AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 88


__ADS_3

Ambulans yang membawa Debora sudah sampai di rumah sakit dan Debora sedang di bawa ke ruang pemeriksaan. Dokter dan para perawat berusaha menghentikan pendarahannya.


Rena dan Hery menunggu di depan ruangan itu. Hery tidak merasa panik atau takut apalagi khawatir. Sedangkan Rena sangat penasaran dengan yang menimpa Debora.


Hery mencoba menghubungi Roy tapi tidak bisa. Roy sama sekali menjawab panggilan Hery.


"Bi.. Eyang kemana...?" Sang bibi yang sama menunggu juga bersama Rena dan Hery.


"Eyang sama Bi Nini ke Restoran. Eyang katanya mau makan di restoran tuan.." Ucap Sang bibi dengan yang ia ketahui.


"Gimana bilangnya sama Eyang ya.. Eyang pasti kaget banget nanti." Hery berpikir dengan keras.


"Jangan bilang apa apa dulu sama Eyang Her.. Bilang aja Debora lagi di rawat untuk kesehatan janinnya..." saran Rena.


"Iya betul juga. Eeemm Rena coba kamu hubungi Roy.. Bilang sama dia dulu.. Aku hubungi gak dia angkat.." Hery Meminta bantuan Rena.


Rena mengangguk dan mencoba menghubungi Roy. Hanya sekali menghubungi Roy langsung menerima panggilan dari Rena.


"Ya Rena?" Roy langsung semangat menerima panggilan Rena.


"Roy.. Kamu di mana..?" Rena sedikit kesal dengan Roy yang meninggalkan Debora dan tidak tahu keadaan Debora sekarang.


"Aku di taman sendiri kamu mau ke sini juga kah temani aku..?" Roy sangka itu yang ingin Rena katakan padanya.


"Roy kamu tahu, Debora lagi nahan sakitnya dan kamu asik asik di taman.. Debora di bawa ke rumah sakit Roy. Itu lagi di periksa sama dokter dan di hentikan pendarahannya." Ucap Rena lagi.


"Apa sudah keguguran?" Tanya Roy dengan santainya.


"Roy kamu..?" Rena tak percaya dengan apa Reaksi Roy.


"Rena.. Kan kalau Debora keguguran, bukanya itu bagus.. Dia gak akan bisa pakai kehamilannya lagi untuk ngancam ngancam aku dan juga Eyang.. Harusnya kamu juga senang donk Ren.." Kata Roy lagi.


"Jadi Ini semua karna kamu ya?" Rena memastikan ucapan Hery dan pemikirannya.


"Iya Rena Ku sayang..." Roy terkesan sangat bahagia dengan kondisi Debora.

__ADS_1


"Roy.. Kamu... Issshh" Rena menutup panggilannya. Hery tersenyum melihatnya.


"Apa aku bilang, aku gak pernah salah. Aku sudah bisa menduganya, makanya tadi aku larang dia ke unit kamu.. Takutnya.." Hery menghentikan ucapannya melihat Rena terdiam di tempatnya.


"Ah sudahlah.." Hery juga diam.


Rena berjalan ke Arah Hery dan duduk di samping Hery. "Roy jahat banget.. Dia tega buat Debora sama anaknya sampe begitu.. Apa dia gak kasian..?" Rena tak habis pikir.


"Sudah kamu gak usah banyak pikiran. Moga aja Debora sama anaknya baik baik aja ya.." Hery menepuk nepuk bahu Rena.


Rena pun tersenyum pada Hery.


Tak lama kemudian dokter pun keluae daru ruangan Debora.


"Maaf keluarga dari pasien Kadet Debora?" Hery dan Rena bangkit bersamaan.


"Ya Dok...?" Hery dan Rena menghampiri sang dokter.


"Eeemm apa anda suami pasien...?" Hery mengeleng dengan cepat.


"Bukan dok saya asisten suaminya, eeemm suaminya.." Hery malah balik melihat Rena.


"Oohh gitu.. Eeemm saya cuma mau bilang... Kondisi pasien sudah baikan dan pendarahannya juga sudah berhenti, tapi sayangnya walaupun sudah berhenti kandungannya tidak terselamatkan.." Dokter itu melepas kacamatanya.


"Hah..?" Rena sangat terkejut sekaligus kasian pada kandungan yang tak bersalah itu.


"Iya nyonya.. Pasien mengalami keguguran, tapi saya mencari suaminya karna ingin bertanya. Apa dia dan pasien melakukan hubungan badan, dan sehingga menyebabkan keguguran pada kandungannya... Sepertinya suaminya terlalu kasar..." Tambah sang dokter.


Rena dan Hery hanya saling melempar tatapan tidak tahu. Dokter pun berlalu setelah menyampaikan beberapa ucapan lagi untuk perawatan Debora selanjutnya. Debora pun di bawa ke ruang perawatan, Hery dan Rena pun mengikutinya.


"Her.. Mana Roy...?" Baru kali ini Debora memanggil Hery dengan baik.


"Eemmm aku juga gak tahu.." Jawan Hery seadanya saja.


"Kenapa dia ada di sini..?" Debora melihat keberadaan Rena juga di ruangannya.

__ADS_1


"Aku dan dia tadi di apartemennya waktu Bibi hubungi aku, makanya dia ikut juga.." Hery sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan yang tidak ada gunanya itu.


"Bukan Her.. Maksud aku, dia ada di sini terus Roy dimana aku kira Roy sama dia.." Tuduhnya.


"Kamu kira harus sama Rena terus gitu...?" Hery mengelengkan kepalanya.


"Aku dari tadi siang sama Hery.. Aku sama Hery masak di dapur pas bibi telpon. UntukĀ  masalah Roy aku gak tahu dan gak mau tahu... Semejak Roy mau aku nikah sama Hery aku gak mau tahu dia mau ngapain, kemana, dimana... Terserah dia lah..." Rena tak ingin Debora terus menyudutkannya tentang Roy.


"Kamu benar benar mau nikah sama Hery..?" Debora sangat ingin memastikannya.


"Iya kenapa gak boleh.." Rena memegangi bahu Hery. Rena merasa seakan Debora tak menyukainya dengan Hery. Rena marasa aneh setelah tadi ia mengingat Hery yang mengendong Debora dan membawanya ke mobil ambulans, entah rasa apa itu tapi Rena tidak menyukai Debora terus berbicara apa lagi menanyakan Hery.


"Gak kok baguslah.. Kalian berdua cocok.." Debora tak lagi bercicit dan diam.


"Ayo kita pulang Ren.." Ajak Hery pada Rena, tentu saja Rena mengangguk setuju.


Debora tak peduli dan tetap diam. "Ooohh ya Debora. Untuk anakmu aku turut bersedih.. Mungkin kedepannya kamu di beri pengantinya.." Hery berhenti tapi tanganya tetap berpegangan pada Rena. Rena tentu tidak suka Hery berbicara dengan Debora seperti itu.


Hery menoleh pada Rena dan setelah itu mengelus puncak kepala Rena dengan lembut dan tak lupa senyum manisnya untuk Rena. Rena lega melihatnya dan keduanya melangkah bersama.


Saat di depan ruang Debora rupanya sudah ada Roy yang duduk temenung. Hery dan Rena cukup terkejut melihatnya.


"Roy..?" Hery melepas tangannya dari tangan Rena dan menghampiri Roy.


"Bagus Roy, rencana kamu berhasil, Debora keguguran dan kamu tidak akan mendapat masalah lagi.." ucapan selamat itu hanyalah Ledekkan dari Hery untuk Roy.


"Siapa bilang aku gak punya masalah...?" Roy mendongak dan menatap kedua orang di depannya ini.


"Maksud kamu Roy..?" Hery tak mengerti, bukankah keinginan Roy sudah terpenuhi, Debora sudah kehilangan anaknya apa lagi yang Roy khawatirkan.


Rena tetap diam di belakang Hery. Tiba tiba mata Rena dan Hery menatap satu perempuan yang datang dari dalam satu ruangan.


"Kamu..?" Hery sangat terkejut. Rena menaikan satu alisnya tak tahu siapa yang ada di depannya ini.


"Hery siapa dia...?"Itu lah pertanyaan di kepala Rena.

__ADS_1


"Dia.."


Off dulu kawan.. Hayoo siapa itu.? Koment donk.. Dan di like juga ya.. Makasih


__ADS_2