AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 130


__ADS_3

"Halo...?" Hery menjawab telpon yang masuk.


"Tuan saya sudah temuakan mobil tuan dan Tuan Roy. Kedua mobil itu ada di parkirna VVIP kantor kita tuan. Tepat di depan gerbang." Hery menepuk keningnya dengan cukup keras.


"Ya nanti saya ke sana dan pulangkan motor kamu.." Jawab Hery dengan lemas.


Rena yang mendengar Hery bertelponan dan sampai menepuk keningnya, ia pun menoleh ke arah Hery.


"Kenapa Yank..? Kamu pulang pake motor.. Mobil kamu mana..?" pertanyaan yang tepat.


Hery menghembuskan nafasnya dulu dan menghampiri Rena lalu memeluknya dengan erat.


"Kamu bikin aku gak waras..." Hery masuk dalam pelukkan Rena.


"Aku...?" Rena mengelus elus punggung Hery.


"Ya kamu..." Hery rasanya tak mampu banyak bicara.


"Her.. Mobil kita di mana tadi..?" Roy ikut menimpali.


"Parkiran VVIP, di dekat gerbang utama, di depan parkiran motor yang kita pakai tadi..." Hery sedikit mengangkat kepalanya.


Hery sampai lupa di mana ia parkirkan mobilnya, dan saat ia berlari ke arah satpamnya ia melewati mobilnya sendiri bahkan memakai Helm di depan mobilnya saat itu.


Roy pun sama halnya bodoh seperti Hery. Panik bukan main sampai lupa di mana tempat parkir. Padahal setiap turun kerja mereka sedari dulu selalu memarkirkan mobil mereka di sana. Tak pernah salah tempat parkir. Hanya karna terkejut mengetahui Debora menginjungi Rena membuat keduanya seperti orang bodoh.


"Jadi tadi kita dua lewat aja di depan mobil kita dan malah naik motor...?" Roy menyambungkan kenyataan mengingat bagaimana keduanya terburu buru naik ke atas motor dan mengenakan helm dengan terburu buru, bahkan Roy sangat bingung bagaimana mengunci helm.


"Aaaiiiisssss..!!" Roy sangat malu jika mengingatnya.


"Kamu balik ke kantorkah..?" Hery keluar dari peluk Rena.


"Iya.. Aku aja yang kembalikan motor pak satpam." Hery mengangguk dan menyerahkan kunci mobilnya.


"Minta anak buah aku antar mobil aku.." Ucap Hery dan Roy terima saja kunci mobil Hery.

__ADS_1


"Kamu ikut aku pulangkah..?" Roy menoleh pada Debora.


"Iya.. Aku ikut kamu..." Jawab Denora. "Rena aku pulang dulu ya.. Nanti kapan kapan aku ke sini lagi." Debora berpamitan pada Rena.


"Iya.. Nanti Kita masak masak ya.." Rena tampak sangat bahagia dan ceria.


Roy dan Debora sudah pulang dari rumah Hery. Kini hanya tinggal menunggu mobil Hery tiba di antar oleh anak buahnya dan ia menunggu sambil bermanja dengan sng istri yang kini semakin berisis.


Tubuh Rena sekarang semakin membesar dan bisa di bilang montok. Mungkin karna kehamilannya ini yang sudah memasuki usia 7 bulan. Oleh karna itu Hery sangat berhati hati dengan masalah Rena.


Persiapan lahiran juga sudah Hery atur matang matang. Mulai dari rumah sakit, dokter dokter handal, perawat, dan satu yang pasti dari semua itu, semuanya harus wanita, mulai dari dokter, perawatnya, dan yang paling penting kebersihannya rumah Sakit tersebut.


"Sayang kenapa mobil kamu bisa ketinggalan..?" Dari tadi itu yang mengganggu pikiran Rena.


"Iya sayang.. Aku khawatir sama kamu, aku sampai buru buru terus karna sangkin paniknya aku lupa aku perkirkan mobil aku tu dimana.. Karna aku gak ketemu juga tu mobil akhirnya aku pinjam motor satpam deh... Makanya aku bawa motor satpam dan mobil aku yang di tinggal." Tutur cerita Hery.


"Emangnya aku kenapa coba...?" Rena masih tidak mengerti.


"Ya aku sama Roy kira Debora, kamu.." Rena akhirnya mengerti.


"Haaaahhh sayang sayang.." Rena  mengelengkan kepalanya.


"Ya sayang.. Syukurlah.. Aku sayang banget kamu..." Hery semakin gemas pada Rena yang terlihat sangat menggemaskan dengan pipi cabinya.


"Ya sayang.." Hery bermanja manja dengan Rena sesuka hatinya.


"Aku nakal ya..!" peringatan Hery pada Rena.


"Sayang..?" Rena tak menyangka itu yang akan Hery ucapkan.


Tapi memang beberapa waktu belakangan ini Hery sangat senang bermain dengan Rena. Tidak bermain kasar Hingga inti, Hery hanya main di atasannya saja.


"Ak suka ini.. Aku gemas banget.." Hery terus memandanginya.


"Heeemm ya sayang.. Untuk sekarang ini punya kamu nanti ini jadi punya Baby aja looo.." Rena juga mengingatkan.

__ADS_1


"Makanya aku puas puas sekarang....Oohhh lembutnya.." Hery melakukan yang ia inginkan Rena tak melarangnya karna ia tahu Hery tak melakukan dengan kasar dan ia hanya memainkannya dengan pelan.


***


Roy dan Debora dalam perjalan pulang ke rumah mengantar Debora.


"Kamu berani juga ya ketemu Rena.. Apa yang buat kamu nekad..?" Roy dan Debora mengunakan motor yang tadi Hery dan Roy kenakan dari kantor.


"Ya aku rasa salah aja, padahal ini semua juga karna aku. Aku mau perbaiki semuanya Roy.." Ucap Debora dari belakang Roy.


"Heeemm yalah itu.. Lalu Rena maafkan kamu..?" Sebenarnya tak perlu di tanya karna cukup melihat kedekatan Debora dan Rena tadi saja Roy harusnya sudah tahu kalau keduanya sudah berteman baik sekarang.


"Ya Rena sangat baik, dia maafkan aku dengan mudahnya. Banyak yang kami dua ceritakan tadi. Aku senang juga dengarnya, dia banyak cerita tentang Hery yang over protektif sama dia. Hehehe.. Lucu banget.." Roy sebenarnya tak suka ucapan itu sepertinya sebuah pujian untuk Hery sang laki laki sempurna untuk para wanita.


"Terus kamu suka gitu.. Kamu liat Rena mana tahan dia di gituin Hery, di larang itu di larang ini.. Emang kamu mau gitu..?" Roy semakin memancing Debora.


"Ya kan itu tanda cintanya Hery sama Rena Roy.. Gak ada salahnya kok..." Yang Debora katakan memanglah benar.


"Heeemm ya sudahlah.. Biar aja.." Rpy diam dam Debora pun ikut diam.


Keduanya sampai di rumah dengan selamat, Eyang menyambut Debora dan Roy.


"Debora kamu tadi kemana sih.. Eyang cariin juga.." Oceh Eyang saat kedua cucunya pulang.


"Tadi Debora ke rumah Rena Eyang, ini Rena titip untuk Eyang, tadi Rena sama Debora bikin Es Buah, terus gak lama, Rpy sama Hery pulang juga jadi Debora ikut Roy pulang juga" Deboram menceritakan ceritanya hari ini perasananya juga sangat senang dan tenang.


"Oohhh ya baguslah.. Oohh ya Debora tadi ada dokter hubungi, katanya obat program kehamilan kamu harus di ambil lagi." Debora menegang seketika.


"Haaa.. Ya nanti Debora ambil.. Debora lupa... Hehehee.." Roy juga ada disana dan mendengarnya dengan jelas.


"Lagi..?" Roy bergumam dalam hati.


"Haduh bagaimana ini..." Tapi itu suara hati Debora.


"Roy, Debora.. Kalian berdua harus berhasil kali ini ya.. Awas kalau gagal.. Eyang gak mau kegagalan.." Tegas sang Eyang.

__ADS_1


Debora dan Roy Sama sama menelan saliva dengan susah payah.


Off dulu guys...


__ADS_2