
Debora senang mendengarnya. Ada yang peduli padanya seperti ini, maka ia merasa beruntung.
"Lanjut..!" Pinta Debora.
"Oke oke.." Dion mengangguk.
"Tadi sampai mana ya..?"
"Ck... Kamu sangat butuh sosok Ayah.." Debora mengingatkan.
"Ooohhh iya.. Hmmm bukan maksudnya Diana dan Dario gak butuh juga, tapi aku yang ingin makin tahu.. Seperti apa itu ayah.. Apa yang di lakukan, apa yang dia kerjakan.. Seperti apa dia sayang anak anaknya.. Bagaimana dia jauh dari anaknya.. Aku mau tahu itu semua. Mungkin yang di katakan Diana memang betul. Aku ini sangat lembut, penurut dan polos.." Dion menatap Debora dan begitu sebaliknya.
"Jadi setelah kamu ketemu sosok ayah itu bagaimana..? Dan kenapa kamu mau tahu itu semua..?" Ingin rasanya Dion memangut bibir Debora saat ini juga.
"Yaaa.. Karena aku mau jadi sosok ayah yang baik.. "Untuk anak kita nanti.." hati kecil Dion.
"Sosok ayah yang baik..?" Dion mengangguk.
"Aku ambil pelajaran dari ayah Iban.. Aku gak akan buat kesalahan dalam menjaga anak dan istri... Aku gak akan tinggalkan mereka sama seperti yang ayah Iban lakukan dulu.. Dan akhirnya sekarang, dia kesulitan dapat maaf dari anaknya.. Di kesulitan bertemu dengan mereka.. Aku gak mau gitu.. Aku akan jadi ayah terbaik untuk..." Dion menoleh pada Debora.
__ADS_1
"Apa..?" Debora sudah menunggu Dion bercerita lagi.
"Untuk..." mata Dion beralih ke perut buncit Debora.
"Untuk anakmu nanti..?" Debora menebak.
"Eeeemm" Dion mengangguk "Anak kita lebih tepatnya Bora.."
"Iya.. Kamu pasti jadi ayah terbaik untuk anak anakmu.. Aku liat aja dari kamu sayangi anak anak di panti.. Mereka sayang banget kamu.. Kamu seolah sudah berhasil jadi ayah yang baik.." Debora mengingat pertemuannya dan Dion di panti beberapa waktu yang lalu.
"Ya di sana aku adalah ayah yang baik.. Untuk anakku nanti aku akan jadi ayah terbaik di dunia.." Dion terkekeh setelah mengatakan itu Debora juga mengangguk setuju.
"Aku suka.." Dion menatap kaki Debora.
"Tapi ini, biarpun bengkak.. Gak sakit kah di bawa jalan.. Kalau sakit nanti aku gendong ya.." Debora memicingkan mata. Itu bukanlah jawaban dari pertanyaanya.
"Gak usah.. Gak sakit kok.. Cuma.. Sendal, sepatu aku banyak yang gak muat.." Dion langsung menoleh pada Debora.
"Mau aku belikan yang baru.. Apa ukuran kakimu kemarin..?" Dion bersemangat.
__ADS_1
"Kamu ini ya.. Kamu liat itu..!" Debora menunjuk sudur ruangan kamarnya ini.
"Barang calon bayi mu nanti.." Dion melihat dengan jelas apa yang di tunjuk Debora.
"Itu semuanya dari kamu..!" Debora menggelengkan kepalanya.
"Oohhh yang kita belanja itu..? Ya memangnya kenapa.. Kan sendal dan sepatu kamu banyak yang gak muat.. Ya aku beli yang barulah.. Baru sendal kok repot.." Cicit Dion.
"Makanya itu, baru sendal kok repot.. Ya gak usah repot repot Dion.."
"Ya udah. Aku gak beli sendal tapi kalau kamu jalan, aku gendong.." Debora mendelik mendengar ocehan Dion
"Aku kan sudah bilang.." Debora ingin mengelak lagi. Tapi di potong Dion cepat.
"Aku juga sudah bilang... Uang seorang laki laki itu harus di habiskan wanita.. Percuma uangnya banyak, tapi gak di habiskan sama wanita kan..? Buat apa coba.. Gak ada gunanya.. Kalau uangnya di habiskan seorang wanita, wanitanya senang.. Ya laki lakinya ikut senang.. Kayak aku.. Percuma uang banyak tapi gak ada yang habis.. Mana ada aku senang.. Makanya aku ajak kamu habiskan uangku.. Biar aku senang.." Dion mencolek dagu Debora.
Debora hanya memejamkan matanya sambil menggeleng.
"Jangan pejam gitu.. Nanti aku khilaf gimana..?"
__ADS_1
Debora..