
Dion mengangguk polos, "Iya.. Aku mau layani kamu sebaik mungkin.. Selagi aku masih lowong dan gak sibuk di kantor.." Imbuh Dion.
"Ck kamu ini memang ya.." Debora menggelengkan kepalanya berkali kali.
"Kan aku sayang kamu.." Dion belagak imut.
Tring.. Tring..
Ponsel Dion berbunyi sekilas. Dion memeriksanya dan ternyata dari kantornya.
"Astaga.. Baru juga enak sama calon istri udah di cariin.." Gumam Dion.
"Siapa..?" Debora langsung di buat penasaran.
"Ini dari kantor, katanya ada hal mendesak.. Jadi aku tinggalin kamu deh.. Ck.." Terlihat sekali raut wajah kesal Dion.
Debora tersenyum lega. "Dion.. Pergilah.. Aku gak apa apa kok.. Tapi nanti balik ke sini lagi ya.." Debora mencoba menghibur Dion.
"Gak.. Eemmm gimana ya..?" Dion memikirkan alternatif lain.
"Gak ada gimana gimana..! Selesai sarapan kamu langsung berangkat.." Imbuh Debora lagi.
"Tapi.." Dion memelas tapi tak sempat karena Debora dengan cepat memotong melasnya.
"Tapi aku sayang kamu juga.. Kamu ke kantor.. Kerjakan kerjaan kamu, abis itu pulang.."
"Oke oke.. 30 menit.." Debora membulatkan matanya.
"30 menit? Dari sini ke sana aja udah 30 menit.." Cicit Debora.
"Hehheheeh.." Dion cengengesan.
"Oke aku turun kerja.. Tapi nanti kalau udah pulang kerja aku minta di manja ya.. Di sayang sayang.. Di ranjang.." Dion mengedipkan sebelah matanya meminta sesuatu pada Debora.
"Isshhhh" Debora berdecak.
"Plisss.." Dion kembali memohon. "Iya udah kalau gak, aku juga gak akan ke kantor kayak yang kamu mau.." Rajuknya.
"Oke oke.." Pipi Debora pun ikut bersemu merah.
__ADS_1
"Makasi sayang.."
.
.
.
.
.
.
.
"Aku gak nyangka adik kecik aku ini pintar banget masak ya. Jadi salut deh.." Puji Bisma pada Olin.
"Kan aku adiknya kakak.."
"Iya juga ya.."
"Oh ya.. Aku udah janji sama Rena mau jalan jaln keliling kampung, aku tinggal dulu ya.." Pamit Hery.
"Eehh tapi Alf dan Elf tinggalkan. Aku masih mau main sama mereka.." celetuk Olin.
"Iya.. Paling masih sama Bibi Nuri di tuh.. Kakak jalan dulu ya.."
"Oke.." Olin mengacungkan jempolnya dab segera berlari ke segala arah mencari ponakan ponakan manisnya.
"Sayang udah siap.. Ayo.." Ajak Hery pada Rena.
"Iya udah.. Apa aku udah cantik..?" Pertanyaan aneh terlontar dari mulut Rena.
"Kok tumben berdandan segala.. Mau ke mana neng?" Usik Hery.
"Cih.. Ya mau jalan sama kamu sayang.." Rena tak peduli godaan Hery.
"Ya kan tumben dandan.. Baby yang punya ide ya.." Hery memeluk Rena dari belakang dan mengusap perut Rena lembut.
__ADS_1
"Aku takut aja.." Sahut Ren setengah setengah.
"Takut apa?" Hery bertanya serius.
"Takut ketemu sama mantan kamu dan kalau aku tampilannya burik kan gak lucu sayang.. Nanti pas dia lebih cantik dari aku gimana..?" Terdengar penuh emosi dan tekanan di setiap ucapan Rena.
"Sayang sayang.. Ya udah kalau gitu.. Gak usah aja kita jalan jalan biar kamu gak akan ketemu kayak yang kamu pikirin itu.." Rajuk Hery pada Rena yang terus mempermasalahkan masa lalunya itu.
"Jangan sayang.. Aku liat di sana itu cantik banget buat foto foto.." Rengek Rena lagi.
"Haahhhh wanita wanita.." Gumam Hery lagi.
"Sangkin cintanya aku sama kamu gak akan nolak apapun yang kamu minta sayaang." Hery mendekap kedua pipi Rena serta ciuman manis di bibir Rena.
"Makasih suamiku sayang.."
Rena sangat menikmati jalan jalan paginya ini apalagi tangannya tak bisa terlepas dari tangan Hery. Berkali kali juga Hery mengecup kening Rena penuh cinta.
"Suka kan.." Tanya Hery sambil menunjuk beberapa tempat untuk berfoto seperti yang di inginkan Rena.
"Iya donk cantik.." Rena sangat menyukainya.
Tiba tiba dari arah yang berlawanan arah dengan Rena dan Hery, seorang gadis cantik tanpa polesan di wajahnya melirik sekilas Hery dan Rena, gadis itu membawa rantang makanan dan bakul.
Di sebelah gadis itu ada seorang ibu ibu yang juga membawa bakul yang sama, sepertinya keduanya akan ke kebun.
"Eehhh nak Hery...?" Sapa wanita tua itu.
"Eehhh mbok..?" Hery ternyata mengenalinya.
"Mbok Sari.. Apa kabar Mbok.?" Sapa Hery santun.
"Baik Nak.. Ini istrinya..?" Wanita yang di sapa Mbok Sari itu bertanya sambil menunjuk Rena.
"Iya Mbok.. Ini istri saya.. Kami sudah punya 2 anak, dan satu lagi.." Hery mengelus perut Rena lagi di hadapan Mbok.
"Waaahh ayu sekali istrimu nak.." puji Mbok pada kecantikkn Rena.
Hery tak menyapa sama sekali gadis di samping Mbok Sari itu. Padahal ia mengenal gadis cantik itu.
__ADS_1
Rena melihat gelagat aneh suaminya, Rena..