
Dengan Roy segera menuju rumah sakit karena yang baru saja menghubunginya adalah asisten rumah tangga di kediaman eyangnya yang mengatakan bahwa sang Eyang mendadak tak sadarkan diri saat baru keluar dari kamar mandi.
Asisten rumah tangga yang pun membawa nyonya besarnya itu ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai rumah sakit barulah sang asisten rumah tangga mengabari Roy. Roy kini sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal ia ingin segera sampai ke rumah sakit tempat yang nya dirawat.
Sementara itu Debora berdiam diri dikamar setelah Roy meninggalkannya
"Aku sangat bodoh Kenapa aku tidak memikirkan kalau Roy sebodoh itu sehingga Percaya Padaku kau Bodoh kau bodoh..."
Menyesal pun tidak berguna sekarang karena Roy sudah mengetahui segalanya dan ditambah lagi persiapan Boy untuk menceraikan Debora hampir siap.
Debora masih belum mengetahui jika sang Eyang dari Roy dibawa ke rumah sakit dan kondisinya kurang baik. Debora Malah menghubungi John dan mengatakan semuanya kepada John
"John, Roy sudah tahu semuanya, dia tadi pulang dan memarahi aku dan dia mengatakan semua yang ia ketahui Kok dia tahu tentang kita John, dia tahu tentang masalah penculikan yang aku sembunyikan darinya itu, dan aku juga tidak tahu dari mana Roy bisa tahu kalau kita sering bercinta di rumah ini di dalam kamar ini..."
Jauh di kediaman John, John berdiri terkejut mendengar ucapan Debora "Bagaimana bisa Debora dari mana Roy bisa tahu semua itu?"
Debora mulai menangis
"Sepertinya sudah tahu sejak lama, dan Roy tahu kalau kita tadi ke apartemen wanita itu yang kita marahi tadi John, Roy kini sangat marah aku takut kalau Roy... " Debora memecahkan tangisnya Debora takut jika Roy akan bertindak dan malah menceraikannya. Bukannya memperbaiki hubungan Debora dan Roy, ini malah akan merusak hubungan mereka seutuhnya.
John terlihat gusar dan bingung harus melakukan apa sekarang, otomatis Jika seperti ini maka rencananya juga akan gagal.
__ADS_1
"Tenang Debora tenang..." John menenangkan Debora
"Coba kamu rayu lagi Roy dia pasti mau kan..." Debora terus menangis dan bukannya menjawab pertanyaan John
"Debora pasti ada acara, aku yakin itu. sekarang di mana Roy?" Debora menghapus air matanya
"Aku nggak tahu tadi dia langsung keluar dari kamar setelah mengatakan semuanya, aku bahkan lupa menanyakan ya akan kemana" ucap Debora.
Sementara itu, ini Roy Tengah panik dengan kondisi Eyangnya dokter masih memeriksa di dalam ruangannya.
"Sani Bagaimana bisa Eyang sampai tidak sadarkan diri?" Roy ingin tahu kronologi Mengapa Eyangnya sampai tak sadarkan diri hingga dibawa ke rumah sakit.
"Begini tuan, saya kan lagi di dapur tuh, nah nyonya besar itu masuk ke toilet katanya ada yang ketinggalan, terus Eyangnya keluar lagi tuh eh yang nya langsung pingsan..." Roy mendengarkan penjelasan asisten rumah tangga yang berkerja di kediaman Eyangnya.
Roy sangat menjaga kesehatan sang Eyang sampai-sampai Roy memberikan dokter pribadi dan juga perawat pribadi untuk Eyang. Setiap bulan pun dokter dan perawat tersebut memberikan hasil pemeriksaan Eyang kepada Roy, dan sepengetahuan Roy bulan ini kesehatan yang sangat baik tidak ada keluhan dari Eyang.
Dokter pun mengatakan kondisi yang belakangan ini semakin membaik penglihatannya, pendengarannya, nafsu makannya, dan seluruh tubuhnya tidak memiliki keluhan sedikitpun. Sebelum ini yang selalu mendapat keluhan seperti sakit di area sendi, tidak nafsu makan penglihatannya kurang bahkan kadang kabur, Oleh karena itu Roy memberikan perawatan terbaik kepada eyangnya titik dan ternyata tak sia-sia perawatan yang diberikan oleh Roy. Kondisi Eyang dan kesehatannya nya ini membaik. Dan itu adalah hasil pemeriksaan langsung oleh sang dokter yang Roy perintahkan untuk memeriksakan kesehatan Eyang.
Dokter keluar dari ruang rawat Eyang dan langsung menemui Roy. "Selamat malam Tuan Roy, Entah mengapa tiba-tiba kondisi Eyang Anda menurun tapi Untunglah asisten rumah tangganya cepat membawanya ke rumah sakit ini. Eyang anda sudah sadar dan Anda boleh menengoknya"
Dengan segera Roy masuk ke dalam ruangan perawatan eyangnya, ia melihat sang yang sedang terbaring dengan infus yang melekat di di tangannya.
__ADS_1
"Eyang Kenapa tiba-tiba yang memburuk seperti ini Padahal yang lebih tahu dari dokter Kalau bulan ini yang sangat sehat, Kenapa yang tiba-tiba tidak sadarkan diri?"
Wanita tua Renta itu tersenyum kepada Roy "Roy, kamu tidak tahu kapan umurmu akan habis begitu pula dengan Eyang, yang juga tidak tahu kapan umur yang ini ini akan habis dan masih berapa sisanya. Roy satu-satunya yang inginkan hanyalah Cucu lagi untukmu."
Bukannya menjawab pertanyaan sang Eyang yang, Roy malah menangis tertegun di samping brankar Eyangnya ny. Eyang mengelus-elus Puncak kepala Roy Iya tahu cucunya itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Tak terhitung Seberapa lama Roy menangis tapi yang senantiasa menghibur Roy Dengan mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Ingat ya Roy, Cucu lagi untuk Eyang... " menganggukan kepalanya dengan yakin dan mantap.
"Iya Eyang aku punya kabar baik untuk Eyang, sebenarnya... " Baru saja ingin mengatakan yang sebenarnya Tapi tiba-tiba
"Aku sedang hamil Eyang... "
kata seseorang dari belakang Roy. Roy Sontak menoleh dengan cepat tentu saja Ray mengenal suara itu. Eyang tersenyum sumringah melihat Siapa yang datang. Ternyata Deboralah yang datang yang juga dengan senyum yang melengkung di bibirnya. kalau yang senang dengan kedatangan Debora berbalik dengan suasana hati Roy yang benci ketika melihat Deborah datang.
"Bagaimana keadaan Eyang apa sudah baik-baik saja?" Debora sungguh berubah menjadi sangat perhatian dan penuh lemah lembut.
"Aku dan Roy punya kabar baik loh..." seketika Eyang pun penasaran dengan apa yang ingin Roy dan Debora sampaikan.
"Eyang sebenarnya aku... " Debora menoleh kearah Roy, terlihat sekali wajah Roy tidak suka dengan Debora tapi itu seakan dukungan tersendiri untuk Debora. "Sebenarnya aku sedang mengandung Eyang" Debora tersenyum penuh kemenangan rupanya sakit yang diderita Eyang yang adalah jalan menuju kemenangannya.
Roy membulatkan matanya tak percaya jika Debora mengatakan hal itu kepada Sang Eyang sementara yang ingin disampaikan adalah tentang Rena. Eyang Tentu saja sangat gembira mendengar kabar yang baru saja Debora katakan "Benarkah itu Debora? Roy? " Eyang silih berganti menoleh kepada kedua cucunya. Roy Tidak bisa menjawab tidak karena jika ia menjawab tidak pasti Eyangnya akan merasa aneh Mengapa Roy tidak menyukai kabar gembira dari Debora. Debora dengan cepat menganggukkan kepalanya. Eyang berkali-kali berterima kasih kepada sang pencipta dengan kabar gembira yang baru saja ia dengar.
__ADS_1
Roy...
off dulu kawan sudah 1000 kata lebih jangan lupa like dan komen ya karena itu semua sangat berarti untuk sebuah karya bukan hanya untuk sebatas tujuan para author tapi dengan like dan komen kalian bisa membantu karya ini untuk naik tingkat, authornya akan lebih rajin aktif bahkan mengajukan rekomendasi, dan karyanya akan lebih berkualitas jadi jangan ragu-ragu untuk like dan comment dan jangan lupa masukkan ke lambang love yang ada ya Ya terima kasih