
Roy masuk dalam kamarnya dan mengambil kopernya hendak ia isi dengan pakaiannya. Ketika itu juga Debora datang dan sungguh terkejut Debora melihat Roy benar benar akan pulang duluan.
"Kok.. Kamu kok marah beneran.. Aki kan cuma gak layani kamu aja.. Janganlah pulang kan kita baru sampai kemarin, kita belum melakukan.."
"Aku ke sini bukan untuk melakukan apa apa, aku hanya ingin melihat kondisi Eyang, jadi jika aku memiliki tugas yang lainnya tidak ada yang biasa melarangku." Ucap Roy memotong ucapan Debora yang belum selesai.
Debora tidak dapat berkata apa apa lagi. Tapi hatinya panas mendengar ucapan Roy.
"Roy... Eyang menintamu untuk mendukung aku yang sedang dalam program kehamilan.." Rengek Debora tak terima.
"Debora... Aku tidak pernah meminta kamu ikut program kehamilanmu itu. Dan untuk masalah anak, maaf sepertinya aku sudah tidak tertarik lagi memiliki anak."
NYESSSS...
Hati Debora terasa teriris dengan ucapan Roy. Sedangkan Roy santai saja dan kembali menyiapkan baju bajunya.
"Tidak Roy kamu tidak boleh pergi..!" Debora menrebut koper koper berisi baju itu dan menghambur hamburkannya sembarang. Roy juga panas melihatnya. Debora benar benar kelewatan.
"Debora....!!" Bentak Roy dengan kasar kali ini.
"Dengar...! Aku tidak mau mengikuti semua permintaan anehmu itu. Dan aku sudah bilang untuk masalah anak, aku sudah tak tertarik, kamu yang belum punya anak saja sudah banyak tingkahnya dan permintaan, apa lagi jika sudah punya anak, pasti berkedip saja kamu meminta tolong padaku. Aku tidak mau tahu silahkan kamu tinggal di sini, atau terserah kamu mau ngapain, aku sudah gak peduli." Roy berlalu meninggalkan Debora sendiri di dalam kamar itu, Eyang yang mendengar suara bentak dari Roy tadi bergegas naik ke lantai dua dan melihat Roy sudah turun ke lantai bawah dan sama sekali tak menghiraukan Eyangnya yang meneriakinya juga. "Roy.. Roy... Kamu mau kemana..."
Roy masuk dalam mobilnya dan meninggalkan keidaman Eyangnya dengan perasaan marah bercampur khawatir. Roy Khawatir dengan Keadaan Rena yang masih belum di temukan.
"Rena sayang kamu di mana...?" Gumam Roy sendiri di dalam mobilnya.
***
Eyang menenangkan Debora yang menangis tersedu sedu. "Eyang lihatkan.. Roy mengabaikan aku Eyang..."
"Debora tenanglah Roy kan berkerja juga untukmu.. Kalau dia tidak bekerja bagaimana dia akan menghidupi kamu dan anak kalian nanti." Hibur Eyang pada menantunya yang menangis itu.
__ADS_1
"Tidak Eyang... Aku hanya mau Roy bersamaku, aku ingin ceoat cepat punya anak bersamanya.." Tangis Debora semakin pecah.
***
Roy yang mengemudikan mobilnya dengan laju tak butuh waktu lama untuk sampai di pusat kota.
"Halo Her.. Kamu bisa menghandle perusahaan sebentarkan?" Roy menghubungi Hery yang sibuk di perusahaan. "Iya Roy aku bisa, carilah Nyonya Rena sampai ketemu" Hery meyakinkan Roy.
"Her... Apa kemarin Rena tak mengatakan ia akan mencari pekerjaan kemana Hari ini?" Tanya Roy.
"Eemm tidak Roy... Aku juga tidak kepikiran untuk menanyakannya."
"Oohh oke baiklah... Aku akan berusah dulu" Roy memutuskan sambungan telonnya dan terus saja berjalan tampa arah.
"Aaahh mungkin aku harus ke apartemen dulu, siapa tahu Rena sudah pulang ke unitnya. Mungkin tadi dia hanya jalan jalan saja." Roy memutar arah mobilnya dan menuju apartemen.
Sementara itu Rena dan Dion sedang sibuk sibuknya melayani pelangan yang datang untuk membeli ayam jualan mereka, ini sudah memasuki jam sore oleh karna itu banyak ibu ibu yang berdatangan untuk mencari lauk makan malamnya nanti. Ya termasuk ayam seperti yang Rena jual ini.
Rena tampak sangat semangat melayani dan menimbang berapa yang ibu ibu itu minta. Seperti tak lelah saja Rena melakukan tugasnya.
***
Roy sudah tiba di unit Rena tapi masih seperti kondisi yang Hery sampaikan, tidak ada Rena di unit itu. Sepatu putih Rena juga masih tidak ada.
Roy mengecek kamarnya dan membuka lemari, pakaian pakaian Rena masih rapi. Roy melihat dompet yang Roy titipkan pada Hery, Rena meletakannya di dalam lemari itu juga. Roy mengambil dompet itu dan membukanya, masih banyak uang di dalamnya, bahkan bukan hanya sekedat uang, tapi kartu gold yang pernah Roy berikan juga ada di dalam dompet itu.
Roy sekarang tidak bisa lagi memendung rindunya pada Rena. ''Ini semua salahku... Kenapa aku meninggalkan Rena seperti ini, sekarang aku harus mencarinya kemana.'' Roy tampak frustasi sekali saat ini.
Roy kembali mengingat beberapa waktu yang lalu, Roy melihat Rena sedang berjalan di pinggiran jalan raya, saat itukan Rena sedang mencari kerja, mungkin saja Rena menemuakan pekerjaan di sana. Dengan pikiran seperti itu Roy meniggalkan unitnya itu dan kembali mencari Rena du luar sana.
***
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Jam stand jualan Ayam tempat Rena kerja tutup.
"Haahh.. Lumayan juga ya.." Ucap Dion mengelap keringat di wajahnya.
"Iya tapi aku senang banget Dion.. Makasih ya udah temani aku..." Ucap Cessa lagi tak henti henti berterima kasih, karna jika bukan karna Dion Rena tidam akan bisa mendapat pekerjaan ini.
"Hai Rena.. Ini upah kamu.." Dinda kakak Fery datang dan menyerahkan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Hah? Kok sudah di bayar si kak? Kan aku baru kerja." Heran Rena.
"Iya anggap aja ini uang perkenalan baru masuk kerja kamu dan aku lihat kamu kerja dengan baik, makanya aku kasih deh bonus hehe.." Ucap Dinda lagi.
"Wah terima kasih ya kak.." Rena sangat senang ia mendapat upah pertamanya itu.
"Iya sama sama.." Ucap Dinda juga.
***
Roy masih sibuk mencari Rena kemanapun yang ia rasa mungkin akan bisa menemukan Rena. Tapi hasilnya nihil.
Sementara itu Rena dan Dion juga dalam perjalanan pulang ke Apartemennya mengunakan motor milik Dion.
"Ren... Maaf ya besok aku tidak bisa ikut kamu jualan lagi.. Besok aku harus turun kerja seperti biasanya. Tapi aku janji kalau ada waktu aku akan ikut kamu jualan lagi" ucap Dion dengan sangat halus khas suara merdunya.
"Hah... Dion.. Kamu itu sudah banyak membantuku.. Hari ini aku dapat pekerjaan karna kamu Dion.. Kami tidak perlu khawatir, hari ini saja aku sangat senang ada kamu yang membantuku. Aku juga paham kondisimu." Ucap Rena juga.
"Terima kasih Rena. Kamu sangat baik.." Ucap Dion hampir tak terdengar karna suara motor dan kendaraan lainnya.
"Hah? Apa?" Tanya Rena karna tak mendengar ucapan Dion.
"Tidak ada apa apa Rena." Ucap Dion lagi dan terus melanjutkan perjalanan mereka.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hari yang menyenangkan ini. Semoga saja doa para ibu ibu tadi di pasar benar benar terjadi."
Koment donk Readers.. pengen dengar donk..