
Roy pun panik seketika melihat istri mudanya itu malah tak sadarkan diri, padahal ia baru saja senang melihat hasil tes pack Rena.
Dengan sekuat tenaganya Roy menmopong tubuh Rena dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Rena langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit itu, di sana sudah ada dokter Lina yajg menangani Rena.
Roy mondar mindir di depan ruangan Rena ditemani Hery tentunya.
"Tuh kan Roy... Kamu itu bisa gak sih jangan bikin masalah terus, lihatkan kondisi Rena sekarang, dia sedang mengandung anak yang seperti ku inginkan tapi kamu malah mementingkan John dan gak percaya sama penjelasan Rena, apa kamu tadi buat Rena sedih atau apa bisa bisanya sampe Rena pingsan gitu?" Ceramah Hery dan berbagai pertanyaannya mulai berlontaran.
"Aku... Aku hanya sedikit kesal tadi karna aku sangat penasaran dengan ceritanya, tapi Rena malah lambat pulang, dia memang akan menjelaskan dia dari mana saja dan singgah di mana, tapi aku tidak mau mendengarnya dan malah meminta ia mulai bercerita tentang pertemuannya dengan John." Jelas Roy lagi yang membuat Hery menggelengkan kepalanya.
"Kamu sangat payah Roy. Coba aku saja yang jadi dirimu, aku tidak akan melalukan itu pada Rena, karna mau di lihat dari berbagai sisi juga, Rena tak bersalah, wajah dan rupa John Rena tak tahu, apalagi mengenal John. Hanya wanita seperti Debora yang mau." Roy membulatkan matanya mendengar penuturan Hery.
"Apa? Sekarang kamu plototin aku, apa kamu mau aku pingsan juga kayak Rena karna di polotin kamu, atau kamu bela Debora gitu gak terima apa yang aku bilang barusan?" Hery benar benar kesal pada Roy.
"Apa maksudmu bilang kalau kamu akan menjadi diriku dan lebih baik dariku dalam urusan Rena?" Tanya Roy juga sedikit kesal mendengar ucapan Hery yang seolah juga menginginkan Rena.
"Cih.. Aku hanya mengajarimu menjadi suami yang lebih baik lagi, istri sedang hamil malah di marahin di kesalin kayak apa gak pingsan kayak Rena, biar ada sepuluh istrimu kalau kamu mau kayak gitu sama mereka pun pasti mereka gak akan mau sama kamu." ucap Hery lagi acuh tak acuh.
Roy pun sadar mendengar ucapan Hery barusan, benar saja tadi dirinya yang membuat Rena jadi seperti ini. Roy tak mau mendengarkan dulu dari mana Rena, singgah di mana dan membuatnya terlambat, apa yang ia beli. Dan semua itu berputar putar di kepala Roy saat ini.
"Hahhhh.. Kamu bemar Her.. Aku yang salah, aku bodoh sekali tadi." Ucap lirih Roy. Hery sangat paham apa yang di rasakan temannya itu, Hery pun merangkul Roy dan menenangkan Roy. Memanglah Hery kesal tadi pada Roy tapi tetap saja Hery siap menghibur Roy yang kini sudah sadar akan kesalahannya.
"Roy aku harap kamu jangan melakukn hal semacam ini lagi kedepannya. Lihat sekarang kamu akan punya anak, bahagialah Roy, Rena mengandung anakmu seperti pintamu padanya, jagalah dengan sepenuh hati." Ucap Hery lagi bagai pelita terang untuk Roy dimana pun Roy kesulitan seperti ini.
"Terima kasih Hery. Kamu memang yang terbaik." Ucap Roy juga senang memiliki teman seperti Hery yang selalu bisa menyadarkannya dari egonya dan setelah itu menghibur serta menenangkan Roy. Jarang kita dapat menemukan teman seperti Hery, teman yang selalu ada untuk kita di saat masa masa sulit.
Dokter Lina keluar dari dalam ruang Rena dan bertanya pada Roy dan Hery "Roy, Her.. Itu istri siapa ya?" pertanyaan yang akan sulit di jawab Roy.
Lina adalah teman sekelas Roy dan Hery saat masih menempuh pendidikan mereka, mereka saling kenal, dan tentu saja Lina mengenal Roy dan Deboralah istrinya, lalu siapa wanita yang tengah mengandung yang baru saja ia rawat.
__ADS_1
Roy bingung harus menjawab apa dan menoleh pada Hery mengingat tadi kata hery tentang menjadi dirinya.
"Itu pacarnya Hery, kenapa Lin?" Ucap Roy tak terduga dan membuat Hery menaikan satu alisnya tak percaya dengan apa uang baru saja Roy katakan.
"Oohh pacarnya Hery. Her.. Pacar itu banyak pikiran sepertinya, apa kamu ada memarahinya atau sebagainya?" Tanya Lina lagi seolah memanglah pacar Hery.
"Hah.. Oh.. Iya... Aku dan dia tadi ada sedikit masalah." Jawab Hery singkat.
"Hemmm.. Her jangan kayak gitu lagi ya. Kasihan dedek kecilnya, the next Hery di situ looo... Jaga dia ya.. Aku tadi sudah melakukan perawatan pada pacarmu itu, dan dari yang aku lihat sepertinya pacarmu itu kekurangan darah dan di tambah tadi dia sedikit stres sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Mulai sekarang jaga pola makannya, makan makanan yang sehat seperti sayur dan buah buahan dan juga minum susu khusus kehamilan ya. Biar the next Hery yang cerdik dan pandai di sekolah tetap sehat di dalam sana. Kalau besok sudah stabil boleh pulang ya.. " ucap Dokter Lina bahagia pada Hery dan Hery hanya bisa mangut mangut mengerti dan orang di samping Hery tak terima.
Dokter Lina pun pamit setelah mengatakan Pasien sudah bisa di lihat. Roy dengan wajah jengkelnya kini pada Hery. Sedangkan Hery sama sekali tak menghiraukannya.
"Kenapa Roy?" tanya Hery seolah tak paham maksud tatapan Roy itu.
Kini keduanya di dalam ruangan Rena dan Rena masih beristirahat di brankar dengan selang infus terpasang di tangannya.
"Diam.. Itu the next Roy Filip." Ralat Roy tak terima sang anak di kandungan Rena malah menjadi the next Hery. Padahal jelas jelas Roylah yang memproduksinya.
"Hahahahahhahaha.." Hery tertawa terpingkal pingkal. Sedangkan Roy semakin jengkel.
Tak berselang lama sejak masalah the next Hery atau the next Roy selesai, Rena membuka matanya.
Hery pertama kali melihatnya dan langsung memberi tahu Roy. "Roy Rena sudah sadar." Ucap Hery dan Roy langsung bangkit dan menghampiri Rena.
"Sayang.." Ucap Roy membelai pipi Rena. Rena bukannya terima dirinya di perdulikan Roy malah menolehkan wajahnya ke arah lain.
Deg..
Roy panik melihat apa yang baru saja Rena lakukan.
__ADS_1
"Sayang semarah itukah kamu padaku. Aku yang salah...Maafkan aku ya... Aku menyesal.." Ucap Roy matanya sudah berkaca kaca sedangkan Hery yang berada di samping Roy hanya mengeleng gelengkan kepalanya, "*Kamu sangat melow Roy... Tap*i rasakanlah.." Ledek Hery dalam hatinya.
"Kapan aku boleh keluar dari tempat ini?" tanya Rena pada Hery dan tak memperdulikan Roy yang sudah hendak menangis di depannya. Sepertinya Rena benar benar marah pada Roy.
"Emmm mumgkin besok Ren.. Dokter harus memastikan dulu kondisimu sudah stabil." Ucap Hery seperti yang di ucapkan Dokter Lina padanya tadi.
"Oohh..." Ucap Rena sedih, ia kira ia boleh pergi saat ini juga.
Sedangkan Roy tidak terima Rena malah berbicara pada Hery bukannya padanya.
"Rena.. Aku suamimu di sini.. Kenapa kamu malah berbicara pada Hery." Ucap Roy tak terima.
"Roy.." Hery menarik Roy mejauh sedikit dari Rena.
"Ck.. Kenapa sih Her.. Aku hanya ingin minta maaf sama Rena. Tapi dia malah berbicara padamu" Kata Roy masih tak terima.
"Roy dengar. Rena sekarang hanya butuh istirahat, dia tidak boleh banyak pikiran dulu, nanti saja kamu minta maafnya. Rena pasti bisa memaafkanmu karna dia wanita yang baik. Sekarang biarlah Rena menenangkan dirinya. Takutnya jika kamu terus memaksa malah buruk akibatnya pada Rena dan kandungannya." Saran Hery lagi yang sangat benar.
Roy tak bisa membantahnya karna memanglah benar. "Baiklah.. Aku mengerti." Ucap Roy seperti anak kecil.
Hery pun pamit pulang pada Roy dan ia juga akan pamit pada nyonya mudanya.
"Rena.. Aku pulang dulu ya.. Ini sudah larut malam, Roy akan menemanimu di sini, besok aku akan menjemput kalian lagi ya.." Ucap Hery sopan pada Rena tak ingin Roy berpikiran buruk tentangnya yang juga sebenarnya sangat memperdulikan Rena dan sangat mengkhawatirkan kandungan Rena walaupun itu bukan anaknya.
Rena..
off dulu ya kawan... koment donk.. apa ni tanggapannya..? seru gak...?
Maaf typonya ya.. Author juga manusia biasa..
__ADS_1