
Rena menghabiskan malamnya hanya du dalam kamarnya. Jika ia mengingat lagi ketika Roy mendorongnya tadi maka tanpa di minta pun Air mata Rena bercucuran. Itu membuat Rena kini merasa tak lagi di butuhkan Roy. Roy berprasangka buruk padanya hanya karna tak ingin mendengarkan penjelasan Rena dan Juga Hery.
Hery pun kini tidak tenang di kediamannya. Sedari tadi ia mondar mandir di depan mejanya berharap ada Seseorang menghubunginya. Jujur, Hery sangat percaya khawatir dengan Rena karna tadi saat Hery meninggalkan Rena di apartemennya Rena hanya masuk ke dalam unitnya dengan perasaan yang campur aduk.
"Rena... Coba hubungi aku, aku pasti akan langsung menemuimu... Huuuu perasaan ini... " Keluh Hery dengan apa yang ia rasakan.
"Apa aku hubungi saja Rena.. Tapi nanti Roy... Aahhh..." Semakin frustasilah Hery.
"Atau...?" Hery pun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo... Eemm Roy..?" ucap Hery saat penggilannya terhubung. Hery memilih menghubungi Roy saja.
"Ya Hery.. Apa ada kabar dari Rena padamu?" Tanya Roy terlebih dahulu.
"Ooohh... Rena tidak mengabari aku... Aku kira dia akan mengabari kamu..." Ucap Hery juga tidak tahu.
"Roy coba saja kamu hubungi Rena, takutnya ia membutuhkan sesuatu di apartemennya..." Ucap Hery sebenarnya sangat ingin dirinya yang melakukannya.
"Tapi tadi dia marah padaku Her.. Aku yakin di tidak akan menerima telpon dariku... Kamu saja yang hubungi ya.." Tawar Roy pada Hery.
"Tapi apa kamu tidak keberatan aku menghubungi Rena, nanti kamu..."
"Tidak Hery... Aku tidak akan salah sangka lagi padamu... Aku mohon Her.. Aku juga mau tahu kondisi Rena... Aku yakin kalau kamu yang hubungi Rena pasti menerimanya..." Tambah Roy lagi.
"Baiklah akan aku coba..." Ucap Hery dab mematikan telponya.
Karna sudah mendapat persetujuan dari Roy maka Hery dengan segera menghubungi Rena berharap Rena menerima telponnya.
Telpon Hery tersambung tapi Rena tidak menjawab telpon itu. Maka semakin banyak prasangka buruk Hery. Rasa takutnya pun semakin menjadi.
"Rena mana kamu... Angkatlah..." Berulang kali Hery menghubungi tapi hasilnya tetap sama.
***
Sedangkan yang sedang di hubungi kini sedang tidak di depan benda pipih itu.
Kini Rena hanya duduk termenung di balkon menatap Bintang bintang. Kelap kelip bintang bintang layaknya di menghibur kesendirian Rena.
Rena sangat sedih tapi berusaha tetap menghibur dirinya sendiri. Perutnya yang keronconyan tak ia rasakan sama sekali. Hanya rasa sedih yang ia rasakan.
"Haaaahh... Nak... Kamu sedang apa... Apa kamu juga lelah seperti mama nak... Ayo kita istirahat..." Rena beranjak dari balkon menuju kamar.
__ADS_1
Tak melihat ponselnya, Rena langsung saja naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
TOK TOK TOK...
Suara ketukan di pintu unit Rena membuat Rena harus bangkit lagi dan membukakan pintu.
"Pasti Hery atau Roy..." Rena membuka pintu dan melihat "Siapa? Eh..." Rupanya dugaan Rena salah.
Itu bukanlah Hery atau pun Roy dan ternyata adalah Dion yang sudah melempar senyuman manisnya ada Rena.
"Selamat malam... Aku hanya ingin memeriksa keadaanmu Re..." Ucap Dion dan menyerahkan sebuang bingkisan.
"Ini kalau kamu sudah makan simpanlah di kulkasmu..." Ucap Dion yakin Rena pasti sudah makan di jam segini.
"Ini apa Dion...?" Tanya Rena.
"Itu Donat.. Aku suka sekali yang namanya donat. Itu beberapa rasa kesukaanku.. Tiba tiba tadi aku sangat ingin membelikanmu..." Ucap Dion masih terus tersenyum tapi ia juga memperhatikan ada yang berbeda dengan Rena, Ekspresinya kurang ceria dan bahagia. Pasti ada yang terjadi pada Rena hari ini lagi tadi.
"Rena semuanya baik baik saja kan...? Kenapa kamu murung seperti itu... Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Dion langsung.
"Aah tidak apa apa Dion aku hanya sedikit lelah..." Ucap bohong Rena.
"Apa kamu belum makan... Wajahmu pucat sekali... Atau ada yang sakit lainnya...?" Tanya Dion bertubi tubi.
"Aku mohon Rena katakan padaku.. Bukankah aku sudah pernah bilang jangan ragu berceritakan pada aku.. Aku yang paling pahan masalah ini Rena.. Rena..."Dion semakin memaksakan Rena dengan mengengam tangan Rena dengan erat.
"Dion..." Rena mulai menangis di depan Dion.
Tak ingin banyak yang melihatnya maka Dion membawa Rena masuk agar Rena leluasan menceritakan kisahnya hari ini padanya.
***
"Roy.. Aku tidaj dapat menghubungi Rena coba kamu lagi. Aku sudah tidak terhitung berapa kali menghubungi Rena..." Ucap Hery menceritakan dirinya yang sedari tadi berusaha menghubungi Rena dan tidak mendapatkan hasil yang di harapkan.
"Aduhhh... Her bagaimana ini, Aku tidak bisa leluasa keluar karna ada Eyang di rumah ini. Aku tidak bisa gegabah... Coba kamu ke apartemennya saja... Cek kondisinya.." Saran Roy lagi. Hery juga rasa itu adalah ide yang bagus.
"Baiklah aku akan segera ke sana..." Karna Roy yang memintanya lagi maka Hery pun melakukan apa yang Roy perintahkan dan itu juga yang di inginkan Hery.
***
Rena sedang menceritakan keluh kesahnya pada Dion dan Dion selalu sedia untuk menjadi pendengar Rena.
__ADS_1
"Begitu Dion... Aku sangat sakit hati Dion... Apa memang ini adalah azab dari seorang wanita simpanan...?" Ucap Rena benar benar sedih dengan keadaannya yang kini semakin memburuk.
"Rena.. Kamu tidak melakukan kesalahan.. Hanya saja Roy, suamimu itu yang kurang pengertian padamu.. Masa dia mendorongmu dan juga gak mau dengar penjelasan kamu dulu. Kalau mau tahu kejadiannya seharusnya dia dengar dulu... Baru kalau mau marah marah ya silahkan. Tapi jangan juga sampai mendorong dorong atau bertindak kasar pada seorang wanita... Apa lagi mengingat kamu yang sedang mengandung ini.. Kasian kan dedeknya..." Tanpa Dion sadari ia langsung mengelus elus perut Rena dengan lembut.
"Dion..." Rena masih berlinang airmata.
"Ya..?" Dion juga menatap Rena dengan sungguh sungguh.
"Aku lapar... Aku tadi belum makan.. Kita makan donat yang kamu beli ya..." Ajak Rena dan mulai menghapus airmatanya dan Dion pun mengambil bingkisanya tadi dan membukanya.
Tampak menggoda dengan berbagai rasa dan topping yang menmenuhi donat yang Dion beli untuk Rena. "Aku mau ysng coklat Dion.." Ucap Rena dan Dion pun mengambilnya dan menyuapkannya langsung pada Rena.
"Eemmm lumayan enak ya.." Ucap Rena dan terus mengunyah donatnya.
***
Hery baru masuk ke dalam mobilnya hendak menuju apartemen Rena mengecek keadaan Rena alasannya. Debar debar Hery menganggunya sejak tadi. Entah apa yang akan Hery lakukan nanti karna ia sudah sangat khawatir pada Rena.
Hery mencoba menenangkan dirinya, menarik nafasnya dan menghembuskannya lagi dengan perlahan.
"Ayo Hery..." Hery pun menjalankan Mobilnya dan berdoa di setiap perjalanannya.
***
Dion dan Rena sudah selesai makan donat dan juga Dion membuatkan Coklat hangat untuk mereka berdua.
Kini Rena tinggal sendiri di unitnya karna sudah larut juga, Dion juga sudah kembali ke unitnya. Rena memilih untuk membersihkan dirinya di kamar mandi walau hanya membasuh wajahnya.
TOK TOK TOK...
Sepertinya orang yang mengetuk pintu sudah tidak sabaran untuk di bukakan pintu.
"Siapa lagi sih.. Ini sudah larut malam banget..." Rena membuka pintunya dengan perlahan, melihat siapa yang betamu malam malam seperti ini.
"Hery..." Pekik Rena melihat Hery berkeringat di depan unitnya dan dengan nafas yang menggebu gebu.
"Rena..." Ucap Hery dengan terengah engah.
"Hery kamu kenapa...?" Tanya Rena dengan panik.
Bugh...
__ADS_1
off dulu kawan... like ya... Dukung author...