AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 25


__ADS_3

"Roy ayo makan makannya sudah siap." Seru Rena pada Roy yang masih betah di dalam kamarnya entah apa yang kini Roy lakukan.


Dengan langkah elegannya Roy datang dan hanya mengenakan handuk kimono yang hari ini baru di beli Rena di Mall. Roy melihat merk handuk itu dan Roy yakin ini yang seharga 5 juta itu. Dan Rena meletakannya di lemari penempatan baju Roy, Roy pikir berarti handuk itu Rena beli untuknya dan langsung mengenakannya dan memperlihatkannya pada Rena yang sudah selesai memasak.


Rena tarpaku melihat suami tercintanya datang dan telah mengenakan hadiah yang rencananya akan Rena berikan pada Roy. Dan rupanya Roy menemukannya terlebih dahulu dan mengenakannya.


Tubuh indah Roy membuat otak seksi Rena meronta ronta.


Tidak apakan, aku kan istrinya...


Guman Rena saat terlintas otak seksinya. "Kenapa sayang? Apa kamu suka... Bukankah sangat cocok dengan diriku yang seksi ini." Goda Roy yang paham dengan yang Rena pikirkan kini. Roy merangkul pinggang ramping Rena membagiakan kesegaran yang ia dapatkan.


"Kamu menyukainyakah?" Tanya Rena karna ia ragu akan pilihanya.


"Tentu saja sayang, aku sangat menyukainya. Aku ingin kamu selalu membelikan aku barang barang apa pun yang kamu sukai. Jangan pikirkan tentang pendapatku karna apa pun yang kamu pilih aku akan sukai semuanya. Pilihanmu memang yang terbaik." Puji Roy pada pilihan Rena yang sangat pas di tubuhnya dan sangatlah nyaman di gunakan.


Sebenarnya ini pilihan dari ada Dion dan saranya. Tapi Rena memilih untuk mengakatakan kalau ini pilihanya. Rena tidak ingin Roy berpikiran macam macam dengannya.


"Hei sudah terus memujiku seperti itu. Kita makan dulu ya... Ku ada masakan kamu ikan segar yang aku beli tadi. Kamu coba ya.." Bujuk Rena pada Roy yang sudah memberikan kode kode yang tak biasa dengan gerakan tangannya.


"Tidak mau... Aku ingin mencicipi yang lain dulu setelah itu aku cicipi masakanmu." Roy melaksanakan apa yang telah meromta ronta sejak tadi. Dan mau tak mau Rena meladeni sang suaminya yang nakal itu.

__ADS_1


Sementara itu Debora sedang kusut sendiri dengan pikirannya saat ini apa lagi melihat berita berita yang tengah viral saat ini. Dirinya uang di seret paksa oleh sekuriti di persusahaan Suaminya sendiri.


Debora menghempas ponselnya itu. "Dasar bodoh. Berani sekali dia mengusirku seperti itu. Aku ini masih istrinya." Debora sungguh sungguh marah dengan apa yang telah Roy lakukan padanya. Roy tidak pernah melakukan ini sebelumnya tapi kali ini benar benar fatal yang Roy lakukan menurut Debora. Dirinya di permalukan di muka umum.


Debora melirik jam di dinding yang menunjukan pukul tujuh kurang lima menit itu. "Akan aku marahi kamu nanti Roy, berani sekali kamu." ucap Debora yang tengah menanti kepulangan Roy yang biasanya paling lambat jam tujuh malam.


Benar dugaan Debora tak lama kemudian Roy pulang, dan tentunya pulang tanpa memberi tahukan dari mana dia dan melakukan apa.


"Roy.." Panggil Debora dengan sedikit arogan karna kesal.


"Eem" Roy mendudukkan dirinya layaknya tak ada dosa. Roy kemudian membuka sepatunya dan kaos kakinya sendiri. Debora yang melihat itu di buat semakin kesal Roy sama sekali tidak mengingat apa yang Roy lakukan padanya hari ini.


"Kamu tahu... Aku tadi sedang rapat penting, dan kamu dengan santainya masuk seperti masuk dalam ruangan prubadi milikmu. Seharusnya kamu pikir apa yang akan rekan kerjaku pikirkan jika aku katakan kalau kamu istriku. Pasti mereka akan berasumsi 'oohh sungguh tak ada kesopanan dari istri seorang Roy Filip. Kenapa Roy Filip mempertahankan seorang wanita seperti ini. Cih" ucap Roy di akhiri decihan dari dirinya sendiri. Dan kemungkinan itu bukanlah pemikiran dari rekan kerja melainkan pikiran dari Roy sendiri. Dan dengan mengunakan nama rekannya Roy menghina Debora dengan telaknya.


"Roy kau..." Debora menunjuk wajah Roy dengan jarinya. Debora akhirnya kembali mengingat apa yang membuat Roy seperti ini.


Pasti Roy telah mendengar ucapan dari Loir yang mengatakan kalau Deboralah pemilik Perusahaan yang Roy kelola saat ini. Rasa malu kembali mencekam Debora. Sadar akan kesalahannya yang membuat Roy melakukan ini.


"Roy sayang bukan begitu maksudku.. Aku hanya tergesa gesa mencarimu... Aku tidak bermaksud untuk mempermalukanmu di depan kolega kolegamu." Debora berubah 360 derajat dari pada saat ia menunggu kepulangan Roy dan sikap kemarahannya barusan.


"Tergesa gesa kenapa? aku Bukankah kamu sudah bersenang senang berbelanja di Mall, aku lihat notif dari bankmu yang menunjukan nominal yang kamu keluarkan hari ini. Itu nominal yang cukup banyak sekali... Aku pikir tidak ada lagi yang harus kamu cari padaku sampai tergesa gesa dan masuk tanpa mengetuk pintu. Aku bisa menoleransimu jika masuk ruanganku dan Hery seperti itu tapi maaf, untuk pintu kerja besarku tidak baik seperti itu dan aku mungkin akan berbuat lebih dari hari ini tadi Debora." Debora benar benar tidak suka mendengakan nasehat dari mulut Roy, karna Debora orang yang tidak ingin mendengarkan orang lain, hanya ingin dirinyalah yang di dengarkan tak mau menjadi pendengar. Hal itu membuat kesal Debora bangkit kembali.

__ADS_1


"Ya Roy... Aku memang bodoh karna masuk ruang kerja suamiku dengan seperti itu. Tidak memikirkan para pekerja di situ dan akan membuat perusahaanmu hancur nantinya." ucap Debora tanpa sedar telah menyingung dirinya sendiri.


"Ya itu sangatlah benar. Dan membiarkan seorang serendah Loir Carter masuk dan akan menghancurkan perusahaanku dan kamu yang akan terlebih dahulu tinggal di kolom jembatan. Aku jamin itu." Roy berlalu setelah mengatakan itu dan menuju ruang kerjanya.


Wajah Debora kembali memucat, hilanglah sudah kepercayaan dirinya barusan. "Apa Roy marah karna itu? Ooohh tidak ini tidak boleh terjadi..." Debora bangkit dan hendak mengejar Roy tapi Roy sudah tenang di dalam ruangannya tanpa gangguan dari Debora.


"Roy aku ingin bicara lagi Roy..." Suara Denora terdengar karna Roy belum mengunci sepenuhnya ruangannya itu. Debora tidak ingin menerobos lagi seperti tadi tidak ingin membuat Roy mengingat apa yang siang tadi Debora lakukan dan membuat Debora sendiri mendapat masalah. Dan jika Debora lakukan lagi mungkin akibatnya akan lebih parah dari yang tadi siang. Akhirnya Debora hanya berdiri di depan pintu ruang kerja Roy dan tak berani melakukan apa pun maupun mengancam ataupun masuk paksa.


"Tidak ada yang perlu kamu bicarakan, aku mengantuk, hari ini aku sibuk seperti yang kamu lihat saat masuk paksa ke ruang meetingku. Pergilah" Roy keluar hanya untuk mengatakan itu dan kembali masuk ke ruangannya.


Debora tidak bisa melakukan apa apa setelah mendengar ucapan Roy barusan. Debora memilih kembali ke kamarnya dan besok pagi Debora akan merayu Roy lagi.


Sedangkan itu di sebuah rumah kecil kini Dion, Diana dan adik bungsunya Dario sedang melakukan pesta kecil kecilan untuk merayakan hari jadi kedua adik dari Dion itu.


Dion...


Ada yang pengen lanjut cerita Dion gk ni...? Kalau lanjut komen donk... kalau gk kan author hilangkan ni ceritanya...


Koment ya di kolom komentar..


Maaf kalau banyak Typo nya.. Author juga manusia biasa yang banyak kesalahan..

__ADS_1


__ADS_2