
Roy pulang dengan lesu, tidak ada gairah dalam hidupnya, semuanya seakan tidak ada gunanya lagi, bahkan tidak ada gunanya lagi ia hidup.
"Roy... Sudah pulang sayang.." Sang Eyang menyambutnya dengan hati riang.
"Iya Eyang kan Roy janji bentar aja tadi.." Satu senyumam Roy akhinya timbul juga.
"Iya.. Oh ya sayang tadi Eyang ada pilih rumah yang bagus untuk Hery dan calon istrinya. Mau lihat..?" Eyangnya sangat bersemangat.
Roy pun memilih untuk menemani Eyangnya. Karna itulah yang harus ia lakukan, karna juga Eyangnya adalah pilihanya. Ia memilih untuk menjadi cucu yang baik pada Eyangnya dari pada menjadi suami yang baik untuk istrinya. Dan Ayah yang baik untuk anaknya kelak.
"Ya Eyang mana, Roy mau lihat.. Dan Roy tadi ketemu Hery juga, tapi di sibuk sama persiapan pernikahannya Eyang.." Terang Roy juga ingin membuat sang Eyang lebih bahagia.
"Oohhh ya.. Wah bagus donk.. Hery harus buat yang terbaik untuk pacarnya itu, Eyang yakin Hery bisa." Roy juga yakin akan itu. Apa sebenarnya yang tak bisa di lakukan seorang Hery Krisnata.
"Mana rumahnya Eyang..? Roy juga mau lihat.." Eyang membawa Roy duduk bersamanya di sofa dan memperlihatkan pilihan pilihannya. Roy terpukau, pilihan pilihan Eyangnya sangatlah indah dan sepertinya cocok untuk Hery dan Rena.
"Iya Eyang kita pilih yang ini bagaimana.. Roy suka, dan Roy yakin cocok sama Hery dan Rena.." Roy menunjuk rumah berwarna hijau toska dan di padu warna putih dan hitam. Sangat berwarna dan dari arsitekturnya juga terkesan megah.
"Oke yang ini ya Roy.. Eyang jug suka yang ini.." Eyang menyetujui pilihan Roy. Debora dari atas anak tangga hanya memperhatikan.
"Tapi Eyang nanti kalau Hery sama Rena sudab nikah, bolehkan bawa Rena dan Hery tinggal di sini sama kita.. Ya sekalian Eyang jagain Rena juga, kan Rena juga lagi hamil, kalau di tinggal Hery kerja sama Roy kan gak ada yang jaga dia. Nah kalau dia di sini kan lebih nyaman, ada Eyang.."
"Ada Debora juga yang bisa jagain Rena.. Boleh ya Eyang.." Debora langsung memotong ucapan Roy.
"Eeemm ya nanti Eyang bilang sama Hery, moga aja Herynya mau bawa istrinya." Ucap Eyang lagi.
"Harus maulah.. Kan Eyang yang minta Hery pasti nurut.. Dan sebagai istrinya Hery, Rena juga harus mau donk. Gak boleh nolak permintaan suami.." Debora tersenyum penuh kemenangan.
"Dan Debora juga sangat senang kalau wanita gak tahu malu itu masuk rumah ini, ada hiburan Deh.." Niat jahatnya terus membara.
Roy mendengar ucapan Debora itu menjadi ketar ketir. Bagaimana tidak, Debora pasti akan memperlakukan Rena dengan tidak baik nantinya, Roy menyesal telah meminta Hery dan Rena untuk tinggal bersama mereka kepada Sang Eyang.
"Tapi Eyang, Roy yakin Hery pasti tidak akan mau, Hery sangat posesif sama istrinya, em maksudnya pacarnya, jadi kemungkinan besar Hery gak akan mau.." Tambah Roy lagi. Roy masih ingin mengawasi Rena dari dekat. Oleh karna itu ia minta Eyang untuk membujuk Hery untuk tinggal bersama mereka, tapi Roy melupakan Debora yang juga masih menempel di rumah itu, dan itu adalah ide buruk jika Rena dan Debora satu rumah.
"Eyang akan tetap mencoba Roy.. Kalau belum di coba kan gak tahu apa jawabannya." Sahut Eyang juga.
"Betul Eyang.. Masa kumpul sama keluarga suami aja gak mau.." Sambung Debora lagi penuh yakin.
"Debora... Eeemm aku haus, bikinkan aku minuman.." Pinta Roy tiba tiba padahal ia tahu Debora dan Eyangnya sedang berbincang.
"Isss kan banyak pembantu di dapur kok suruh aku, terus mereka di gaji untuk apa..?" Debora tak mau di perintah Roy.
"Tapi aku sangat ingin kamu yang buat. Entah aku ini kenapa. Eeemm Eyang kalau laki laki bisa ngidam juga kah..?" Roy pura pura polos di depan Eyangnya.
__ADS_1
"Iya Bisa lah.. Kenapa? Kamu ngidamkah?" Eyang memastikan karna tak biasanya Roy seperti itu.
"Iya Eyang.. Entah kenapa Roy sangat ingin Debora buatkan Roy jus manggo sweet.." Roy masih terus memelas dan menekan Debora.
"Wah.. Debora cepat buatkan suami kamu apa yang dia minta itu. Kasian dia yang ngidam.. Kamu gak ngidam Kah Debora..?" Eyang makin yakin kalau yang mengalami ngidam adalah Roy.
"Eeemm gak ada sih sekarang Eyang kan baru 3 bulan lebih aja.." Remeh Debora.
"Ya gak ada lah orang aku yang ngidam.." Sahut Roy lagi.
"Sudah Debora, buatkan apa yang Roy minta..." Titah Eyang lagi.
Mau tak mau Debora bangkit dan menuju dapur. Roy tersenyum puas, ia berhasil mengerjai Debora. Eyang pun senang Roy dan Debora begitu akur di matanya. Padahal yang sebenarnya sangat terbalik dari harapan Eyang.
"Lihat aja kamu Roy.. Berani kami main main sama Aku..?" Debora sedang meminta pembantu di dapurnya menyiapkan minuman yang Roy minta. Senyumnya mengembang mendapat ide bagus lagi.
"Ini jus manggo Sweetmu Roy.." Debora membawanya dari dapur dengan senyum yang terus mengembang.
"Nah gitu donk.. Roy minum sudah.. Debora sudah buatkan.." Eyang menyodorkan gelas berisi jus mangga itu pada Roy.
"Eeemm tapi Roy sudah gak mau Eyang.. Eeemm Roy kok tiba tiba malah ngantuk ya.?" Roy berpura pura lagi. Debora mengangac tak percaya. Kalau Roy tidak meminumnya maka akan sia sia rencananya.
"Tapi Roy kamu mau itu tadi, minum ua walaupun dikit aja.." Pinta Debora.
"Eemmm tapi Roy sudah gak mau Eyang.." tolak Roy lagi.
"Ooohhh ya ampun Roy.. Ya sudahlah.. Sana tidur sudah..." Roy tersenyum dan segera naik ke kamarnya.
"Tapi Minum dulu seteguk Roy.. Aku mau lihat kamu minum minuman buatan aku.." ucap Debora lagi ngotot.
"Iya Roy gak ada salahnya minum seteguk untuk menghormati Debora yang sudah buat susah payah..." Roy hanya tercengir dan mau tak mau ia meminum sedikit jus tersebut. Dan setelah itu barulah ia beranjak ke kamar.
Debora tersenyum bahagai. Dengan cepat pula ia menuju kamarnya. Menunggu aksi dari rencananya. "Roy aku sangat merindukanmu.." Gumam Debora sambil menaiki tangga.
"Roy..?" Debora masuk dan melihat Roy berdiri di dekat jendela.
"Eeemm?" Ya sekarang pertanyaan hanya bisa di jawan Roy dengan berdehem.
"Kamu lagi apa..?" Berpura pura baik sekarang.
"Gak ada.." Cukup singkat.
"Eeem Roy.. Aku tadi liat rumah rumah yang kamu suruh Eyang pilihkan, aku juga mau punya rumah cantik dan mewah kayak gitu Roy.." Ucap Debora sambil memohon.
__ADS_1
"Lalu.." Roy menoleh juga pada Debora di belakangnya.
"Kasihlah aku satu rumah juga.." Debora tanpa Ragu.
"Kalau gitu kamu harus nikah dulu sama orang lain baru aku kasih hadiah rumah mewah." Jawab Roy asal.
"Eh kok gitu.." Debora tak terima.
"Ya kan Rena mau nikah sama Hery ya dia patut dapat hadiah donk.. Jadi kalau kamu mau dapat rumah bagus juga ya kamu harus nikah juga sama laki laki lain. John misalnya, baru aku kasih hadiah rumah.. Mau..?" Tawar Roy.
"Iisss kamu ini.. Hadiah lahirankah gitu, bukanya hadiah nikahan..." sungguh tanpa sensor.
Roy tiba tiba merasa aneh dengan dirinya. Roy memilih untuk tetap tenang berpura pura menghubungi Hery. Debora pun pergi dari hadapan Roy entah kemana.
"Her.. Aku kenapa ya..?" Saat pertama kali menerima telpon Roy Hery yang sedang mengendari mobilnya merasa aneh juga, baru kali ini Roy menelponnya langsung menanyakan hal yang lebih aneh seperti itu.
"Kamu kenapa Roy.?" Tanya balik Hery.
"Aku rasanya panas banget.. Mau mandi gitu Her... Tapi kenapa ya.. Ya amlun panas banget Her.." Keluh kesah Roy dengan yang ia rasa pada Hery.
"Kmu ada minum atau makan apa gitu sebelum ini..?" Masih terus bertanya bahkan Hery sampai menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mendengarkan Roy.
"Aku tidak ada makan atau minum Hery.. Oohh ya cuma minum jus Mangga buatan Debora tadi Her.." Bari Roy ingat.
"Oh Roy yang malang, kamu belum pernah minum obat Pr**sang ya..?" Tanya Hery dengan hal yang lebih aneh lagi.
"Eeemm gak pernah Her.. Emangnya kamu pernah ya..?" duga Roy pada Hery.
"Ya pernah... Roy dengar kamu itu lagi terangsang dan satu satunya obatnya adalah... Hot game.." Hery mengatkannya dengan yakin.
"Hah..?" Roy tahu arti yang di katakan Hery karna ialah yang menamakan Hot game itu.
"Pasti tadi Debora masukan obat pra**Sang di jus kamu makanya kamu jadinya begini.." Hery sampai mengangguk anggukan kepalanya dari jauh.
"Kalau begitu aku ke apartemen Rena aja.. Minta tolong Rena..." Ucap Roy asal.
Hery...
Off dulu kawan.. Siang lagi ya.. Likenya donk.. Di setiap bab itu di like ya kalau sudah di baca... Apalagi ampe suka ceritanya, wah patut banget di like tohhh..
Dan satu lagi like itu gak termasuk hitungan pendapat author ya.. Itu cuma dukungan.. Coba deh kalau kalian pencet Like pasti ada tulisan "Anda telah memberi satu dukungan.." gitulah kurang lebihnya. Dan itu sama sekali gak nyentuh pendapatan Author.
Pendapatan Author itu dari jumblah pembaca yang pada hari itu masuk misalkan dalam hari ini author dapat 100 pembaca nah itu di recehkan gitu, delapan pembeca author baru dapat 8rupiah, gitu seterusnya guys.... Dan sekali lagi like tidak dihitung hanya jumblah pembaca yang di hitung..
__ADS_1
Jadi jangan sungkan sungkan untuk like ya...