau malamnya kecapek'an ya gitu.. Paginya bangun lambat.." Ucap Eyang tiba tiba dari belakang Debora. Sepertinya Eyang juga memperhatikan Debora yang terus menatap pintu kamar Nur.
"Eyang..?" Debora menoleh.
"Sudah kamu tenang aja.. Roy aman kok sama Nur.. Sudah sana kamu istirahat aja.. Kamu kan lagi hamil, gak boleh banyak pikiran. Dan kamu juga belum boleh layani Roy sepenuhnya nanti dedek bayinya sakit.. Biar aja Nur yang bantu kamu.." Ucap Eyang.
Debora memicingkan matanya "Bantu...?" Debora berpikir sejenak dan menyambungkan semua ucapan Eyang tadi.
"Bantu layani Roy.." Tambah Eyang lagi.
Hati Debora remuk seketika mendengarnya. Apalagi ia sensitif dengan kata kata 'layani'. Gemuruh di hatinya semakin jadi, Debora segera kembali ke kamarnya. Tak sanggup terus di hujati Eyang dengan komporannya.
Roy membuka matanya, ia masih memeluk Nur, tubuh polos dan lembut itu memanjakannya di pagi ini. Belum lagi leluk lekuk indahnya. Mantap di cekram keras oleh tangan seperti meremas.
"Ouuuhhh.." Nur meleguh dari tidurnya karna sentuhan Roy.
Bukannya menolak Nur malah menggeliat s*ksi di mata Roy. Makin menambah rasa ingin lagi lagi dan lagi di diri Roy. Rasa itu semakin tak terkandali ketika Nur malah mengarahkan tangan Roy ke sumur dalamnya.
__ADS_1
"Oohhh.." Roy langsung bangkit dari baringnya. Nur mengedipkan matanya, memberi isyrat cantiknya.
"Ayo.. Jangan ragu aku punya kamu.." Nur sama sekali tak keberatan malah ia lebih senang.
Seperti orang kecanduan Roy melakukan aksi ini lagi dengan Nur.
***
Ternyata benar di kamar itu Bisma dan seorang laki laki sedang bersama di tempat tidur.
"Bisma..?" Adel tak percaya yang ia lihat ini.
"A.. Adel..?" Bisma membuka matanya.
"Kamu..?" Laki laki di samping Bisma juga langsung sadar dari tidurnya.
Tidak ada suara dari keempatnya, tapi tiba tiba...
Bugghh buggghh buggghh buggghhh..
Stuart menghajar laki laki yang bersama Bisma. Sangat beringas dan bengis sekali, kancing kemeja yang di gunakan Stuart tadi sampai terlepas beberapa dan entah kemana arah terbangnya. Dada indah laki laki Jerman ini benar benar habis kesabaran dan membusungkan dadanya untuk menghajar orang itu.
__ADS_1
"Stuart.. Hentikan.." Bisma berusaha menolong laki lakinya.
Bukannya di dengarkan tapi Bisma juga ikut kena imbas pukulan Stuart. Sepertinya Stuart sangat lihai meninju, mungkin karna ia pernah menjadi salah satu petarung MMA.
Adel menutup matanya tak berani melihat perkelahian ini. Ia membuka matanya melihat lawan Stuart itu sepertinya benar benar terluka parah dan Bisma juga tak bisa berbuat apa apa, karna satu pukulan kuat dari Stuart di dadanya tadi.
"Stuart...!!" Adel mencoba menenangkan Stuart yang sudah di ambang batasnya. Kalau di teruskan laki laki itu akan mati di pukuli Stuart.
"Stu.. Stu.. Stuart.." Adel menarik Stuart dan mengelus dada terbuka itu.
"Stu tenanglah.." Adel menarik tatapan tajam Stuart padanya, mata Stuart dan Adel saling bertemu.
Adel menganggukkan kepalanya seolah mengatakan tak apa apa. Bola mata hitam Adel membuat Stuart terdiam dan mengatur nafasnya yang masih memburu dan dadanya yang terus di elus Adel yang masih kembang kempis.
Stuart menggigit bibirnya sendiri menatap arah lain untuk menenangkan dirinya lebih.
"Duduk di sana Stu.." Adel menunjuk sofa yang ada di ruangan itu.
Tanpa pikir lagi Stuart langsung ke sofa itu dan mendudukkan dirinya di sana. Tatapan bola mata biru tajam itu terus pada Bisma dan Laki laki itu.
Adel...
__ADS_1