AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 109


__ADS_3

Hery membuka matanya dan melihat Rena sudah bermanja manja padanya


"Sepertinya aku memang harus menjadi pengangguran biar bisa sama kamu terus, dari pagi sampe malamnya lagi, dan aku juga suka malam panas kita.." Hery pagi pagi sudah menggoda Rena.


"Eeemm boleh aja.." Rena mencium Hery terlebih dahulu.


"Semalat pagi sayang..." Rena sangat bersemangat hari ini.


"Iya selamat pagi juga sayang.. Apa tidur kamu nyenyak..? Aku sangat nyenyak mungkin karna samalam.." Hery mulai nakal dan tanganya mengganggu Rena di beberapa bagian sensitif Rena.


"Ihh.. Tangan ini.. Nakalnya.. Aku juga tidur dengan Nyenyak.." Rena memegangi tangan Hery yang nakal itu.


"Sayang aku cuma mau elus sayangku di sini.." Hery mengelus perut yang semakin bulat itu.


"Nak.. Papa kamu nakal loo nak.." Rena sungguh penasaran bahagi di pagi ini. Semoga tiap paginya seperti ini.


***


Hery dan Rena menikmati pagi ini di ranjang sedangkan Roy dan Debora kini sudah di meja makan untuk sarapan.


"Wah tumben pagi pagi udah ada di meja makan biasanya susah banget di panggil..: Eyang baru tiba di meja makan dan ternyata semuanya sudah berkumpul dan siap sarapan.


"Iya Eyang... Hari ini Debora dan Roy mau ke dokter. Selain Debora lanjutkan pengobatan, Roy ikut untuk bisa konsultasi juga Eyang.. Jadi kami dua bisa tahu apa cara cara yang bisa membantu. Ya berharap secepatnya bisa dapat dua garis lagi." Debora tersenyum sangat bahagia. Roy hanya diam dan fokus pada Sarapannya.


"Eehh Roy. Bukannya kamu mau angkat anak Hery...?" Eyang masih saja mengingatnya.


"Eyang kan gak mau bicarakan, kenapa Eyang bicarakan lagi..?" Tanpa menoleh pada Eyangnya Roy menjawab pertanyaan yang bisa di bilang meledeknya.


"Kalau Eyang gak mau kok di ulang ulang terus?" Tambah Roy.


Eyang hanya diam, mungkin ia memang salah karna terus saja mengingat. Mungkin saja Roy sudah berubah pikiran.


"Aku sudah selesai. Aku tunggu.." Roy naik ke kamarnya lagi meninggalkan Eyang dan Debora di meja makan.


"Ya ampun anak itu.." Eyang mengeleng gelengkan kepalanya.


"Eeeemm ayo Eyang sarapan.." Debora menjadi bingung harus dukung yang mana.


"Eeemm Eyang Debora juga selesai makan ya.. Eyang lanjut aja, kasian Roy tungguin Debora." Debora bangkit dan menyimpun piring kotornya dan piring kotor Roy lalu ia berikan pada pembantu di dapur.


Debora kembali ke kamar dan bersiap, ia melihat Roy sedang bermain ponselnya. Rasa curiga pasti ada di hatinya, semenjak dirinya jera dengan Roy yang mencari penggantinya maka Debora sangat sensitif jika melihat Roy memegang ponsel dan memainkannya.


Ia tahu ini semua memang berawal darinya, tapi sedikit demi sedikit Debora berusaha merubah dirinya jadi lebih baik, is menganti nomer telponnya dan menyudahi hubungannya dan John. Tidak membuat kode atau pin untuk membuka ponselnya agar Roy percaya kalau tidak ada lagi yang di tutup tutupinya.

__ADS_1


Tapi jangankan membuka ponsel Debora, Roy menyentuh saja tidak. Mungkin sempai sekarang Roy masih tak percaya padanya. Maka Debora memilih untuk bersabar dan menunggu.


***


"Sayang sudahkah..?" Rena memanggil Hery.


"Sebentar sayang.." Sahut Hery dari dalam kamar mandi.


"Iiisss papamu itu kayak cewek aja, lama mandinya. Kenapa sih..? Apa yang di bersihin..?" Rena berbicara pada kandungannya yang akan di periksa hari ini, Hery mengatur jabwal dengan dokter kandungan di rumah sakit, Hery ingin memeriksa anaknya itu dan berkonsultasi bagaimana dan apa saja yang di butuhkan, apalagi Hery dan Rena ada rencana untuk Babymoon.


"Bentar ya sayang.." Hery baru keluar dari kamar mandi.


"Uuuuuuuu.." Rena menutup mulutnya, entah kenapa ia begitu suka melihat tubuh Hery yang tak mengenakan pakaian.


"Apa sayang.. Tergodakah..?" Hery mengeringkan rambutnya dengan handuk dan berbalik melihat Rena.


" Ya aku tergoda.." Rena berjalan ke arah Hery dan langsung memeluknya.


Dingin dan segarnya tubuh Hery begitu nikmat. Rena juga memainkan dada Hery, "Aku suka ini.." Masih terus memainkannya.


"Jadi karna itu tadi suruh cepat.. Ada mau yang cepat lainnya aku kira cepat berangkat ternyata mau cepat yang lain." Hery juga sangat tergoda karna Rena yang memainkan dadanya. Apalagi di bagian sensitifnya.


"Makin besar.." Rena menatap Hery.


Hery malu malu, tapi ia tidak dapat menyembunyikan hasratnya. Naluri laki lakinya menyala jika barangnya terus di sentuh seperti ini.


"Ayoooo.." Rena benar benar nekad menggoda Hery.


"Ayolah..." Hery membawa Rena ke tempat tidur dan melakukan aksi lagi.


"Pagi ini aku gak akan sepolos semalam ya.. Aku sudah belajar banyak semalam.." Hery sangat bangga, ia membuka handuknya dan lanjut.


***


Debora dan Roy baru tiba di rumah sakit, Debora berjalan duluan dan Roy di belakangnya.


"Ini ruangannya... Aku daftat dulu ya.." Debora pergi dan berbicara pada perawat yang ada di sana juga.


Selesai mendaftar, Debora kembali lagi ke dekat Roy. Roy bingung dan tak mengerti apa yang sebenarnya mereka tunggu.


"Kita ngapain di sini...?" Pertanyaan seperti orang amesia saja.


"Kita lagi tunggu.." Jawab Debora yang membuat Roy semakin tak paham.

__ADS_1


"Tunggu apa sih...?" Roy mengaruk kepalanya.


"Antrian Roy.." Akhirnya Debora mengatakan dengan jelas dan dapat di pahami Roy.


"Kenapa kita antri...?" Roy sepertinya sangat cerewet.


"Ya kan banyak juga yang mau periksa Roy.. Sabar ya.." Kata Debora.


"Kamu kemarin gini juga...?" Roy menatap sekelilingnya.


"Iya makanya aku berangkatnya dari subuh.." Roy menatap Debora.


"Subuh..?" ulangnya.


"Iya..." Debora mengangguk yakin.


"Ooohhh astaga. Jadi kapan ini giliran kita...?" Roy mengusap wajahnya.


"Eeem sabar aja, moga aja bentar lagi.. Kalau kamu mau jalan jalan dulu boleh kok.. Aku takutnya kamu bosan tunggu di sini sama aku..." Debora yakin akan hal itu, seorang Roy Filip tak pernah mengatri sebelumnya.


"Kamu...?" Roy menatap Debora yang fokus ke dalam ruangan itu.


"Hah..? Aku..?" Debora baru sadar baru saja Roy menanyakan dirinya.


"Aku akan tetap di sini kalau sudah kita yang masuk aku telpon kamu gitu.." Tambah Debora lagi.


"Kamu begitu mau masuk dan lakukan pemeriksaan lagi...?" Roy memastikan.


"Iyalah Roy. Kamu tahu.. Aku baru menyesal dengan yang terjadi, abis aku ngerasain rasanya keguguran, aku sadar. Aku memang salah. Aku aja ngerasa sakit banget, apalagi anak itu kamarin. Pasti dia yang lebih sakit.... Makanya aku mau mencoba lagi untuk punya gantinya, aku akan jaga dia baik baik Roy.. Makanya ini yang harus aku lakuin Roy.. Aku mohon tolong aku satu kali aja.. Temani aku.." Debora menatap Roy.


Tatapan itu dalam sekali dan begitu tulus. Roy hampir saja percaya tapi Egonya naik lagi dan setelah mendengar itu Roy bangkit dan pergi dari hadapan Debora.


"Aku temani aja.." Ucap Roy dan berlalu.


"Nanti hubungi kalau sudah giliran kita." Tambahnya lagi.


Debora terseyum mendengarnya, Roy mau menemaninya saja sudah cukup untuknya. Kalau mau tidaknya Roy memberinya kepercayaan maka beri saja Debora Dukungan, agar dia cepat pulih dan bisa mengandung lagi.


***


Roy berjalan di sekitaran rumah sakit, di pandangannya tiba tiba ia melihat Hery dan Rena yang sedang berada di rumah sakit ini juga. Rasa ingin tahu Roy juga semakin besar.


Roy pun mengikuti Hery dan Rena tanpa sepengetahuan mereka.

__ADS_1


Roy..


Off dulu kawan.. Like dan koment ya..


__ADS_2