AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 190


__ADS_3

Pagi ini tumben sekali Roy tidak cepat cepat keluar dari kamar Nur. Biasanya sebelum matahari terbit ia sudah keluar dari kamar Nur. Tapi pagi ini sepertinya tidak.


Debora sudah bangun dan hanya memperhatikan pintu kamar Nur yang masih terkunci rapat. Tidak ada tanda tanda ada yang keluar dari dalan sana. Memanglah ini hari minggu tapi bukan Roy yang sering terlambat bangun seperti ini meski di hari Minggu.


**


Di tempat lain juga ada yang lebih panik dari Debora. Adel meremas jari jarinya, Bisma sejak semalam tidak pulang ke rumah mereka. Adel juga sudah ke rumah Hery dan Rena untuk memastikan Bisma tidak ke sana. Tapi cukup melihat dari teras saja Adel bisa menyimpulkan tidak ada Bisma di sana. Kalau ada Bisma maka mobilnya juga ada.


Maka Adel kembali lagi ke rumahnya tanpa mengatakan apa pun pada Hery karna takut akan membuat Hery terganggu dan ikut panik juga.


Sampai pagi ini Bisma juga tidak dapat di kabari, entah di mana laki laki itu. Adel juga tidak memiliki nomer orang lain yang bisa membantunya. Ingin menghubungi Hery tapi ia bepikir ribuan kali untuk memberi tahu Hery.


"Eeehh aku punya nomer..." Adel membuka ponselnya dan mengecek.


"Ini dia.." Adel langsung menghubunginya.


"Halo.. Eeemm bisa bantu aku gak..?"


****


"Dia ke mana.. Apa ada jejak yang bisa kita ikutti..?" Tanya Stuart ketika Adel sudah di mobilnya.


Saat pusing mencari orang yang bisa membantunya, Adel teringat akan Stuart. Dan Stuart pasti paham kondisi Adel juga karna ia sering berhadapan dengan adiknya seperti ini.

__ADS_1


"Aku gak tahu Stu.. Tapi aku sudah telpon berkali kali tapi gak di terima.. Tersambung seperti ini.."


Tuutt.. Tuuttt.. Tuttt..


Adel mendekatkan ponselnya pada Stuart. "Coba aku liat.." Stuart mengambil ponsel itu dan menyambungkannya pada suatu alat.


"Itu apa...?" Adel tentu kepo.


"Alat pelacak. Alat ini bisa lacak nomer, elektronik dan card khusus, yang aku pakai di adikku itu card khusus. Aku ambil nomer telpon Bisma untuk lacak keberadaannya dan aktivitas ponselnya.." Jelas Stuart lagi. Adel mengangguk paham.


Titt titt tiittt..


"Ini dia.. Di sini.." Tunjuk Stuart. Ia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Adel tak mempermasalahkannya, karna ia juga perlu cepat bertemu dengan Bisma.


Mereka mengarah ke salah satu hotel di tengah kota. Adel menatap hotel itu sedangkan Bisma sibuk dengan alatnya.


"Kenapa..?"


"Aahh... Aku takut aja.. Apa Bisma.. Sama wanita.. Atau pria..?" Hati Adel bergemuruh.


"Sudah kita liat aja nanti ayo.." Stuart langsung menarik Adel bersamanya.


Mereka memesan kamar di resepsionis.

__ADS_1


"Kami pasangan suami istri.. Kami dari Jerman pesankan satu kamar suite room.." Stuart nampak biasa saja sedangkan Adel yang kaku berat mendengarnya.


Sudah hatinya tak karuan memikirkan Bisma di tambah lagi laki laki yang satu ini.


"Oke sudah.. Ayo.." Stuart menarik Adel lagi. Mereka menaiki lift menuju kamar mereka.


"Astaga aku benar benar dag dig dug.." Adel memegangi dadanya. Stuart hanya melirik dengan ekor matanya. Tak berani terlalu memandang Adel.


Ting..


Pinti lift terbuka. Ini bukan area kamar yang di pesan Stuart tapi dari alat pelacaknya, Bisma di sini.


"Adel.. Ini kamarnya.." Stuart yakin.


"Betul gak salah kah..?" Adel gemetaran.


"Apa yang kamu takutkan..?" Stuart jadi kesal melihat Adel yang semakin tak terkendali ketakutannya.


"Ini demi kebaikan Bisma sendiri.." Tambah Stuart lagi.


"Aku takut dia sama wanita yang dia cintai.. Aku gak mau ganggu" Rasa itu yang lebih di takuti Adel.


"Aaaissshh mana ada Bisma suka perempuan.." Sarkas Stuart lagi.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Stuart dengan satu tendangannya membuka pintu itu. Adel menutup matanya takut.


Ternyata...


__ADS_2