AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 32


__ADS_3

Hery mengatarkan Rena pulang ke apartemennya.


"Terima kasih ya Hery.. Aku sangat tertolong dengan adanya kamu hari ini." ucap Rena sebelum keluar dari dalam mobil Hery.


"Sudah aku bilang Ren.. Jangan sungkan." Ucap Hery lagi.


Rena pun keluar dari dalam mobil Hery. "Sekali lagi terima kasih ya Her..." Rena melambaikan tangannya.


Mobil Hery pun berlalu meninggalkan Apartemen Rena. Sedangkan itu tak jauh dari tempat mobil Hery dan Rena tadi Dion mengintip dan mendengarkan dengan seksama apa saja yang Hery dan Rena bahas.


"Besok Hery tidak ada. Bolehkah aku membantumu Rena." Ucap Dion sendiri dari dalam mobilnya.


Rena berkacak pinggangnya. Menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya dengan perlahan seolah membuang beban ybg sedari tadi ia tahan seorang diri.


Dion masih betah di sana smabil mengamati Rena. Nampak sekali wajah lesu dari Rena. Rena sepertinya benar benar membutuhkan teman untuk sekedar bercarita.


"Dia pasti tidak menceritakan masalahnya dengan Hery karna Hery sendiri adalah sahabat dari Roy Filip. Dia tidak ingin ada yang tahu masalahnya." Dion bisa membaca apa yang tengah mengganggu pikiran Rena saat ini.


"Tadi kata Hery Roy sedang cuti, berarti Roy tidak ada di rumahnya apalagi di Apartemen Rena. Baiklah." Dion keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menghampiri Rena yang membelakangi Dion saat ini.


"Permisi nona, bagaimana ya kalau kita ingin membeli apartemen di sini?" Dion mengajak Rena berbicara seolah tak mengenali Rena yang membelakanginya.


"Hah?" Rena berbalik mendengar ada yang berbicara dengannya.


"Maaf... Eh...?" Dion pura pura terkejut.


"Kamu..." Rena juga tak kalah terkejut. Apa lagi dirinya yang tak tahu apa apa.


Sontak Rena dengan segera mengeluarkan ponselnya, melihat Rena mengeluarkan ponselnya Dion pun sama mengeluarkan ponselnya.


Dan kedua gantungan yang mereka beli di Mala beberapa hari yang lalu bersinar dan berkedip kedip bersamaan.


Rena tersenyum dengan sangat lebar. Dan Dion pun sama, senang melihat senyum timbul di bibir manis Rena, seakan hilang sudah beban berat yang tadi Rena tahan tahan.


"Kamu Dion kan?" Rena bertanya padahal sudah pasti iya.


"Iya Ren... Ini Aku Dion. Apa kabarmu..?" Keduanya berbasa basi dulu.


"Kabarku baik... Eh tadi kamu bilang mau beli apartemen ya?" Tanya Rena dan hanya du angguk anggukan polos oleh Dion padalah, Dion sendiri yang merencanakan pertemuan ini.


"Iya Ren... Kalau dari sini tempat kerjaku dekat."Jawab Dion mencari alasan yang tepat.


"Oohj begitu..." Ya udah.. Ayok masuk dulu." Ajak Rena pada Dion dan pastinya Dion menganggukkan kepalanya lagi.


Rena hanya menunggu di luar sedangkan Dion masuk dan bertemu dengan pemilik Apartemen itu. Untungnya pemilik apartemen itu hari ini ada di sini. Dan Dion bisa langsung melakukan transaksi dan memilih unitnya.


Dion sengaja memilih unti dekat dengan unit milik Rena dan Roy. Dion ingin menjaga Rena, karna Dion takut Roy akan berbuat hal yang tak baik pada Rena apa lagi melihat ekspresi Rena sejak tadi yang sepertinya memiliki masalah sendiri.


Karna dari pengalaman Dion dari sang ibunya, banyak wanita seperti Rena yang menderita sendiri di akhirnya. Tidak banyak yang berjalan mulus. Pasti ada ada saja masalahnya. Dan untuk kali ini Dion tidak ingin itu terjadi pada Rena.


Entah mengapa bagi Dion Rena berbeda dari wanita lainnya. Padahal banyak saja wanita yang cantik cantik di tempat Vallen ibunya, tapi Dion merasa sangat ingin dekat dengan Rena seorang. Ada hal berbeda menurut Dion yang di miliki Rena.

__ADS_1


Padahal jika Dion mau sepuluh wanita pun Dion bisa miliki, apa lagi dengan apa yang di miliki Dion saat ini. Tapi itu sama sekali tidak terlintas di pikirannya, tapi kali ini, Dion memiliki tujuan, yaitu Rena. Dion ingin menjaga Rena, Dion ingib selalu ada untuk Rena saat senang maupun susah.


Dion keluar dari ruangan itu dan mendapati Rena yang sedang duduk sendirian. "Sudah selesai Ren.." Ucap Dion memecahkan lamunan Rena.


"Eh iya... Di mana unitmu?" Dion pun memberikan buku kepemilikannya dan kartu aksesnya pada Rena.


Rena membacanya dan ternyata unti Dion dan unitnya hanya berbeda beberapa meter saja. "Wah dekat dengan Unitku Dion.." Ucap Rena kaget. Dan Dion ya seperti tadi juga kaget pura pura ala dirinya.


"Wah bagus donk... Eh kamu sudah makan malam belum?" Tanya Dion mengingat kalau ini sudah hampir malam dan sedari tadi Rena dan dirinya tidak ada makan selain di restoran tadi siang, meskipun mereka berbeda meja tapi Dion melihat Rena makan dengan kenyang.


"Belum sih... Kamu?" Rena malah balik bertanya.


"Iya aku juga belum... Sedari tadi aku mencari Apartemen yang pas dan lupa makan bahkan aku belum makan siang dan sekarang sudah jam makan malam hehehee..." Bohongnya.


"Oohhh.... Emmm Kita makan di unitku saja ya... Unitmu kan belum kamu isi, dan kamu juga belum membeli bahan bahan makanan, di unitku ada yang bisa kita masak.." Ajak Rena yang memang di damba dambakan Dion.


"Iya bolehlah kalau begitu. Tapi apa tidak ada yang akan memarahimu jika kamu membawa masuk aku?" Pancing Dion ingin tahu sedikit banyaknya.


"Aahh tidak apa apa.. Roy dan istrinya sedang berlibur ke rumah Eyangnya.


Dion mangut mangut mengerti "Sudahku duga..." Guman hati Dion yang akhirnya mengetahui sebab Rena merasa sedih dan memilih untuk mencari pekerjaan baru yang lebih bermakna.


***


Kini Roy dan Debora tak lupa Eyang, mereka sedang bersantai di ruang keluarga. Di temani Teh hangat dan juga roti.


"Roy... Debora... Kapan?" Tanya Eyang tiba tiba saat Roy sedang menyeruput tehnya. Sontak Roy menghentikan gerakannya.


"Loh Apa lagi Roy? Cicit buat Eyang mana?" Tagih Eyangnya tiba tiba.


Roy gelagapan mendengar ucapan Eyangnya. Sedangkan Debora tersenyum tak sabar.


"Iya Eyang Roy dan Debora usahakan kok. Eyang tenang aja ya..." Hibur Roy, tak ingin sang Eyang berkecil hati.


"Iya Roy... Usahakannya itu yang cepat. Ngebut kalo bisa..."Bujuk Eyangnya lagi.


"Iya Eyang sayang. Ngebut kok..." ucap Roy lagi mengiyakan ucapan Eyangnya, sedangkan Debora sudah berkhayal bagaimana Roy ngebut buat cicit Eyangnya.


***


Di apartemen Rena lebih tepatnya unitnya, Rena dan Dion sedang memasak makan malam untuk mereka berdua.


Rena memasakan Dion Nasi goreng dan di temani ayam goreng tepung krispi.


Awalnya Rena menolak Dion untuk ikut membantunya tapi Dion ngotot ingin membantu. Alhasil Dion yang memasak ayam dan Rena yang memasak nasi gorengnya.


Rena menoleh pada Dion yang asik memasak ayamnya. Tak ada masalah buat Dion untuk baru memasak ayam goreng, karna biasanya Dion memang memasak sendiri.


"Jadi kamu bisa juga memasak ya..." Ucap Rena sebenarnya memuji Dion.


"Hah... Baru masuk ayam goreng gini aja ya siapa aja bisa Ren." Jawab santai Dion sambil terus memasak ayamnya.

__ADS_1


"Hehe... Iya kamu betul juga ya..."Rena juga meneruskan masaknya.


Kini semua masakan yang di buat Rena dan Dion sudah siap santap. Keduanya duduk di meja makan kecil di unit Rena itu.


"Selamat makan..." Ucap Rena pada Dion di depannya.


"Selamat makan juga Rena." kata Dion juga.


Makan malam yang hangat antara Dion dan Rena begitu nikmat di keduanya. Rena dalam sekejap melupakan masalahnya. Dion pun merasa sangat senang malam ini Dion bisa dekat dengan Rena dan yang paling Dion banggakan adalah bisa makan malam bersama dengan Rena.


***


Debora dan Roy sedang tiduran di ranjang mereka di rumah Eyangnya.


"Roy.." Panggil Debora dengan sangat lembut pada Roy seolah sedang menggoda suaminya.


"Ya..?" Jawab Roy singkat.


"Roy... Kamu janjikan akan memberikan aku baby..." Tanya Debora dengan membuat suaranya yang di buat lucu.


"Iyalah Debora, kamu pikir aku juga tidak menginginkannya? Aku juga mau sayang"Jawab Roy sambil terus memegangi ponselnya karna sedang menghubungi Hery.


"Terimakasih Roy..." Debora bermanja manja di lengan kekar Roy.


"Sayang aku mau menghubungi Hery dulu ya. Aku ingin tahu info perusahaan hari ini. Boleh.." Hal seperti itu saja harus Roy tanyakan pada Debora, sungguh Roy sedang di butakan oleh cinta gilanya.


"Iya Roy... Silahkan" Debora mengangukkan kepalanya.


Roy pun keluar dari kamarnya menuju teras rumah sang Eyang. "Halo.." Hery menjawab telpon dari Roy.


"Halo Her... Gimana perusahaan hari ini. Aman sajakan...?" Roy memastikan.


"Iya aman Roy." Tutur Hery.


"Oohh baguslah... Kau jaga perusahaan baik baik ya.." Kata Roy sedikit bercanda dengan Hery karna kadang Roy dan Hery sering bercanda dari telponnya.


"Apa kamu akan lama di situ Roy...?" tanya Hery ingin tahu.


"Mungkin Her... Kenapa... Kamu rindu aku kah?" Goda Roy lagi.


"Bukan aku yang rindu... Mungkin saja Nyonya Filip kecilmu yang rindu" kata Hery memang ada benarnya.


"Oohh astaga aku melupakan Rena... Her... apa kamu ada mengecek Rena hari ini. Kalau tidak salah tadi pagi ku melihatnya..." Roy sungguh bahkan melupakan Rena setelah sampai rumah Eyangnya.


"Iya Roy... Aku juga melihatnya, aku berhenti dan menanyakan sedang apa dia." Hery menghentikan ucapannya dan berpikir apakah ia akan jujur pada Roy atau tidak dengan kondisi Rena hari ini tadi.


"Lalu apa katanya Her...?" Roy penasaran.


"Dia..." Hery masih tidak yakin memberitahukan yang sebenarnya.


"Apa Her...? Coba bicara yang jelas." jengkel dengan Hery yang putus putus menyampaikan berita tentang Rena.

__ADS_1


"Dia... mencari..."


__ADS_2