AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 238


__ADS_3

"Kamu liat kan dia sangat cantik.."


Stuart menatap foto yang ia ambil diam diam saat di depan Adel tadi.


"Aku akan dapatkan dia kan.. Coba pikirkan betapa beruntungnya aku nanti memiliki dia.. Pinta masak, cantik, setia,


Penyanyang.. Gak ada kurangnya Al.." Stuart tergila gila pada Adel.


"Ya.. Dia akan menjadi kakak iparku nanti.." Ledek Albert.


"Ya.. Kami akan punya banyak anak.. Anak anak yang cantik dan tampan.. Oohh Adel.." Stuart sangat gemas pada ponselnya yang berisi foto Adel.


"Sabar.. Satu langkah lagi, maka Adel akan jadi milik kamu.." Albert menyalakan putung rokoknya.


"Yakin cuma sekali lagi.. Aku liat Bisma sepertinya mulai berbeda.. Gak kayak dulu.." Stuart memicingkan matanya.


"Berhasil atau gaknya Aku dapatkan Bisma, yang pentingkan Adelnya.." Asap putih mengepul dari mulut dan hidung Albert.


"Betul.. Adel ku.. Oke.. Lakukan maka aku akan bawa Adelku pergi secepatnya.. Aku yakin Bisma juga gak akan masalah akan itu.." Stuart mengusap usap dagunya.


Albert menaikkan kedua alisnya bersamaan.


"Bersulang.. Meski untuk yang pertama kalinya kita bersulang bersama" Stuart mengangkat gelas winenya.


"Bersulang kakakku sayang.. Dan untuk kakak iparku juga.."


Ting..


Pertemuan kedua gelas kaca itu membuat bunyi dentingan, dalam beberapa tegukan wine itu habis di minum Stuart dan Albert bersamaan.


***

__ADS_1


Adel membawa Bisma pulang dan merawatnya di rumah. Ia juga mengabari Hery tentang keadaan Bisma, tapi Bisma mengerti keadaan Hery dan meminta Hery untuk tidak khawatir padanya karna ada Adel yang menjaganya.


"Adel.. Lagi apa..?" Bisma mendatangi dapur dan melihat Adel sepertinya tengah sibuk.


"Bisma.. Gak istirahat..? Kok malah ke dapur..?" Adel sedang mengaduk sup hangat untuk Bisma.


"Aku gak bisa tidur Del jangan paksa aku tidur.." Bisma duduk membelakangi kursi persis anak anak biasanya.


"Ya udah diam di situ..!" Titah Adel.


"Ya.. Kamu gak mau marah sama aku..?" Bisma melirik wajah Adel.


"Marah.. Cih.. Aku gak bisa marah sama orang yang lagi sakit. Nanti kalau kamu sehat baru aku marah marahi kamu sampai puas.. Sampai berbusa busa mulut ini.." Oceh Adel sambil memasak seperti emak emak menceramahi anaknya.


Bisma malah terkekeh mendengarnya.


"Makasih.."


"Gak tahu aku mau bilang makasih aja.."


"Eeemmm.." Adel memanyunkan bibirnya.


"Udah becandanya, ayo makan.." Ajaknya lagi.


"Baik Nyonya.." Cicit Bisma lagi.


***


Malam ini berbeda untuk Debora, ia menikmati malam ini dengan merenung sendiri di kursi taman.


Mengelus perut buncitnya, berbicara sesuka hatinya.

__ADS_1


"Debora..?" Rena menghampiri Debora.


"Ya..?" Debora menoleh pada Rena.


"Kok malam malam di luar sendiri di luar..?" Rena duduk di samping Debora.


"Aku cuma ajak Baby bercakap aja kok.. Dari tadi dia gak bisa diam di dalam sana.. Terasa banget.." Debora terus mengelus perutnya.


"Ya kah..?" Rena juga mengelus perut Debora.


"Eehhh iya.. Dia gerak gerak.."


"Ya kan.." Debora merasa sangat senang.


"Sehat sehat ya baby.. Nanti kamu punya banyak teman looo.. Ada Alf dan Elf dan Baby kecil ini juga nanti.. Wahhhh ramenya." Rena sudah membayangkannya.


"Iya.. Pasti lucu liat mereka main bareng.." Debora juga sudah tak sabar menunggu hari itu tiba.


"Rena, besok aku mau ke mall mau cari kebutuhan aku dan Baby nanti kalau dia sudah lahir.. Beberapa hari yang lalu dia genap tujuh bulan jadi sudah bisa deh nyicil nyicil barang barangnya gitu.." Debora bersemangat.


"Ya.. Boleh.. Aku juga ikut ya temani.." Pinta Rena.


"Gak ah gak usah Ren.. Kamu juga lagi hamil muda.. Gak boleh banyak jalan jalan, apalagi kecapek'an.. Gak boleh.."


"Haisss Debora.. Kamu juga sudah kayak Hery. Masa putik sayur aja gak boleh.."


"Hahahahahaha.." Debora malah tertawa kencang.


"Kamu sama siapa donk..?" Rena khawatir Debora pergi sendiri.


Debora...

__ADS_1


__ADS_2