AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 207


__ADS_3

Adel melihat Bisma yang gemetaran di sofa. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin meluncur di pipinya.


"Bisma.. Bisma kamu kenapa..?" Adel segera berlari ke arah Bisma dan menangkup wajah Bisma.


"Adel. Adel...." Suara Bisma bergetar juga.


"Bisma kamu kenapa.. Apa ada yang sakit..?" Adel juga berkeringat.


"Adel.." Bisma menggenggam tangan Adel kuat. "Adel.. Aku takut.." Bisma semakin melemah.


"Ponsel ponsel aku mana.. Ponsel.." Adel langsung mencari ponselnya. Ia mencari tapi tak menemukan ponselnya di dalam tas. Maka makin paniklah Adel.


"Astaga.. Di mana ponsel aku..?" Adel lupa di mana ia meletakan ponselnya, entah tertinggal di hotel Bisma dan Albert atau di unit Stuart, Adel tak pasti tapi yang pasti ponselnya entah di mana.


Saat itu juga ponsel Bisma di saku celananya berbunyi. Adel segera mengambilnya. Adel juga tetap memeluk Bisma.


"Halo.. Hery.. Tolong Bisma... Dia.."


"Aku segera ke situ sekarang.."


Adel memeluk Bisma dengan erat. Ia juga mengusap usap telapak tangan Bisma.


"Bisma kuat Bisma.. Aku di sini.. Aku di sini.." Adel beberapa kali menangkup wajah Bisma agar memandangnya.


"Adel.." Bisma melemah tatapannya juga sayu. Tangannya dingin membuat Adel semakin panik.

__ADS_1


"Bisma.. Aku di sini.. Aku ada sama kamu.. Sebentar lagi Hery sampai di sini ya.." Tanpa terasa Adel mengecup kening Bisma dengan lembut.


"Adel.." Gumam Bisma lagi.


Mata Bisma tetap memandang Adel meski sayu.


"Iya.. Ini aku.. Kuat ya.." Cup.. Adel mengecup Bisma lagi.


Bisma hanya tersenyum memandang Adel yang baru saja mengecupnya. Setelah itu matanya terpejam sempurna.


"Bisma.. Bisma bangun Bisma.." Adel mengguncang guncang tubuh Bisma di pelukkannya.


"Ya ampun kok Hery lama banget.." Adel makin Resah.


"Adel.. Bisma..?" Hery pun akhirnya tiba.


"Bisma..?" Hery terkejut dengan keadaan Bisma.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit...!" Hery memopong Bisma dan membawanya, Adel mengambil tasnya dan membawa juga selembaran uangnya.


"Bisma.." Adel duduk di kursi penumpang bersama Bisma dan Hery yang mengemudi.


Suasana sangat tegang dalam perjalanan hingga tiba di rumah sakit. Hery mendaftarkan Bisma dan Adel menemani Bisma di tangani dokter karna tangan Bisma sejak di mobil tadi Bisma tidak mau melepaskan tangan Adel.


"Maaf Nyonya kami akan melakukan pemeriksaan pada pasien. Tolong tunggu di luar.." Ucap salah seorang perawat.

__ADS_1


"Tapi suami saya.."


"Biar mereka tangani Bisma, Adel.." ucap Hery.


"Eeemm" Adel hanya mengangguk dan meninggalkan Bisma bersama dokter dan perawat yang akan memeriksanya.


"Sabar Del.. Bisma baik baik aja.." Hery tahu Adel juga pasti mengkhawatirkan Bisma.


"Halo.. Rena sayang.." Hery bangkit dan bertelponan dengan Rena, Hery juga menceritakan kondisi Bisma terkini.


Setelah selesai bertelponan dengan Rena, Hery menghampiri Adel lagi.


"Del.. Tadi gimana bisa Bisma kayak gitu.. Apa terjadi sesuatu sama dia..?" Adel menghembuskan nafas panjang.


"Bisma.."


Adel mulai menceritakan bagaimana kisahnya yang menunggu Bisma tak pulang pulang, hingga ia dan Stuart memberi sedikit pelajaran pada Albert dan Bisma. Hery mengerti dan juga mendukung Stuart. Tapi kenapa Bisma sampai seperti ini yang tak di pahami Hery.


"Jadi Stuart dan Albert ada di sini.. Indonesia..?" Hery mengenal dekat Stuart.


"Iyaaa.." Adel tak henti henti meremas jarinya.


"Aku dan Stuart dari dulu juga sama, aku selalu ingin Bisma dan adiknya Stuart berubah. Jadi rencana kamu dan Stuart berhasil...? Dan Bisma tiba tiba begini..?" Itu adalah teka teki baru untuk Hery.


"Kenapa Bisma.. Apa yang sebenarnya terjadi sama Bisma..?" Gumam Hery.

__ADS_1


Satu jam berlalu...


__ADS_2