
Roy berdiri di belakang Debora ysng sedang mengeringkan rambutnya dan masih mengenakan handuk di tubuhnya.
"Kenapa Roy..?" Debora melihat Roy dari bayangan cermin.
Tanpa basa basi Roy langsung menarik Debora dengan paksa dan membawanya ke ranjang. Dan Roy melakukan apa yang ia inginkan.
"Roy..???!!" Debora meresa ada bagian yang sakit di buat Roy.
"Kayaknya aku harus turuti keinginan kamu untuk punya anak. Setelah kamu punya anak, kamu gak akan bisa ke mana mana.. Kamu cuma punya aku dan gak akan ke mana mana.." Roy tak ingin menyesal untuk kedua kalinya.
"Roy.. Bukannya kamu.. Masih gak bisa terima aku.. Aku..." Debora tidak bisa banyak bicara.
"Ya.. Dan aku juga gak bisa kehilangan kamu lagi, apalagi di hianati kamu lagi. Kali ini kamu yang ikuti apa yang aku mau.." Roy tak peduli Debora yang mengeliat di bawahnya dan tetap pada tujuan awalnya.
***
Bisma masuk dalam kamarnya. Ia menatap keseliling. Bisma merasa masuk ke kamarnya rasa sepi menerpa. Tidak ada lagi yang menemaninya, rasa yang sungguh Bisma tak sukai.
Oleh karna itu Bisma Sering mengganggu Hery dan Rena karna ia ingin teman untuk sekedar bercanda. Dan saat ini juga yang tak di sukai Bisma, ia sendiri. Ingin minta di temani tapi rasa yang Bisma punya berbeda dari yang lain.
Bisma sudah sering mencoba, mencoba untuk menjadi laki laki normal tapi hasilnya nihil. Wanita wanita cantik pernah ia dia dekati, yang seksi pernah ia dekati juga. Tapi ia tidak merasakan adanya rasa yang ia cari di sana.
Hanya dengan caranya sendiri, Bisma bisa mendapatkannya. Bisma memandang langit langit kamarnya. Ia sering membayangkan kalau dia memiliki seorang istri dan anak. Pasti sangat menyenangkan. Apalagi belakangan ini melihat kemesraan sang adik, membuatnya juga ingin memiliki istri seperti yang Mamanya dan Hery inginkan.
Tapi ada rasa yang berbeda yang Bisma rasakan dan membuat tekadnya itu hilang seketika.
Flashback on Bisma.
"Aku menyukainya.." Ucap Bisma saat sedang bersama temannya.
"Aku juga.." ucap laki laki yang ada di depan Bisma.
Ceklek.
"Bisma...???!!!!" teriak Marry melihat anaknya sedang bermesraan dengan sesama laki laki.
"Mama..?" Bisma segera menutup tubuhnya.
"Kamu apa apaan Bisma... Kamu kamu juga siapa.. Pergi kamu.. Pergi.." Marry memukul mukul tubuh laki laki itu.
"Kamu pakai pakaian kamu dan kita pulang." titah Marry dengan kasar tentunya.
__ADS_1
"Ma..." Bisma bingung harus mengatakan apa.
"Cepat.. Mama gak butuh penjelasan.. Cepat. Kita pulang.." Marry sangat marah pada Bisma.
Dengan segera Bisma mengenakan pakaiannya dan keduanya pergi dari hotel itu.
"Katanya dinas, ternyata kamu.. Uuuhhh ya ampun Bisma..." Marry terus mengoceh di dalam mobil yang ia kendarai.
"Maaf Ma... Bisma sudah coba untuk berhenti, adik Hely juga sudah ajak aku berhenti. Minta aku berobat dan terapi atau semacamnya, tapi aku gak bisa Ma.." Bisma mengakui semuanya.
"Jadi Hery juga tahu. Kenapa dia gak bilang sama Mama.." Marry makin marah.
"Ma...Bisma yang larang Hely kasih tahu Mama, dulu Hely sudah marah juga sama aku, dia sudah mau kasih tahu Mama tapi aku larang, aku mohon mohon sama Hery untuk gak bilang sama Mama." Bisma membela Hery yang tak melakukan kesalahan sama sekali yang salah adalah dirinya sendiri.
"Bisma kamu..." Marry menghentikan mobilnya tiba tiba.
"Ma maafkan Bisma, Bisma udah kecewain Mama." Marry semakin frustasi.
"Pergi kamu.. Pergi.." Marry berteriak pada Bisma.
"Ma..." Bisma merasa bersalah.
"Pergi...!!" Marry semakin membentak Bisma.
Setelah berpikir lama akhirnya Hery memilih untuk tinggal bersama Hery untuk sementara, jika sudah kembali normal seperti biasanya barulah Bisma akan pulang.
Flashback off.
***
"Aku suka hari ini sayang.. Hari sangat seru.." Rena memeluk Hery dengan erat.
"Ya apa serunya coba..?" Hery bertelanjang dada dan Rena berbaring di dada itu.
"Eeemm aku sama Debora makin dekat, aku senang banget.. Debora itu rupanya baik banget. Terus aku juga makan daging wagyu sama sama kalian semua... Eeem seru.." Rena sangat senang.
"Eeemm sayang.. Apa hari ini tadi Kak Bisma gak ada goda kamu kah..?" Itu yang paling Hery ingin tahu.
"Gak ada, kak Bisma gak ada goda goda kok.. Emangnya dia kenapa..? Kak Bisma malah bantu aku sama Debora masak. Kak Bisma pinter banget masak.." puji Rena.
"Eeeemm ya baguslah.." Hery merasa lega.
__ADS_1
"Sayang.. Aku mau tahu kamu itu takut apa sih..? Aku liat kayak ada yang ganggu kamu.. Bilang sama aku.." Rena mengelus dada Hery.
Hery tersenyum pada Rena dan menikmati elusan manja Rena di tubuhnya. "Aku takut kamu terpesona sama Bisma.." Hery menggengam tangan Rena di dadanya.
"Aku takut, kakakku lebih mempesona dan tampan. Dia ahli semuanya. Aku.." Hery semakin terlihat ketakutan.
"Hah..?" Rena tak percaya yang ia dengar ini.
"Ya kamu liat tu kan, kak Bisma itu terlalu manis di pandang, belum lagi keahliannya belum lagi tampangnya, belum lagi ucapan manisnya, belum lagi..." Rena tertawa mendengarnya.
"Sayang..." Rena mencium dada Hery.
"Sayang aku takut.. Aku gak bisa biarin kamu dekat dekat sama Bisma." Hery makin erat memegang tangan Rena.
"Sayang.. Kamu tahu.. Gak ada lagi yang perlu aku cari di dunia ini selain kamu.. Kamu yang terbaik. Kamu gak tahu rasanya aku bisa ketemu kamu.. Rasanya itu.. Aku gak bisa jelaskan dengan kata kata.. Tapi satu yang pasti.." Rena menangkup wajah Hery.
"Aku cinta kamu.." Ini mungkin sudah berkali kali Rena mengucapkan kalimat itu tapi mungkin Hery tak akan puas mendengarnya.
"Aku juga cinta kamu.. Bahkan cinta aku lebih besar lagi.." Hery membawa tubuh Rena yang semakin melar itu.
"Aku suka kamu yang sekarang sayang.. Lebih empuk.." Bisik Hery di telinga Rena.
"Sayang...?" Rena sudah tahu maksud Hery dengan menggodanya seperti itu.
***
Roy membuka matanya, rupanya hari sudah pagi. Tangannya merasa sesuatu yang sedikit dingan dan lembut.
"Apa ini..?" Gumam Roy.
"Aahh..?" Roy baru sadar apa yang ia pegang.
"Debora..?" Roy tidur dengan memeluk Debora dari belakang.
Roy semalam sangat menikmati permainannya dan Debora. Tak Roy sangka ia akan sangat bersemangat semalam. Ia menghabiskan 1 jam penuh untuk pelampiasan. Debora beberapa kali meringis kesakitan tapi Roy membiarkannya saja.
Nikmat yang Roy rasa juga membuat moodnya baik hari ini, Ia lebih bersemangat. Roy menoleh pada Debora yang masih terlelap di tempat tidur. Roy tersenyum melihat tubuh Debora yang terlihat banyak bekas kepemilikannya.
"Nikmati itu, kamu minta itu kan kemarin.. Dan harapan kamu..? Anak..? Aku siap.." Roy berlalu dengan senyum yang tiada henti.
Off dulu guys..
__ADS_1
Makasih ya yang udah mampir, udah like, koment, dan jangan lupa favoritkn ya.. Tuh love lovenya di klik juga.. Thanks you..