
Bisma membalikkan badan dengan penuh keraguan. Ragu kalau ia salah sangka.
Saat tubuhnya benar benar terbalik, matanya langsung bertemu mata yabg sudah bercucuran air mata. Bahkan dari bibir kecilnya sesegukan terdengar lirih.
"O.. Olin..?" Bisma menatap wajah kecil itu.
"You are My Brother..?" Suara yang hampir tak terdengar Bisma karena bercampur tangisnya.
"Olin.." Bisma memeluk tubuh kecil itu.
Adiknya ada di sini, adik yang tak pernah di lihat sedekat ini bahkan tidak pernah bersentuhan seperti ini.
"Bi.. Bisma..?" Olin juga tidak dapat menyembunyikan rasa haru bercampur senangnya.
"Aku memelukmu.. Aku memelukmu.." Bisma menangkup wajah cantik Olin.
"Eeemmmm kakak.." Olin masuk lagi dalam pelukkan Bisma.
Semua orang di sana sangat tersentuh dengan pertemuan penuh haru ini. Adel pun tak bisa melarang air matanya bertumpahan. Sungguh, kakak beradik yang di penuhi rindu, keingintahuan, ingin mendekati tapi tak bisa. Tapi cukup kemarin saja seperti itu.
Hari ini keduanya di pertemukan, sebagai kakak dan adik. Berkali kali Bisma mengecup puncak kepala Olin. Ia sangat merindukan adik kecilnya ini.
"Olin.." Panggil Bisma lembut.
"Ya..?" Olin mengangkat wajahnya dan menatap Bisma.
"Lihatlah.. Dia sangat mirip Mama.." Tangis Bisma pecah lagi.
Cup.
Satu kecupan di pipi Bisma dari Olin. "Apa sebegitu miripnya aku...?"
"Sangat.." Sahut Hery.
"Hery..." Bisma sangat ingin mencakar cakar adiknya ini yang tak ada habisnya jahil padanya.
"Kamu bilang.. Mau wujudkan impian kamu, mempertemukan Olin dan Mama.. Tapi.. Aku juga punya impian.. Aku mau..." Hery mengambil kameranya dan..
Cekrek..
Hery memoto Bisma dan Olin yang masih di landa tangisnya sambil saling memeluk satu sama lain. Mungkin foto itu tidak terlalu cantik seperti potret biasanya, tapi sangat berharga untuk Hery.
"Aku.. Punya impian.. Mempertemukan, dan memotret kakak beradik yang lama tak bertemu di pertemuan pertama mereka.." Hery memperlihatkan hasil fotonya tadi pada Bisma dan Olin.
"Hery.." Bisma menarik Hery bergabung dengan mereka berdua.
"Kakak Hery memang nakal.. Masa aku di culik kemarin.." Olin mencubit lengan Hery.
"Iya kan biar bisa ketemu kakakmu.." Cicit Hery sambil menghapus air matanya Olin.
"Eeemmm" Olin memeluk kedua kakak laki lakinya.
"Tunggu tunggu.." Rena mengeluarkan ponselnya dan memoto ketiganya.
"Yeeeyyy aku dapat juga.." Gumam Rena.
"Lihat..! Bahkan kakak ipar aku juga nakal.." Olin sangat bersyukur ia di kelilingi orang orang yang mencintainya dan menyayanginya sepenuh hati.
"Hery.. Jelaskan..! Kamu culik Olin lagi..?" Bisma menggendong Olin.
"Iya.. Aku culik lagi dia sama seperti dulu.." Bisma mencubi pipi Hery.
"Masih sama seperti dulu ya.." Bisma memeluk Hery, setelahnya Olin memeluk keduanya mengeratkan kakak kakak laki lakinya.
"So Sweet.. Eeemmm" Elf merentangkan tangannya ke arah Alf.
Alf awalnya tak mengerti dan hanya bertanya dengan dagunya. Tapi dengan cepat Elf melipat bibirnya keluar membuat wajah sedih seorang balita lucu.
"Eeemmm" Alf mengerti dan langsung memeluk Elf.
Rena tekekeh melihat tingkah kedua anak kembarnya.
"Lihat yang itu lebih so sweet.." Olin menunjuk Alf dan Elf.
__ADS_1
"Aku sayang Alf.." Ucap Elf dengan nada manjanya. "Alf kakakku.." Dengan nyamannya Elf memeluk tubuh Alf.
Alf tak melarangnya, ia tetap membiarkan sang adik memeluk tubuhnya yang hampir sama.
Tapi persedetik kemudian, Alf mengecup kening Elf dengan lembut.
"Ooooooyyyyyyywwwwww.." Semua orang di sana tersentuh dan meleleh melihat Alf mengecup kening Elf.
"Aku sayang Elf.." Gumam Alf pelan. Elf mendengarnya langsung memeluk Alf lagi.
"Oohhhhwwwww.." Olin semakin gemas pada kedua anak kembar itu. Dan membuatnya ingin mengecup kedua kakaknya juga.
"Eeummacchh eeeuummaacchh.." Olin mengecup Bisma dan Hery bergantian.
Boleh promosi gak di sini..?
Ini novel baru guys.. Tapi di FZ numpang ya.. Bonus aja untuk para pembaca setia..
Bab 1
Ini Dia. ****
"Adit.. Makan dulu Dit..!" Nara sedang mengejar ngejar suaminya.
"Gak mau..!" Ucapnya dan di tambah cekikikan dari balik pohon cemara.
"Adit jangan gitu donk.. Makan yuk... Aku suapi ya.." Seperti membujuk anak kecil.
"Gak mau.. Gak mau.. Gak mau.. Tangkap aku dulu.." Di iringi nyanyian dengan lirik buatan sendiri.
"Ya ampun Adit.. Ayo nanti mama marah looo.. Aku gak mau kena marah mama.. Kamu mau..?" Nara pura pura merajuk.
"Hah..? Mama marah..? Kamu takut sama mama..?" akhirnya laki laki perawakan tinggi dan berkulit putih dan wajah tampan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Iya.. Nanti mama marah.. Aku belum bisa kasih makan kamu.. Kamu senang ya liat aku kena marah.."
"Gak.. Gak.. Gak boleh ada yang marah kamu.. Kamu kan istri aku.." laki laki itu memang memiliki wajah yang dewasa bahkan terbilang tampan tapi tingkahnya yang kadang membuat orang bertanya tanya apa yang terjadi padanya.
Adit kini mengenakan topi rajut berwarna pink dan juga baju lengan pendek dan juga celana pendek kesukaannya. Wajahnya celemotan dengan bekas coklat yang sudah ia santap tadi.
"Aku.. Aku.. Mau makan untuk kamu.. Mau.." Adit duduk di depan Nara dan Nara dengan senang hati menyuapi Adit dengan telaten.
"Aaaamm" Nara menirukan ibu ibu yang sedang menyuapi anaknya.
"Waaahh Adit lagi makan.. Baguslah.. Makan yang banyak ya.. Minum vitamin juga abis ini.." Mera datang membawa tasnya. Sepertinya ia baru saja pulang dari arisannya.
"Nara nanti ke kamar mama ya.." Pintanya pada Nara.
"Iya.. Ma.." Nara masih ragu mengakui keluarga ini adalah keluarganya.
"Lagi yang ini.. Aku suka ayam.." cicit Adit membuyarkan pikiran Nara.
"Iya.. Makan yang banyak ya.. Dengarkan tadi kata Mama.." Nara mengulangi lagi ucapan ibu mertuanya.
"Oke.." Adit bergerak gerak tak bisa diam dan terus mengunyah makanannya.
Sekian menit kemudian barulah Nara selesai memberi makan Adit. Di lanjut lagi dengan mengupaskan vitamin khusus untuk Adit dan memberinya pada Adit untuk di makan.
"Nala.. Nala.. Aku mau jeruk.." Adit memanyunkan bibirnya.
"Oke.. Tunggu ya.." Nara berjalan ke arah kulkas.
"Eemm jeruknya mana sih..?" Nara mencari di sudut sudut kulkasnya.
"Jeruk habis sayang.." Mera datang dan mengelus puncak kepala Adit.
"Oohh.." Nara bangkit dari duduknya.
"Nara.. Tadi mama sudah minta ke kamar.. Mama mau suruh kamu ke minimarket dan pasar sebentar.. Untuk beli beli barang yang gak ada di kulkas. Termasuk jeruknya Adit.." Mera merangkuk Adit.
"Oohh boleh.." Nara menerima tugas itu dengan semangat.
"Adit.. Adit.. Adit.. Adit mau ikut mama..!" Itulah cara Adit berbicara. Mengulang ulang ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Adit mau ikut..? Bener..?" Mera sebenarnya tak yakin untuk membiarkan Adit ikut ke minimarket apalagi pasar.
"Tapi.." Mera berpikir sejenak.
"Mama.. Mama.. Mama.. Kan aku punya istri.. Istri... istri aku bisa sama aku.. Aku aku gak nakal sama dia.." Adit berusaha menyakinkan Mamanya.
"Bukannya masalah kamu nakal atau gak.. Nanti kamu malah hilang lagi.. Kan nanti istri kamu yang kesusahan.." Mera berusaha memberikan pengertian pada Adit.
"Hmmm mama mama.. Mama.. Mama gak sayang Adit.." Adit mulai menangis sambil merengek pada Mera.
"Ya ampun.. Adit jangan gitu.. Ck.. Nara apa kamu bisa jaga Adit...? Ck.. Adit sudah lah nagisnya.." Mera menghapus air mata Adit dan juga hidungnya yang sudah meler.
"Bawa Adit... Nanti.." Nara juga pikir pikir membawa Adit bersamanya.
"Nala.. Nala.. Nala.. Gak mau bawa Adit ya.. Kenapa..?" Tangis Adit semakin menjadi.
"Nak.. Dengar Nara nanti belanjanya banyak.. Jadi susah kalau bawa kamu juga.. Bibi di dapur lagi pulang kampungnya.. Makanya mama minta Nara yang pergi belanja." Mera mengusap air mata Adit.
Sama seperti anak anak yang ingin ikut orang tuanya kemana pun mereka pergi. Seperti itulah Adit. Ia hanya ingin semua keinginannya saja yang di penuhi.
Adit sudah memiliki gangguan mental ini sekitar 8 tahun yang lalu. Tepat saat umurnya 20 tahun. Dan ya.. Sekarang Adit sudah berumur 28 tahun.
"Ya udah.. Udah.. Jangan nangis lagi Dit. Nanti Nala beli eskrim ya buat Adit.. Tapi Adit tunggu di rumah sama Mama.. Kasian kan mama sendiri di rumah.." Nara juga mencoba membujuk.
"Nanti.. nanti.. nanti.. nantin Eskrimnya sempat meleleh... Adit.. Adit gak mau.." Cicitnya lagi sambil menghapus airmatanya.
"Ya udah Nara.. Bawa aja Aditnya.. Gak usah beli semuanya.. Yang sebisa kamu aja.. Maaf ya mama gak bisa ikut.. Papa minta mama ke kantornya bantuin dia.." Nara mengangguk paham.
"Nanti langsung pulang dan masukkin aja di lemari es ya.. Dan Adit.." Mera beralih ke anak semata wayangya.
"Adit nanti abis pulang dari pasar dan minimarket sama Nara langsung istirahat ya.. Jangan nakal sama Nara.. Nanti Nara nangis looo" Peringatan dari Mera.
"Oke.. Oke.. Oke.." Adit menghapus air matanya denga cepat.
"Nala.. Nala.. Nala.. Ayo.. Aku aku.. Sepatu mana sepatu aku aku..?" Adit menarik narik tangan Nara.
"Iya.. Bajunya juga ganti ya.. Topinya juga.." Nara dengan kebesaran hatinya menghadapi Adit dengan segala keinginannya.
Nara naik ke kamar Adit dan mengambil baju baru untuk Adit dan juga sepatu yang di maksud Adit tadi. Nara juga membuka lemari baju Adit lagi, baru mengingat topi untuk Adit tertinggal.
Kemana mana Adit harus mengenakan topi agar tak terlalu kepanasan.
"Buka baju mu itu.. Ganti ya.." Ajak Nara pada Adit.
Adit mengangguk berkali kali.
Dengan rapi dan telaten lagi Nara mangenkan baju untuk Adit. Memasangkan kaos kaki dan sepatu untuk Adit dan juga topinya.
"Oke.. Sudah siap.. Janji ya jangan nakal sama aku nanti.. Jangan pergi jauh dari aku.. Pegang tangan aku.. Dan kalau mau apa apa bilang dulu sama..?" Nara memancing pemahaman Adit.
"Sama.. Sama.. Sama.. Nala.." Adit bersemangat dan mengerti sedikit yang di tanyakan Nara.
"Ayo.." Nara menggandeng Adit seperti menggandeng anak TK.
Dari sudut kamar, Mera tersenyum melihat kedekatan Nara dan Adit. Ia bersyukur memiliki manantu seperti Nara. Nara dengan sabar membantunya merawat Adit dengan segala kekurangannya.
Nara dan Adit menggunakan mobil Mera dan juga meminta tolong pada sang sopir agar di antarkan ke pasar terlebih dahulu.
"Haaahh.. Adit adit.." Nara menggelengkan kepalanya.
"Nanti.. Nanti.. Nanti.. Aku mau mobil.. Mobil.. Mobil baru.. Biar.. Biar.. Kita mau jalan kayak gini.. Adit adit.. Adit bisa bawa Nala.." Dengan nada kocaknya Adit menjanjikan sesuatu yang sangat sulit untuk terkabulkan.
Nara dan Adit tiba di pasar. Ramai raya yang mereka temukan. Nara harus mencari sayur segar dari hasil pertanian biasa. Itulah andalan keluarga Bagaskara.
"Adit.. Pegang ujung baju aku.. Jangan lepas ya.. Nanti aku gak bisa ketemu kamu.. Jangan jauh jauh ya.." Pinta Nara.
"Oke.. Oke.. Oke.." Adit tersenyum lebar dan melakukan yang di minta Nara.
Adit memengang ujung baju Nara dan berjalan di belakang Nara.
Beberapa kali Nara berpapasan dengan ibu dan anak yang sedang berbelanja juga. Hal itu mengingatkan Nara pada mendiang ibunya. Dulu Nara juga sering ke pasar dengan sang ibu.
Author akan kasih liat cuplikannya sampai bab 5 deh.. janji...
__ADS_1