
Roy menyunggingkan senyumnya melihat pasangan ini.
"Kamu ke sini pasti mau jenguk Debora ya..?" Hery kembali menjadi Hery yang seperti Roy kenal.
"Eemm iya.. Kalau dia mau ketemu aku.. Sebagaimana yang di katakan di pengadilan. Aku minta hak aku sebagai ayah dari anak yang di kandung Debora. Aku minta agar bisa menemui dan menjaha Debora juga. Meski dia antara kami sudah gak ada ikatan suami istri.." Hery mengangguk setuju.
"Mungkin dia di kamarnya.." Roy mengangguk dan bangun dari duduknya hendak mencari Debora.
"Sayang.." Hery berlalu juga mencari Rena.
"Apa..? Ini sedikit lagi." Rena sedang mengupas Mangga untuk Hery.
"Eeemmm wanginya udah menggoda aja.. Ya ampun.. Cepat ya sayang.." Hery memegangi perutnya.
"Ya tapi dikit aja ya.. Kamu belum makan nasi tuh.." Cicit Rena.
"Eeettsss.. Masa aku gak makan. Kan aku sudah makan kamu tadi di kamar Sayang.. Sudah cukuplah asupan aku tu..." Hery duduk di atas meja dan menciumi jeruk jeurk yang ada di dalam kantong plastik tadi.
"Hemmm kayaknya jeruk juga enak.." Hery mengupas jeruknya sendiri.
"Sayang... Makan nasi dulu ya.. Kamu mau makan itu buah buahan, makan nasi dulu, biar nanti gak kena Mag.." Alasan Rena.
"Sayang aku mau.." Rengek Hery lagi.
"Ya ampun.. Alf dan Elf dulu gak gini deh.." Cicit Rena lagi..
"Ha'aammm" Hery memakan jeruk itu dengan lahapnya.
__ADS_1
"Eemmm manis juga.." Hery mencicipi jeruk itu lagi lagi dan lagi.
"Sayang.. Jangan banyak banyak.." Rena terus melarang bahkan ia menyimpan jeruk jeruk itu ke dalam kulkas, tapi rupanya di kantong celana Hery sudah ada di sembunyikannya di sana.
"Sayang...!" Rena tak habis pikir masih ada yang bisa di kupas Hery lagi.
"Aku suka.." Cicitnya seperti tak bersalah.
"Ck.." Rena berkacak pinggang.
.
.
.
.
"Debora..?" Panggil Roy. Debora hanya berhenti sejenak dan setelah itu melanjutkan lagi aktivitasnya.
"Aku boleh masuk..?" Roy berucap lagi.
"Eeemmm" Debora tak ingin banyak bicara.
"Bagiamana keadaan kamu..?" Roy berusaha mencari topik pembicaraan yang bagus.
"Baik.." Singkat dan tetap pura pura sibuk.
__ADS_1
"Baby... Sehat..?" Pertanyaan itu berhasil membuat Debora terdiam sejenak.
"Ya Dia juga sehat."
"Eemmm kalau gak salah sudah masuk 7 bulan kan.. Apa kamu sudah belanja..?"
"Sudah.. Tuh.." Debora menunjuk paperbag belanjaannya kemarin.
"Ooohhh.." Roy meng'oh lesu. Ia kira akan mengajak Debora untuk berbelanja hari ini. Tapi setelah di lihat Debora suda melakukanya.
"Apa semuanya lengkap..?" Roy tetap mencari kesempatan.
"Gak ada.." Debora yakin karna, ada yang tak biasa di belanjaannya itu.
"Oohh" Sekali lagi Roy tak bisa melakukan apa apa.
"Kalau kamu perlu sesuatu kabari aku aja ya.. Mungkin kamu perlu aku, atau kendaraan, atau uang mungkin, aku bisa kasih secepatnya.." Roy berharap Debora masih mau bergantung padanya.
"Maaf untuk sekarang gak ada.." Semua baju sudah Debora masukkan, tak ada lagi alasannya untuk berdiri jauh dari Roy.
"Debora.. Aku tahu kamu masih marah sama aku, tapi biarkan aku lakukan yang terbaik untuk kamu dan baby.." Debora bergerak dari depan lemarinya dan duduk di depan meja riasnya.
"Debora.. Aku.."
"Gak usah.." Debora memberhentikan Roy yang hendak mendekatinya.
"Sampai sekarang aku masih bisa urus diri aku dan kandungan aku.. Kamu gak perlu khawatir. Aku juga punya Rena dan Hery yang siap bantu aku kapan aja. Bahkan aku..." Tiba tiba terlintas Wigara atau Dion di pikiran Debora. Laki laki yang dengan senang hati membantunya.
__ADS_1
Roy..