
Hery menatap miris Dion. "Aku belum selesai bicara.."Wajah Hery masih datar sedatar tembok.
"Apa..?".Dion menatap penasaran Hery.
"Aku mau bilang.. Kamu boleh mendekati Debora.. Tapi... Jangan lirik lirik Renaku.." Mata Dion membulat mendengarkan yang baru saja di ucapkan Hery.
"Aaaa'aahh." Dion mengangguk paham.
Jadi untuk apa pengakuan cinta Dion tadi..?
"Hahahhahahhahaahahahahaha.." Hery tertawa lepas.
Sedangkan Dion merasa otaknya langsung bleng dan oleng. Rasa malu menyeruak dadanya, otaknya dan tentu wajahnya.
"Hery..!" Tegur Dion takut Rena dan Debora di dalam rumah akan mendengar tawanya.
"Hery.." Dion dengan wajahnya memerah mengguncang guncang tubuh Hery.
"Hery.. Nanti ada yang dengar kamu ketawa.." Tegur Dion lagi.
"Hahahahahahaa.. Liat muka mu.. Hahahaha.. Kepiting rebussss! Aaaahahahahhaa.." Hery melanjutkan tawanya.
"Sayang..?" Rena mendengar tawa suaminya pun ingin tahu apa yang sedang di lakukan kedua laki laki itu.
"Ihh iya.. Ahaha.." Hery masih tertawa.
"Aduh.." Hery memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang..?" Pertanyaan yang harusnya di tanyakan Rena malah di tanyakan Hery.
"Bawa Dion masuk.. Kita makan malam sama sama.." Ajak Rena dengan wajah bingung melihat suaminya tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Iya.. Nanti aku ajak dia.." Hery kembali lagi bersama Dion di bagasi mobil dan melanjutkan tawanya dan di bekap oleh Dion.
"Sudah..!" Dion juga tak bisa menahan tawanya melihat Hery yang tak bisa berhenti tertawa. Wajahnya juga memerah semu semakin menambah kesan lucu untuk Hery.
"Mereka lagi apa..?" Debora yang penasaran Dion dan Hery tak kunjung masuk dalam rumah.
"Gak tahu tuh.." Rena dan Debora hanya bisa saling melempar tatapan tak mengerti.
"Dion.. Makan.." Ajak Debora kali ini meski ia harus sedikit berteriak.
"O.. Oke.." Dion bersuara dan meminta Hery untuk berhenti tertawa.
Akhirnya Dion dan Hery berhenti tertawa dan masuk ke dalam rumah.
"Dion.. Wajah kamu kenapa.. Kok merah gitu..?"
Bukannya mendapat jawaban dari pertanyaan Debora malah di makin heran dengan tawa Hery yang tiba tiba.
"Hahahahahhahahahahahaha..." Rena juga terkejut mendengar tawa Hery tiba tiba itu.
"Ahaha ahahh ahahahaaahhaah.." Hery memegangi perutnya.
"Astaga.." Dion memijit batang hidungnya.
__ADS_1
"Hery..!" Dion menyiku Hery.
"Ahaaahh.. Aduh.. Eehh itu..? Itu.. Ituuu.. Hahahahahahahahaha.. Kepiting rebus.." Hery menunjuk kepiting yang menjadi lauk mereka malam ini. Kepiting dengan saus asam manis.
Sudut bibir Dion naik sebelah menanggapi ledekkan dari Hery.
"Ya ampun sayang.. Kamu kenapa..?" Rena menengahi.
"Gak apa apa.. Dion elergi kepiting.. Nanti dia merah kayak kepiting rebus.." Ledekkan itu makin jadi.
"Ya Ren.. Aku memang elergi kepiting.. Tapi gak gitu juga konsepnya Her.." Dion membantah.
"Apa sih..?" Debora juga ikut menimpali.
"Gak ada Bora.. Sudah biarkan aja dia.. Dia memang suka ketawa kalau ketemu aku.." Cicit Dion menghalang semua pertanyaan para wanita ini.
"Eemm kalau kamu elergi Kepiting.. Kamu makan apa..?" Rena meneliti makanan di meja makannya.
"Eemm aku makan itu aja.." Dion menunjuk ikan sungai goreng yang ada di depan Debora.
"Oohh mau ini kah..?" Debora dengan senang hati memberikan lauk ikan sungai itu.
"Makasih.." Hery sekuat tenaga menahan tawanya.
"Sayang..!" Rena melirik Hery.
"Iya.. Ayo kita makan."
__ADS_1
Malam ini makan mala yang begitu berarti untuk Dion. Dia bisa satu meja makan dengan Debora.
"Sekarang kita satu meja makan, nanti kita satu piring.." Gumam hati kecil Dion.