
Eyang mungkin yang paling senang dengan pernikahan ini, Senyumnya juga terus mengembang setiap kemesraan yang Hery dan Rena lakukan maka yang paling bahagia adalah Eyang melihatnya.
Sedangkan Roy dan Debora biasa saja dan tak ada ekspresi kebahagian di wajah mereka. Roy yang masih sakit hati, Debora yang tak peduli dengan apa yang terjadi di hadapanya karna itu tidak penting untuknya.
***
Kini tiba acara resepsi pernikahan yang di adakan di hotel yang kemarin di datangi Rena dan Hery. Semua orang terpukau dengan dekorasi yang menghiasi hotel itu yang sangat indah. Nuansa dari warna yang menghiasi tempat itu membuat para tamu undangan merasa sejuk memandangnya.
"Apa kamu suka..?" Hery yang sedari tadi mengelus elus tangan Rena memertanyaan pertanyaan yang ia sudah tahu jawabannya.
"Tentu aku suka Hery... Ini indah sekali, semua wanita itu mau punya pernikahan kayak gini. Pakai gaun yang cantik, pesta yang meriah, dan yang paling terbaiknya itu, punya suami kayak gini..." Rena mencubiti pipi Hery.
"Nakaknya istri aku ini.." Hery merangkul Rena.
"Ooowwww... Pengantin baru ini.. Gak peduli di mana mana udah manja manja ya..?" Eyang datang pada keduanya dan memberikan selamat pada Rena dan Hery.
"Kamu hebat Hery, bisa bikin acara pernikahan semeriah ini dan semegah ini.. Makanya Rena keliatannya senang banget.." Eyang mencolek dagu Rena.
"Eyang jangan pegang pegang Istri Hery ya.. Cuma Hery yang boleh pegang pegang..." Hery memeluk Rena dengan posesifnya dan menggoda Eyang.
"Uuuu uuu uu.. Cemburuan ya.. Eemmhh eeeemmhh eeemmhh.." Eyang mengelengkan kepalanya.
"Selamat ya sayang.." Eyang melepas tangan Hery dan memeluk Rena dan memberi selamat pada Rena.
"Makasih Eyang.. Restu Eyang sangat berharga untuk Rena..." Benar yang dikatakan Rena, restu Eyang adalah yang terbaik, jika bukan karna Eyang, maka Rena tidak akan menikah dengan Hery, ia hanya akan jadi simpanan Roy. Di tambah lagi desakan dari Debora. Rena sangat bersyukur ia bisa bebas dari semua itu.
"Hery.. Selamat.." Roy hanya bersalaman dengan Hery.
"Makasih ya.." Hery tetap menebar senyumnya pada Roy. Tapi Roy tak mengubrisnya.
__ADS_1
"Selamat.." Kini Roy memberi selamat pada Rena.
"Makasih.." Rena mengangguk dan Roy pun berlalu seperti tidak mengenal Rena dan Hery.
Hery menggenggam tangan Rena. Kini Tamu yang lain juga ikut memberikan selamat pada keduanya.
***
"Aaahh aku lelah..." Rena dan Hery kini berada di kamar mereka di hotel ini. Hery langsung menyewa kamar untuk mereka bermalam.
Rena dan Hery baru saja duduk di sofa dan melenturkan otot otot yang kaku dan tegang dari tadi pagi.
"Haaahh.. Sayang kamu mau apa aku buatkan.." Tawar Hery padahal ia juga lelah. Tapi jika tentang Rena maka Hery tak mau peduli akan apa yang ia rasa.
"Aku mau di elus..." Rena sangat manja pada Hery.
"Muka.. sama Rambut.." Jawab Rena lagi.
"Siap ratuku.." Hery pun melakukan yang Rena pinta.
***
Kamar Debora dan Roy malam ini begitu gelap, Debora masih terjaga belum tidur begitu pula dengan Roy. Tapi kamarnya gelap, entah mengapa.
Debora memainkan game di ponselnya, Roy hanya terdiam di tepi ranjang. Sesekali Debora memandang Roy. Dan sesekali juga Roy yang memandang Debora di hadapannya tapi sedang asik main Game.
"Kamu gak ngantuk Roy..?" Debora berhenti bermain gamenya dan bersiap siap untuk tidur.
"Eeemm tidur aja duluan.." jawabnya tapi tetap menatap ke bawah.
__ADS_1
Debora pun berlalu dan mengganti bajunya dengan baju tidur. Tak berselang lama pun Debora kembali lagi. Debora menyalakan lampu, dan jadilah terang sekamar. Ia tak langsung tidur, ia ke meja riasnya dan mengenakan handboddy, skincarenya dan sisiran.
Roy menoleh pada Debora yang sedang di meja riasnya. Aroma handboddy yang Debora kenakan ini sepertinya Roy kenal. Debora sengaja membeli handboddy yang dulu ia pernah kenakan saat masih di cintai Roy dengan sepenuh hati. Dan Debora juga kala itu masih bermanja manja pada Roy.
Roy tersenyum sendiri ketika membayangkannya. Debora pun selesai dengan ritual sebelum tidurnya dan naik ke tempat tidur. Roy hanya diam di tempat, merasakan geral Debora di tempat tidur itu, tak ada rasa ingin atau tergoda pada Debora. Semua rasa itu sudh hilang dari Roy.
Roy malah membayangkan Rena yang sedang nyaman menikmati malamnya dengan Hery dan mungkin saja kan mereka Sekarang sedang bercinta layaknya pengantin baru. Semua pikiran itu berputar putar di kepala Roy.
Roy masih tak rela kehilangan Rena begitu saja. Apalagi bersama Hery, itu hanya akan menggangu pikiran Roy. Roy kembali mengenang hari harinya bersama Rena. Semuanya sangat menyenangkan.
Airmatanya menetes sendirinya tanpa di minta oleh Roy. Rasa sedih melandanya, Debora melihar bahu Rpy sedikit bergetar. Debora yakin Roy manangis. Walaupun tak tahu kenapa tapi ini adalah kesempatan yang bagua untuk mendapatkan kepercayaan Roy lagi.
"Roy.. Kamu gak apa apa kan..?" Debora melembutkan suaranya.
"Kamu kenapa gam Tidur.." Roy menghapus air matanya.
"Aku gak bisa tidur kalau kamu juga belum tidur Roy.." Debora mulai melancarkan aksinya.
"Sudah Debora aku gak perlu rasa kasian kamu.." Roy menepis tangan Debora yang mengusap usap di bahunya.
"Roy aku bukannya kasian, tapi aku juga merasa sedih Roy. Aku tahu ini semua salah aku, aku buat kamu terjebak dalam masalah ini. Kalau dulu aku setia sama kamu gak selingkuh, kamu gak perlu berhubungan sama Rena, kita, punya anak, aku hamil anak kamu, Eyang pasti senang banget, tapi aku sia siakan semua itu, aku juga ikut sedih Roy sama keadaan ini. Aku yakin ini pasti nyiksa kamu banget kan.. Maaf ya Roy.. Aku janji, aku gak akan hianati kamu lagi ya.. Maaf Roy.." Debora mengeluarkan airmata buayanya untuk pura pura ikut sedih seperti Roy.
"Debora.. Kamu gak akan pernah bisa paham isi hati aku..." Roy tetap menepis Debora.
"Aku tahu Roy... Kamu masih cinta sama Rena, kamu sudah gak percaya aku, tapi sekarang Rena malah pilih Hery adalah teman kamu, Rena sangat percaya Hery dan kayaknya makin cinta sama Hery. Kamu mau buka semuanya tentang aku tapi gak bisa karna kondisi Eyang.. Kamu juga belum siap kehilangan Eyang.. Aku tahu semua itu Roy.. Aku tahu..." Debora menangkup wajah Roy dan menghapus airmatanya.
Roy malah makin menangis, Debora pun berhasil memeluk Roy dengan baraninya, Roy tak mendorongnya atau mengusirnya. Ini adalah pertanda baik untuk Debora. Mungkin saja kedepannya akan lebih baik, dan rumus yang harus Debora pakai adalah Hery dan Rena. Itu adalah jalan yang paling tepat agar Roy tak lagi berharap ada Rena, dan menjadikan Debora lagi sebagai istri yang paling di cintai Roy.
Off dulu kawan.. Like ya dan jangan lupa koment juga, rate bintangnya dan beri hadiah bunga ya.. Hihihi.. Mau donk...
__ADS_1