
"Aku belun bisa mengatakannya pada Rena Roy... Semalam aku sampai kondisi Rena sangat parah, dia tidak makan sejak siang, saat aku sampai Rena hanya sedang mengaduk aduk susu dan tidak sama sekali meminumnya.. Dia sangat memprihatin... Dan baru pagi ini Rena memakan sesuatu..." Jelas Hery dari telpon itu.
"Rena..." Roy ingin menangis.
"Ya Roy... Dan aku membawanya ke Mall, aku bilang ingin berbelanja dan dia ikut. Dia bilang mungkin dengan itu ia tidak bosan.." Tambah Hery.
"Hery dengarkan aku.. Lakukan apa pun yang bisa membuatnya Senang Hery.. Aku percayakan Rena padamu.." Roy meneteskan airmatanya.
"Roy... Kamu masih ada waktu untuk merubah pikiranmu. Aku belum mengatakan apa pun Pada Rena tentang rencana kamu. Maka kamu bisa membatalkan rencana bodoh ini..." Saran Hery.
"Hery... Aku sudah berpikir panjang, ini cara terbaik. Aku bisa melindungi Rena darimu. Dan nantinya kalau anakku sudah lahir aku juga masih bisa melihatnya, meski harus lewat perantara kamu Hery.."
"Roy.. Kamu itu seorang pemimpin, di kalangan CEO kamu yang paling hebat... Kamu adalah CEO yang ketiga tak terkalahkan. Tapi sayangnya musuh musuh dan juga jajaranmu gak tahu kelemahan kamu yang paling fatal... Roy cobalah kamu tenang sedikit, jangan berpikir hanya dengan hasil pemeriksaan itu kamu akan kehilangan Eyangmu.. Masih ada harapan untuk Eyang, dia masih bisa lihat cicitnya nanti. Bukan atas nama aku tapi langsung atas nama kamu..." Hery juga jengkel dengan ketidak berdayanya Roy bila itu tentang keluarganya. Apa ada laki laki selain Roy yang begitu lemah akan keluarganya?
Mungkin ada.. Itulah yang tengah di rasakan Roy saat ini. Bingung antara cinta dan keluarga, bingung melanda dan Herylah jalan terbaik yang di ambil Roy.
"Hery.. Aku tahu Rena akan membenci aku selamanya tapi percayalah cintaku ini untuknya." Roy pasrah.
"Roy.. Aki juga yakin Rena hanya mencintai kamu.. Dia gak akan semudah itu benci sama kamu, dan anak itu. Pastilah mirip kamu Roy.. Aku rasa..." Hery memberi semangat sebisanya.
"Iya Her.. Aku tahu... Sudah dulu ya Her.. Rena pasti sudah siap. Oh ya suruh ia pakai saja semua pemberianku. Itu saja Her..." Roy langsung mematikan telponnya.
Roy meninju dinding kamarnya kesal karna keadaannya yang tak bisa berbuat apa apa dalam kondisi ini. Semuanya pelik untuknya.
***
Hery menoleh ke belakang belum ada tanda tanda dari Rena, "Apa selama itu Rena bersiap..?" Hery bingung dan pergi ke depan kamar Rena.
Ternyata Rena masih sibuk bersiap, merapikan bajunya, menyisir rambutnya, mengikatnya tapi setelah itu melepaskannya lagi.
Setelah beberapa saat kemudian barulah Rena tersadar ada Hery di depan kamarnya.
"Oh Hery.. Apa aku kelamaan..?" Rena menduga duga.
"Tidak.. Apa kamu ada masalah sama rambut kamu..?" Hery memperhatikan Rena sejak tadi dan menangkap kalau Rena sedang bingung dengan rambutnya.
"Eeemm itu Her.. Aku ingin mengulung rambutku tapi aku gak bisa..." Hery tertawa mendengarnya.
"Kenapa kamu tertawa..?" Rena berkacak pinggang.
__ADS_1
"Sini aku bantu.." Hery masuk dan menarik kursi lalu mendudukan Rena di kursi itu.
"Memangnya kamu bisa.. Kamu kan laki laki..." Rena ragu dengan tawaran Hery.
"Kamu kira laki laki gak pintar gulung rambut wanita...?" Hery merapikan rambut Rena yang sudah acak kadul.
Hery mengambil semua rambut Rena dan mengikatnya menjadi satu. Lalu setelah itu Hery menggulung rambut Rena dengan rapinya.
"Pakai karet hitam ini ya..." Hery melihat karet ikat rambut berwarna hitam dan mengaplikasikannya di rambut Rena yang sudah ia gulung tadi.
"Sudah deh.. Gitu kan..?" hasil kerja Hery sangat rapi dan mengesankan.
"Wah.. Kok aku gak bisa ya tadi..." Rena terpukau dengan keahlian Hery yang satu ini, rambutnya rapi dan indah.
"Tinggal satu lagi.." Hery mengambil rambut yang pendek pendek di dekat telinga Rena.
"Wah.. Kamu sangat mengerti ya.." Rena kagum, kini ia sangat imut seperti artis artis korea.
"Ya ini simpel aja kok.." Hery bangga diri.
"Ya udah ayukk.." Rena mengambil tasnya dan keduanya berangkat bersama.
***
"Eyang mau kemana?" Roy bertanya dan memasang wajah bahagianya untuk sang Eyang.
"Ini Eyang bawa Debora ke Mall, Eyang tiba tiba mau belanja belanja... Banyak yang Eyang mau beli.." Eyang sangat bahagia, terlihat dari raut wajahnya yang sumringah.
"Oohhh Okelah kalau gitu.. Eyang hati hati ya... Debora.. Jaga Eyangku baik baik.." Roy memasang wajah serius saat bicara pada Debora.
"Iya iya.. Aku tahu.." Debora acuh pada Roy karna hari ini ia akan berbelanja yang banyak pula.
"Tunggu dulu... Eyang dan Debora akan ke Mall, Hery dan Rena juga akan ke Mall... Mall mana yang mereka ini pergi.. Apa sama...?" Roy khawatir.
"Eeemm Eyang.. Mall mana yang akan kalian kunjungi..?" Berinisiatif untuk bertanya.
"Eeem entah terserah Debora... Eyang ikut saja... Menurut Eyang semua Mall itu sama.." Eyang berlalu dan di ikuti Debora yang tersenyum puas.
"Hery... Aku akan tanya Hery..." Roy menghubungi Hery agi tapi sayangnya Hery tak menjawab telpon Roy karna sedang mengemudi, jadi Hery memasang mode pesawat ponselnya.
__ADS_1
"Ck.. " Roy menghempas ponselnya kesal.
***
"Ayah anda sudah baikkan.. Mungkin tinggal tunggu sadar. Setelah itu beliau bisa pulang..." Ungkap Dokter di salah satu ruangan perawatan
"Terima kasih Dok... Semoga Ayah secepatnya sadar..." Dion menaruh harapannya dengan kesembuhan sang ayah.
"Rena... Bagaimana keadaannya.. Apa dia menangis lagi.. Aku sudah beberapa minggu ini gak jenguk dia..." Dion hanya bisa pasra dengan keadaanya yang tak bisa mengejar cintanya.
"Jika memang jodoh maka pasti akan bertemu lagi.. Aku yakin itu.." Dion tetap tersenyum mendoakan semuanya akan berjalan sesuai kehedak-Nya.
***
"Kita cari apa dulu Her...?" Rena lebih samangat ketiak sampai di Mall.
"Kamu sendiri mau apa hem...?" Sebenarnya tidak ada apa pun yang ingin Hery beli ke Mall ini. Ia hanya berbohong pada Rena karna Hery rasa jika Rena jalan jalan maka ia akan merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Eeemm aku..? Aku kan cuma jalan jalan aja sama kamu.." Rena terus sibuk dengan rambutnya takut akan lepas.
"Itu tidak akan lepas Rena.. Aku yakin.." Hery tertawa bersama melihat betapa lucunya Rena dengan rambutnya.
***
"Eyang kita beli apa dulu nih...?" Debora sudah tidak sabar. Ia ingin mengorek ngorek isi dompet Eyang.
"Eeemm Eyang mau cari hadiah pernikahan Hery dan pacarnya.. Dan Eyang tahu kalau umur kandungan pacarnya itu sekitar 4 bulanan jadi Eyang mau cari hadiah yang pas pokoknya.. Harus spesial.." Itu yang membuat Eyang sangat semangat ke Mall.
Eyang dan Debora menghentikan langkahnya ketika melihat seperti ada yang mereka kenal.
"Itu..?" Eyang ternganga.
"Hery..." Rena memegangi lengan Hery.
Hery terkejut dan melihat Rena yang tiba tiba memegangi lengannya. Pandangan Rena tak bergerak hanya tertuju satu arah.
Hery mengikuti arah pandangan Rena dan melihat Eyang dan Debora juga terhenti dan memandang mereka.
"Oh Astaga..." Hery memejamkan matanya.
__ADS_1
Off dulu... Likenya donk...