
Saat Roy sampai di kantornya, Roy langsung menghubungi Rena dan menceritakan kondisinya.
"Iya tidak apa apa pergilah... Eyangmu juga pasti merindukanmu. Aku tidak apa apa kok." ucap Rena pada Roy. Jujur Roy sedikit berbohong pada Rena karnaia juga ingin menghabiskan waktu bersama dengan Debora. Roy ingin melihat, sebesar apa cinta Debora padanya. Apakah masih ada cinta untuk Roy atau sudah habis untuk John.
"Baiklah sayang terima kasih untuk pengertianmu.. Baiklah kalau begitu... Aku kerja dulu ya... Selamat pagi sayang."
Roy memutuskan sambungan telponnya. Rena merasa sedikit terabaikan. Tapi apalah dayanya hanya sebagai istri simpanan seorang CEO.
Rena sadar akan posisinya yang samgat tidak benar ini. Tapi siapa sangka Rena juga tidak mengira akan berjalan seperti ini. Rena malah jatuh cinta pada Roy dan tampaknya bergantung pada Roy seperti ini.
"Apakah mungkin Roy akan kembali pada istrinya yang jahat itu? Lalu aku... Ah aku hanya simpanan. Kan pada awalnya bukan seperti ini. Aku saja berharap semuanya akan cepat berlalu. Dan aku bisa bebaa dari semua ini. Aaahh sudahlah Rena jalani saja hidupmu sekarang." Rena bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur. Rena kemudian mengambil beberapa jenis bahan pembuatan Kue.
Rena kini meyibukkan dirinya dengan memasak makanan kesukaanya sendiri. Terbesit Dion di pikiran Rena.
"Hei... kenapa aku malah mikirin dia. Ck ck ck... Dah lah..." Rena melanjutkan lagi perkerjaannya.
Sementara itu Debora kini tengah mencari cari bajunya yang akan dia kenakan malam ini untuk sedikit mengoda Roy.
"Iss gak ada lagi. Oke Debora kamu kan Disainer masa untuk bikin baju seksi aja susah."
Deboran menuju ruangan tempat ia menyimpan baju dan pernak pernik lamanya. Debora memilih beberapa kain yang indah dan juga tipis agar tampak mengoda Roy.
"Debora bakatnya yang ada Debora pun membuat baju untuknya yang pas di tubuhnya dan juga pas dimata Roy.
"Aku yakin Roy pasti akan suka. Dan aku tidak akan melepaskanmu malam ini Roy." Debora memeluk baju yang telah selesai ia byat sendiri dan kembali menuju kamar tidurnya dan setelah itu barulah Debora sadar jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Ooohh lama juga waktu yang aku habikan untuk baju ini. Baiklah saatnya perawatan." Debora menuju kamar mandi dan berendam dengan beberapa sabun kecantikan. Debora ingin kulitnya dan tubuhnya segar bugar saat di sentuh Roy nantinya.
Debora keluar dari kamar mandi dan jam sudah menunjukan pukul enam sore. Bergegas Debora turun ke dapur dan memeriksa semuany. Debora memerintahakan asisten rumah tangganya untuk memasakan beberapa makanan kesukaan Roy.
***
Rena kini benar benar jenuh. Dirinya sendiri, tidak ada yang menemani, mau jalan tapi sudah hampir malam. Dia juga tidak memiliki teman untuk di ajak setidaknya untuk bercerita.
Akhirnya Rena menghembuskan nafasnya dengan kasar. Menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke kasur empuknya. Dan lagi lagi menghela nafas.
"Aku lagi malas masak perut.. Bisa diam gak sih..." Rena lapar tapi sedang malas untuk memasak.
Alhasil, Rena memilih untuk berjalan jalan sebantar di depan apartemennya, mungkin ada yang menarik perhatiannya.
Dengan mengunakan jaket hoodynya yang berwarna hitam dan trening panjang hitam, Rena berjalan dan tak lupa sepatu putihnya. Tampak modis, tapi sederhana.
Rena memsukan tangannya kedalam saku jaketnya melirik hiruk piruk kota menjelang malam ini.
Mobil mobil lalu liliw dan bunyi klakson mobil di mana mana. Pemberhentian Rena pun di sebuah tempat makab out door. Meja meja di susun rapi di depan restoran itu. Lampu yang menerangi tempat itu dengan cantik dan juga berwarna warni.
Rena pun mendudukkan dirinya di salah satu kursi itu dan Rena memesan apapun yang menurutnya enak.
__ADS_1
Tiba tiba Deru mobil terdengar oleh Rena. Terlihat mobil hitam mengkilap berhenti tak juh dari tempat Rena saat ini.
Tak lama keluarlah seseoramg dari dalam mobil itu. Rupanya Hery yang datang. Hery melempar senyuman pada Rena yang sedang menanti pesanannya.
"Malam nyonya. Saya di tugaskan tuan Filip untuk mengantarkan ini. Hery mengeluarkan dompet dari dalam sebuah paperbag. Rena meneliti dompet itu.
"Itu bukan milikku." ucapnya tak paham dengan maksud Hery sebenarnya.
"Iya nyonya sekarang ini bukan milik nyonya. Tapi mulai sekarang ini milik nyonya, ini dompet yang baru saja tuan Roy beli khusus untuk Nyonya. Dan bukan hanya itu nyonya, di dalamnya juga sudah ada isi kok." Hery tampak sengat bahagia mewakili tuanya malam ini walau hanya sekedar memberikan hadiah dompet ini.
"Emang dia kira aku mata duitan apa? Sampai sampai kirimkan aku uang lagi. Cih..." Rena bukanny senang dengn pemberian Roy malah mengumpat Roy.
Rena yang sedang kesal karna kesendiriannya itu meluap dan akhirnya pikirannya hanya memikirkan hal hal negatif tentang Roy.
"Nyonya terimalah..." Hery menyodorkan lagi hadiah dari tuannya itu.
"Kenapa dia memberikan aku uang lagi? Kemarin dia sudah memberikan aku kartu gold dan juga uang kas, dan uangku itu masih banyak kok tidak perlu di tambah lagi." ucap Rena sedikit sedih.
"Tidak bisa nyonya, tuan kan akan berlibur sementar, dan mengunjungi Eyangnya, Tuan pikir mungkin saja saat di tinggal tuan nyonya membutuhkan uang kas lagi oleh karna itu tuan mengirimkan nyonya uang lagi." Jelas Hery ucapan dari Roy sendiri.
"Apa Roy akan lama perginya? Berapa hari? Dan apa dia pergi sendiri?" Pertanyaan berderet dari Rena pada Laki laki di depanya.
"Iya aku juga kurang tahu nyonya berapa hari tuan akan pergi tapi tuan perginy tidak sendiri kok, ada Nyonya Debora yang ikut dengannya. Eh...?!" Tak sengaja Hery keceplosan dengan ucapannya.
"Ooohh begitu..." Rena mengerti sekarang. Kembali ia mengingat posisinya yang hanya seoramg simpanan. Untuk apa ORoy harus memberi tahukan semuanya pada Rena. Bukan masalah Rena toh.
Berkecil hati pasti yang di rasakan Rena. Hery paham akan hal itu. Hery memilih untuk duduk bersama Rena di meja itu dengan berhadapan.
"Nyonya... Ini pesanan Nyonya..." Seorang pelayan datangnya menyerahkan pesanan Rena tadi.
"Terima kasih..." Rena tersenyum paksa pada pelayan itu.
"Tuan... Bisa temani aku makan. Aku sedang tidak nafsu makan. Aku bosan sendiri di apartemen. Aku lelah rasanya." keluh kesah Rena tumpahkan ada Hery saat itu juga.
Aku juga... guman Hery dalam hatinya.
"Baiklah nyonya... Saya temani nyonya makan malam ini. Pelayan?!" Hery manggil lagi pelayan yang mengahantarkan makanan Rena barusan dan Hery pun memesan makanan ditempat itu.
"Maaf mbak, tadi saya lupa pesan minumnya." ucap Rena setelah meneliti makanannya ada yang kurang dan Hery juga masih memesan.
"Oohh iya nyonya dan tuan juga belum pesan minumnya." ucap Pelayan itu sopan.
"Saya mau susu coklat dingin ekstra krim" Rena dan Hery menjawab bersamaan.
"Oke... Mohon tunggu sebentar ya tuan nyonya.." Pelayan itu kembali ke dalam meninggalkan Rena dan Hery yang mematung.
Keduannya terkejut dengan jawaban sama dari keduanya.
__ADS_1
"Kamu suka susu coklat?" Rena bertanya pada Hery.
"Iya aku suka susu coklat sedari kecil. Sampai dewasa seperti ini pun terbawa bawa hehehe..." Jelas Hery.
"Aku pikir hanya aku yang kekanak kanakan.." Rena juga tertawa kecil mendengar pengakuan Hery.
Setelah itu masih banyak lagi yang mereka berdua bicarakan tentang cuacalah, olah raga, lelucon pun ada.
Tak disangka Hery rupanya sangat mudah dekat dengan Nyonyanya yang satu ini. Tidak seperti Debora yang pilih pilih. Bahkan berbicara langsung pada Debora saja jarang, hanya jika Debora bertanya barulah Hery juga berbicara pada Debora. Berbicaranya pun masih formal, tidak seperti Rena dan Hery sekarang yang lebih nampak sudah saling kenal lama dengan Hery.
Sambil menikmati makanannya Hery mulai menceritakan kisah pertemanannya dengan Roy. Banyak canda dan tawa menyertainya.
***
Sekarang Roy dalam perjalanan pulang menuju rumahnya dan juga Debora. Hati Roy hari ini sedikit berbeda dari hari hari sebelumnya. Mungkin efek mendengar suara Eyangnya tadi pagi.
Roy sampai di rumahnya keluar dari mobilnya dan berjalan hendak masuk.
Debora rupanya sudah menunggunya di ruang tamu
"Sayang..." Debora menghampiri Roy dan langsung mengelus elus dada Roy dengan sangat halus.
"Kenapa? Tumben..." Roy tak percaya Debora menyambutnya dengan sangat manis malam ini.
"Iiiss kamu ini aku romantis dikit gak boleh gitu?" Debora memanyunkan bibirnya.
"Boleh kok... Aku lepas sepatu dulu ya..." Roy melepaskan alas kakinya itu dan meletakannya di tempatnya.
"Sayang kamu pasti lapar... Aku sudah siapin makanan di dapur, semuanya kesukaan kamu deh..." Debora sudah benar benar bersemangat melayani suaminya.
"Baiklah ayo kita makan dulu. Aku cuci tangan dulu ya.. Kamu tunggu aku di meja makan." Roy mengusap puncak kepala Debora.
Setelah Roy melakukan pembersihan tangannya, kemudian kini bergabung dengan Debora di meja makan mereka.
Di depan Roy sekarang sudah banyak makanan terhidang, makanan itu semua adalah makanan favorit Roy. Roy sangat suka dengan seafood. Dan kini semua menu makanan dj depannya berbahan dasar Seafood.
"Makanlah yang banyak sayang" Debora menyendokkan nasi ke dalan piring Roy dan memilihkan beberapa lauknya.
Jujur ini yang sangat di inginkan Roy. Perhatian dari sang istri tercintanya. Perhatian dari Debora ini membuat Roy lupa akan semua perbuatan Debora padanya. Atau mungkin Roy sudah tidak mempermasalahkannya.
***
Roy dan Debora selesai makan malam bersama. Kini Roy sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, membersihkan sisa sisa pekerjaannya yang mungkin menelpel di otaknya dan di bawa pulang ke rumahnya.
Sementara Roy mandi, Debora secepat mungkin berdandan rapi dan mengenakan Pakaian yang ia buat tadi siang. Demi menjalankan rencananya untuk mendapatkan semua yang ingin dia dapatkan dari Roy.
Pakain seksi sudah, wajah yang cantik sudah, tubuh indah memang sudah, dan tinggal menunggu mangsanya malam ini yang tak lain adalah suaminya sendiri, Roy.
__ADS_1
off dulu... Hayo greget Gak..?