
Siapa lagi kalau bukan Roy dan Nur. Debora hanya memandangi mantan suaminya dan mantan madunya itu sekilas.
Roy mendengus iri melihat Debora menggandeng laki laki yang lebih mampu darinya.
Dion sama seperti Debora, ia juga menatap sekilas Roy dan pasangannya setelah itu berlalu langsung ke loket pembayaran.
"Permisi saya bayar pake ini bisa 'kan?" Dion menyerahkan kartu asuransi yang paling terbaik miliknya.
"Wah bisa Tuan bisa" Penjaga loket itu bersemangat.
"Terima kasih, kalau bisa cepat ya kasian istriku menunggu lama, anak kami nanti kelelahan di dalam" Dion mengelus perut Debora.
"Oh ya Tuan, Nyonya sebentar saja ini." Penjaga loket itu langsung gesit dan mengurus segala administrasinya.
Tak sampai 3 menit, penjaga loket itu selesai. Dion dan Debora bisa keluar secepatnya dari tempat itu.
"Senang Debora sekarang punya suami yang baik dan kaya begitu" Cicit hati Nur iri.
Sedangkan Roy, ia terdiam seribu kata. Mendengar pengakuan dari Dion tentang kehamilan Debora yang adalah anaknya. Begitu besarkah hati Dion menerima anak yang di kandung Debora, secara logika itu bukan anak kandung Dion.
Dion membukakan pintu taksi untuk Debora. "Makasih.." Puji Debora.
"Dion!" Panggil seseorang dari belakang kedua pasangan ini.
"Roy?" Dion berbalik dan melihat dengan jelas siapa yang memanggilnya.
"Kenapa?" Tak ragu Dion meladeni Roy.
__ADS_1
"Sayang biarin aja dia.. Ayo masuk!" Panggil Debora.
"Tunggu bentar sayang.. Sebentar aja" Pinta Dion.
Dengan tertatih tatih Roy berjalan pelan mendekati Dion.
"Ada apa tuan Roy?" Sapa sopan Dion.
"Aku.. Aku minta maaf.. Karena kecerobohanku, kamu terluka" Ucap Roy sambil menunduk malu.
"Tunggu! Apa maksudnya? Kecerobohan? Siapa? Dion terluka?" Debora keluar dari taksi.
"Sayang. Masuklah di luar ini panas sayang" pinta Dion agar Debora tak mendengar semuanya.
"Gak usah Dion, biarlah Debora dengar semuanya. Debora, beberapa hari yang lalu, aku melakukan kebodohan, aku ceroboh dan mengakibatkan sesuatu yang fatal untukku dan Dion. Aku menabraknya.." Roy mengakui kesalahannya.
"Apa!!" Debora terkejut.
"Heemm sayang.. Itu.." Dion ragu.
"Itu bohong.. Aku yang nabrak Dion aku ngantuk di jalan dan aku gak tahu dan malah nabrak mobil Dion yang lagi terparkir. Aku yang salah Bora" Jelas Roy.
Dengan tatapan tajam Debora menatap Dion. "Kamu bohong?"
"Maaf Debora sayang, aku gak bermaksud bohong tapi.."
"Tapi dia takut kamu marah sama aku" Roy menyambung lagi ucapan Dion.
__ADS_1
"Astaga Roy diam dulu, aku jelasin sama Debora" imbuh Dion kesal pada Roy yang terus menyahut ucapannya.
"Tapi aku gak bohong, semua itu betul. Aku yang salah Bora.. Dion luka karena aku, dan aku patah kaki karena kecelakaan itu, ini buktinya" Roy menunjuk kakinya yang terbalut perban.
"Astagaaaa!" Kesal Debora.
"Sstt sayang diam dulu sayang.. Masuk mobil ya, ini .. Ini makin panas lhoo" Elak Dion dari amarah Debora.
"Ck..!" Debora hanya berdecak tapi terlihat sangat ganas.
"Dion, Debora aku ke sini cuma mau minta maaf dan selamat.. Kalian akan menempuh hidup baru, aku sudah liat beritanya. Selamat. Aku yakin, kamu akan lebih baik dari pada aku.. Aku laki laki pecundang.. Gak bisa bahagiakan Debora.. Tapi aku yakin, dengan kamu Debora akan bahagia.." Ucap Roy.
"Tentu.. Aku akan sangat membahagiakannya dan anak kami.." Dion lagi lagi menyebut kalau yang sedang di kandung itu adalah anaknya dan Debora.
"Hemm aku yakin itu.." Roy tidak tahu harus mengatakan apa lagi, ia sudah sangat malu.
"Aku.. Aku permisi hati hati di jalan" Lirihnya dan berbalik pergi berlalu meninggalkan Debora dan Dion.
"Baiklah tuan Dion Wigara.. Anda berutang penjelasan" Debora melipat tangannya di dada dan menaikkan satu alisnya kejam.
"Di ranjang" Bisik Dion nakal.
"Ck.. Sempat aja gombal..!"
Dion hanya terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang terasa panas tersengat matahari siang ini.
***
__ADS_1
Buuugghhh..
Rapel dua bab hari ini dan kemarin ya.. Besok up bab baru lagi.. Makasih ya karena bersedia menunggu..