
Rena menatap kamar tempatnya saat ini, tentu saja berbeda dari pada kamar di apartemennya.
Rena merasa dirinya ingin buang air kecil, mau tak mau Rena turun untuk mencari toilet yang Hery katakan padanya.
"Mungkin tidak akan sulit mencarinya, rumah Hery sangat minimalis dan pasti sangat mudah untuk menemukan toiletnya." Gumam Rena saat menuruni tangga.
Saat Rena tiba di dapur, Rena melihat Hery sedang mengaduk segelas susu hangat di atas meja yang ada di dapurnya.
Rena cukup terkejut melihatnya, begitu pula dengan Hery ia juga terkejut melihat kedatangan Rena tiba tiba ke dapurnya.
"Kamu sedang apa?" Tanya Rena memastikan apa yang Hery lakukan di depannya, Rena benar benar tidak yakin jika susu itu akan Hery minum sendiri. Susu itu sangatlah banyak satu gelas panjang, apa mungkin Hery laki laki yang seperti itu.
"Aku sedang membuat susu vanila hangat, apa kamu mau juga?" Hery malah menawarkan susu itu.
"Aahh tidak, aku tidak cocok dengan susu rasa vanila, rasanya aku tidak suka karna kehamilanku ini. Aku biasanya rasa stawbery.." Ungkap Rena.
"Ooohh terus kamu mau ngapain nih...?" Hery takutnya ada yang coco dengan Rena.
"Aah tidak apa apa, aku hanya ingin ke toilet." Ucap Rena lagi dan celingan celinguk mencari pintu kamar mandi.
"Itu.." Hery menunjuk kamar mandi di rumahnya itu dengan sendok yang ia gunakan untuk mengaduk Susunya.
"Oohh oke.." Rena senyum senyum sendiri melihat tingkah lucu Hery.
Rena masuk ke kamar mandi dan menuntaskan apa yang harus ia lakukan. Rena terdiam sejenak.
"Apa aku tanyakan pada Hery saja? Dia pasti tahu semuanya." Rena pun keluar dari kamar mandi dan melihat Hery sudah meminum setengah daru gelas Panjangnya yang ia gunakan untuk menyeduh susu hangatnya tadi.
"Kamu sudah menghabiskannya setengah gelas?" Rena menunjuk gelas susu Hery.
"Em.. Iya.." Hery sedan sibuk dengan ponselnya di tanganya.
"Kamu manis juga... Minum susu malam malam itu sangat jarqng di lakukan laki laki looohh..."
"Hah?" Hery tak percaya jika barusan Rena mengatakan kalau dia manis. Rasanya pipi Hery memerah tersipu ucapan Rena.
"Aahh iya.. Minum susu malam malam begini bisa membuatku bangun pagi dengan segar walaupun lembur."
__ADS_1
Rena menarik satu kursi lagi dan duduk di kursi tersebut.
"Apa kamu belum mengantuk?" tanya Rena lagi, sebenarnya ia hanya ingin menanyakan sesuatu pada Hery.
"Belum... Aku masih ada pekerjaan, hari ini tadi tidak selesai mau gak mau aku selesaikan malam ini." Ucap Hery lagi memberi tahu keadaannya.
"Ooohh.. Maaf ya.." Hery hendak meneguk susunya pun menghentikan geraknya dan menaruh lagu susunya di atas meja.
"Kenapa kamu minta maaf, kamu gak buat salah kok..." Ucap Hery lagi.
"Bukankah karna aku, kamu jadi lambat buat pekerjaan kamu karna malah temani aku makan malam dan tunggu apartemenku menyala tapi gak nyala nyala juga. Maaf ya.." Hery malah tertawa mendengar permitaan maaf Rena. Rena memiringkan kepalanya.
"Kamu kok ketawa. Aku beneran loohhh..." Protes Rena.
"Maaf.. maaf.. Hanya saja aku memang selalu kerja malam seperti ini, karna sebelum ini aku hanya membaca novel onlineku, setelah aku selesi baca, baru aku kerjakan pekerjaanku. Oleh karna itu aku harus minum susu hangat agar saat bangun nanti aku segar dan merasa tak kurang tidur." Ungkap Hery lagi dengan kebiasaan anehnya.
"Kamu suka novel online?" Rena tak percaya dengan ucapan Hery yang mengatakan kalau dia suka membaca novel online.
"Hehee. Agak aneh ya... Ya aku juga gak tahu, tiba tiba aja aku suka novel online. Dan jadinya tiap malam harus baca dulu, walaupun cuma satu bab aja. Karna auhtornya up tiap hari kok. Hehehe.." Rena tersenyum melihat Hery yang di luar dugaannya.
"Tanyakan saja, aku pasti bisa menjawabnya." Ucap Hery bangga akan kepintarannya.
"Ini tentang Roy... Apa Eyang akan tinggal bersama Roy..?" Itulah pertanyaan yang sejak tadi Rena pikirkan.
"Itu tergantung Roy sendiri, kenapa?" tanya Hery balik.
"Aku hanya takut Her. Aku takut Roy akan bawa aku ke rumahnya saat ada Eyangnya. Maka pasti aku yang akan di salahkan karna.." Rena tidak bisa meneruskan kalimatnya karna tak sanggup jika hal itu akan terjadi.
"Kamu tenang saja Rena, Roy pasti bisa mengatasi ini semua. Tapi yang harus kamu khawatirkan adalah Debora dan John, aku dengar dari Roy, kalau Debora dan John sudah tahu keberadaan kamu. Mereka itu jahat, mereka bisa saja melakukan hal buruk padamu dan anak uang sedang kamu kandung itu..." Saran Hery dan itu adalah yang terpaling tepat untuk Rena saat ini.
"Tapi Her... Roy bilang akan segera membawa aku ke rumahnya, kalau aku di bawa maka. Dan Debora..." Rena sungguh bingung dengan keadaannya saat ini.
"Aku juga bingung karna aku tidak dapat banyak bergerak kalau sudah masalah pribadi Roy dan keluarganya, apalagi terhadap Eyang, Eyang sangat di sayang Roy. Dan Roy tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Eyangnya itu. Tapi masalah lain yang Roy juga hadapi adalah, Eyangnya yang mendukung Debora sepenuhnya, oleh karna itu Roy menyiapkan perceraianya dengan sangat teliti, agar tidak mengejutkan Eyangnya yang sangat menyayangi Debora itu. Dan sekarang yang aku tahu Debora meminta Eyang untuk tinggal bersama dia dan Roy. Dengan alasan dia sedang mengandung. Itu semua tergantung Roy apa ia akan membiarkannya atau memiliki cara lain itu yang masih aku belum tahu." Hery mengelengkan kepalanya, Rena pun menundukkan kepalanya.
Hery merasa tak enak pada Rena, bodohnya ia memberitahukan masalah itu pada bumil seperti Rena yang ia tahu sedang sensitif sensitifnya di masa masa sekarang. Hery melihat jam di dinding dapurnya itu dan menemukan sudah hampir jam 2 dini hari.
"Rena ini sudah hampir jam 2, kamu gak ngantukkah?" Hery sebenarnya sangat ingin meminta agar Rena segera tidur.
__ADS_1
"Ah iya sudah sangat larut bahkan sudah hampir subuh. Baiklah aku naik duluan ya..." Rena pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya.
Hery mencari cari dompetnya tapi ia tak menemukannya. "Eehh pasti tertinggal di mobil lagi." Hery pun bangkit dan keluar menuju bagasi mobilnya.
Hery mengambil dompetnya dan tak sengaja melihat ponsel Rena juga ada di dalam mobilnya.
"Tertinggal juga?" Hery pun membawa masuk ponsel dan dompetnya tersebut.
Rena sampai di kamarnya dan meneteskan airmatanya tangisnya pun menjadi jadi.
TOK TOK TOK...
Hery mengetuk pintu kamar Rena dan dengan cepat Rena mengelap sembarang wajahnya menghilangkan airmata yang mengalir membasahi pipinya.
"Iya..." Rena bergegas membukakan pintunya dan melihat Hery di baliknya.
"Ini ponselmu tertinggal di mobil." Hery menyodorkan ponsel tersebut kepada Rena.
"Ooohhh.. Terima kasih.." Rena menerima ponselnya itu dan hery justru sibuk dengan air yang mengkilap di tangan Rena.
"Rena... Apa kamu habis menangis?" Hery tidak dapat menahan keingintahuannya.
"Aku tidak menangis, apa yang aku tangisi?" Bohongnya padahal iya.
"Aku bisa melihatnya Rena, mata yang sembab itu, hindung yang memerah itu, dan air yang mengkilap di tanganmu. Matamu sembab karna kamu menangis dan saat hendak membukakan pintu kamu menghapus airmatamu dengan kasar sehingga membuat matamu sedikit memerah juga, hidungmu memerah karna nafasmu tak teratur, dan air yang mengkilap di tanganmu adalah airmata yang kamu lap dengan terburu buru." Tebakan yang sangat jitu kawan. Maklum IQnya 100 ke atas.
Rena tak tahan lagi menahan tangisnya pun pecah lagi. Apalagi mendengar penuturan dari Hery semakin membuat suasana hati Rena semakij buruk.
"Rena..." Hery terkejut melihat Rena yang mulai menangis sejadi jadinya.
Tanpa aba aba, Rena langsung memeluk tubuh Hery dan menangis di sana.
Hery...
Off lagi ya kawan.. Mampir selalu ke novel Budak cinta sang mafia dan Dendam 100 kilogram.
Author ucapkan selamat datang untuk pembaca baru dan pembaca Setia novel ini dari awal sampai sekarang terima kasih atas dukungannya yang sesalu buat Author semangat ngetiknya. Jangan lupa like ya..
__ADS_1