AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 153


__ADS_3

Nur berdecak kesal dan menendang lantai. Mau tak mau ia masuk ke dalam toilet dan memberikan Roy obat sakit perut itu dan berserta air minumnya.


"Ooohh ya ampun.." Nur segera keluar lagi.


Debora menahan tawanya melihat Nur yang merasa geli masuk saat Roy masih di dalam toilet dan dalam kondisi sakit perut pula.


"Eeemm sudahkah..?" Roy keluar dari toilet di depannya sudah ada Nur yang masih menunggunya.


"Ya udah.." Jawab Roy seadanya.


"Ya kalau gitu selamat malam.." Debora memberikan kode agar keduanya meninggalkan kamarnya.


"Ya selamat malam.." Nur berlalu dengan segera karna marah juga pada Roy.


"I love you..." Roy mengatakan itu terlebih dahulu dan mengecup bibir Debora lalu setelah itu dia keluar dari kamar Debora menyusul Nur ke kamarnya.


"Nur.. Nur.. Kamu mau aja di bodokin Roy.. Rpy itu gak toleran sama mie instan. Perutnya pasti sakit dan BAB bolak balik toilet. Haaahhh Roy.. Nakalnya kamu.." Debora tertawa mengingat Nur yang takut masuk Toilet.


***


Roy masuk ke dalam kamarnya dan Nur dengan santai tak berdosa. Nur memeluk bantal yang ada di tempat tidur.


"Ayo kita tidur.." Roy berbaring dan langsung memejamkan matanya.


"Roy.." Panggil Nur lagi.


"Apa..? Kamu mau aku sakit perut lagi..? Abis minum obat itu langsung tidur Nur, istirahat. Obat itu lebih manjur kalau di bawa tidur. Nanti kalau sakit lagi perut ini kamu juga yang repoy ikut aku masuk toilet kasih obat.." Roy berbicara tapi matanya tertutup.


"Roy.. Gak ada kecupan gitu.. Aku mau di kecup sebelum tidur.." Rengek Nur lagi.


Roy tak mengubrisnya. "Oke kalau kamu gak mau cium aku, aku kan bisa cium kamu.." Cup..


Satu kecupan cukup lama dari Nur untuk Roy. Roy membuka matanya karna ciuman di bibinya itu.


"Selamat malam suamiku sayang..." Nur ikut berbaring juga dan memejamkan matanya.


***


Pagi rasanya lebih cepat untuk Debora karna tiba tiba ada yang memeluknya dari dalam tidur.


"Roy..?" Ia terkejut rupanya itu Roy.

__ADS_1


"Apa sayang...? Roy sudah bangun sepagi ini.


"Tenang sayang matahari sudah terbit, aku milik kamu sekarang.." Debora baru saha ingin protes tapi secepat kilat juga Roy menghentikan protes itu tanpa sempat terucap.


"I love You.." ucap Debora pada Roy.


***


Nur membuka matanya, ia sudah tak menemukan Roy di sampingnya.


"Liat aja Kamu Roy.. Malam kemarin kamu boleh lolos jangan harap malam malam selanjutnya kamu bisa lolos. Aku buat kamu melayang ke nirwana yang aku tawarkan di jamim kamu gak akan mau keluar dari kamar ini."


"Aku berangkat dulu.." Roy pamit dengan semua orang yang ada di meja makan.


"Roy gak sarapan...?" Eyang terkejut dengan Roy yang sepertinya buru buru sekali.


"Eeemm gak Eyang.. Ada rapat penting, Hery harus di temani aku karna ada wartawan juga yang mau wawacara." Alasannya.


"Ooohhh ya udah nanti siang Nur antar makan siang ya.." Tawar Nur pada Roy.


"Kenapa kamu.. Kan ada Debora, lagi pula ini siang bukan malam terus.. Debora nanti antarkan aku makan siang ya.. Eeem gak usah bawa makan siang deh.. Kita makan di luar aja.." Ucap Roy ia mengedipkan matanya setelah itu pergi.


Debora mengerti maksud kedipan itu, tentu untuk makan siang yang lainnya. Nur tentu iri dengan Debora yang selalu selangkah di depanya jika itu masalah Roy.


***


"Sayang.. Aku mohon. Kan cuma pakai rambut dan kuku.. Tinggal tunggu baby Alf dan Elf genap 2 bulan.." Rena dan Hery sedang negosiasi.


"Sayang gak ada gunanya kok.." Hery terus menolak permintaan Rena.


Rena meminta untuk tes DNA pada kedua anaknya untuk memastikan.


"Ya kan hasilnya sama aja sayang.." Hery tetap mengelak.


"Yahh sayang ini.. Ya udah aku bawa Bisma sama Adel aja deh buat temani aku.. Atau aku bawa Roy aja.." Hery tersentak mendengarnya.


"Eeehh kok bawa bawa mereka.. Nanti kalau mereka tahu.. Bisma kan gak tahu apa apa. Roy lagi buat apa bawa dia, dia aja banyak masalah.." Hery berkacak pinggang.


"Ya tapi kalau masalah Baby Alf dan Elf aku yakin Roy mau.." Rena berbalik hendak pergi dari hadapan Hery yang terus menolak untuk di ajak Tes DNA Alf dan Elf.


"Sayang.. Oke oke.. Aku ikut.. Tapi ada syaratnya.." CEO perusahaan Gunha ini pasti tak kalah dalam masalah bernegosiasi.

__ADS_1


"Apa..?" Rena mendengarkan.


"Kita pergi nanti tepat Alf dan Elf 2 bulan kan.. Nah dua bulan itu terhitung 60 hari. Jika kamu nifas cuma 40 sampai 42 jari maka waktu itu kamu sudah selesai nifas. Jadi syaratnya.."


"Oke aku layani kamu sempai puas.." Rena menduga apa yang menjadi syarat Hery.


"Bukaaaaannnnn.." ternyata jawaban Rena salah.


"Melayani sampai aku puas kan sudah tugas kamu.. Yang aku minta..." Hery berjalan ke arah laci nakas mereka.


Ia mengambil benerapa botol obat dari dalam laci itu. Rena mengerutkan keningnya.


Hery membuang obat obat itu ke dalam tempat sampah. "Aku mau adik untuk Alf dan Elf.." ucap Hery dengan lantang.


Rena tertawa kecil akhirnya ia paham kenapa Hery membuang persedian pil kontrasepsinya ke tempat sampah.


Rena menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Jadi gitu permainannya.." Hery melipat tangan di dadanya.


"Aku yakin kamu pasti belum siap untuk punya anak lagi sayang.." gumam Hery, karna beberapa kali ia meminta adik secepatnya untuk Alf dan Elf, Rena menolaknya.


"Oke.. Kita sepakat ya.." Hery kehilangan senyum mendadak.


"Hah..?" Hery melepas lipatan tangannya.


"Ya kita akan punya anak lagi setelah pengecekan DNA Alf dan Elf. Bahkan kita langsung konsultasi rencana kita itu ke dokter kandungan hari itu juga sayang ku.. Oke.. Deal.." Rena menjabat tangan Hery lalu menemui Alf dan Elf yang ia tinggal bersama Marry dan Adel di bawah.


"Mati aku..!" Hery menepuk keningnya.


Hery meraup banyak banyak udara sangkin terkejutnya dengan persetujuan Rena.


"Dah lah.. Oke oke aja kok.." Hery menyusul Rena ke bawah untuk sarapan pagi.


Roy sampai di kantor lebih awal pagi ini. Bahkan Hery juga belum kelihatan batang hidungnya, padahal biasanya Hery yang paling awal tiba sebelum Roy.


Roy segera mengecek ponselnya, ia mengirim pesan pada Debora memastikan istri pertamanya baik baik saja di rumah.


Debora membalas pesannya, mengatakan ia baik baik saja. Roy lega akan hal itu. Dengan adanya Nur dan Eyang di rumah maka tidak tenang hati Roy. Ia takut Debora akan di perlalukan semena mena oleh mereka. Roy juga meminta bantuan bi Mila untuk mengawasi Nur dan Eyang takut takut mereka memiliki niat jahat pada Debora.


Siangnya..


Off dulu guys.. Hihi makin banyak rahasia.. Haduh puyeng deh mikirnya..

__ADS_1


Selamat datang pembaca baru dan pembaca setia... Selamat datang di novel kita bersama ini. Author ada saran novel juga ini. Tapi novel author sendiri sihh... Hehehe.. Judulnya Budak cinta sang Mafia. Dh up di sebelah ceritanya makin tegang guys. Kalau yang takut darah jangan masuk deh Author sarankan.. Tapi kalau mau intip juga boleh kok..


__ADS_2