
Sore pun tiba. Adel sedari tadi bertanya tanya. Kenapa mereka mengarah ke rumah Rena dan Hery.
Tapi Bisma tak mau mengatakannya. "Hery cuma minta kita ke sini.. Dia juga ikut senang dengan perubahan aku ini. Aku harap kamu gak apa apa ya sayang.." Pinta Bisma.
"Ini cuma perayaan kecil kecilan aja kok.. Cuma kamu, aku, Hery, Rena, Alf, Elf dan Debora." Bisma menghitung dengan jari jari tangannya.
"Oke.. Ayo.. Aku juga mau ketemu sama Alf dan Elf.. Kangen.." Adel memeluk tubuhnya.
"Kamu mau kah..?"
"Hah..?" Adel melongo.
"Kamu kan suka Alf dan Elf.. Apa kamu gak mau punya juga gitu..?" Adel melipat bibirnya dan menahan malu.
"Kenapa.. Kok gitu..? Gak mau..?" Nada pertanyaan Bisma terdengar sedih.
"Bukannya gak mau sayang.. Tapi.. Eemm aku malu." Adel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Malu apa sayang.. Gak ada salahnya kita berdua coba.. Siapa tahu jadi kan..?" Adel mengangga mendengar penuturan Bisma.
"Aku.. Malu.. Aku.. Gimana ya.. Aku mau.. Tapi.." Adel menggigit bibirnya.
"Tapi apa..?" Bisma memarkirkan mobilnya di depan rumah Hery.
"Eemmm.. Itu aku.." Adel sangat ragu mengatakannya.
"Apa sayang..?" Bisma mendekatkan wajahnya dengan wajah Adel.
"Aku.. Sini.." Adel memiringkan kepala Bisma agar ia bisa menjangkau telinga Bisma.
"Aku......."
"Ahahahha.. Kamu.."
"Ssstttt.. Diam.. Aku sudah bilang aku malu.." Cicit Adel.
"Oke.. Oke sayang.. Oke.. Aaahh.. Ck.." Bisma menggeleng lagi.
__ADS_1
"Sayang..!" Protes Adel dengan ekspresi wajah Bisma.
"Iya.. Iya.. Aku paham.. Nanti kita bahas lagi ya.. Kalau perlu langsung pas di ranjang aja."
"Aaaaahh.. Sayang..!" Adel semakin takut.
"Aku akan makan kamu dari atas sampai bawah.." Bisik Bisma lagi.
"Iihhh.. Sayang ini..!" Adel mencubit pipi Bisma.
"Oke oke.. Ayo kita masuk.. Pasti sudah di tunggu yang lainnya, dan yang tadi.. Ingat.. Nanti kita bahas di ranjang.." Bisma turun terlebih dahulu.
"Ck.. Kamu ini.. Takut tahu.." Adel juga turun dari mobil.
"Takut besar..?" Cici Bisma lagi.
"Waahhh.. Udah main besar besar aja ya..?" Potong Hery yang sudah menunggu di pintu masuk.
"He.. Hery..?" Adel terkejut.
"Off..! Adel.. Duluan.. Dan Bisma tunggu di sini sebentar.." Titah Hery.
"Silahkan Adel.." Hery mempersilahkan Adel masuk terlebih dahulu.
"Re.. Rena.." Adel baru tiba di depan pintu dan di tarik langsung oleh Rena.
"Ayo.. Kita gak punya banyak waktu lagi Del.."
"Hah.. Waktu apa..? Untuk apa..?" Adel mengikuti Rena.
"Kenapa aku gak boleh masuk.. Adel mau ke mana..?" ptotes Bisma.
"Mana pesanan aku..?" Hery menjulurkan tangannya.
"Eh pesanan apa..?" Bisma lupa.
"Cincin..!" Bisma mengangguk paham.
__ADS_1
"Ini.. Aku sudah beli.. Aku dan Adel sendiri yang pilih. Di dalamnya ada tulisan nama kami berdua.." Jelas Bisma sambil memamerkan cincinnya.
"Oke.." Hery memasukkan kotak cincin beserta cincinnya ke dalam sakunya.
"Eh cincin ku.. Hel..?" Bisma mencoba mangambil.
"Tunggu.." Seseorang datang dari samping Hery.
"Dion..?" Bisma juga mengenali Dion.
"Belum saatnya kamu ambil cincin itu.." Dion melipat tangan di dadanya.
"Maksudnya..?" Bisma memiringkan kepalanya.
"Sini.." Hery menarik tangan Bisma seperti Adel di tarik Rena.
.
.
.
.
"Eh ini aku..? Kenapa di pakaikan gaun..?" Adel mengenakan gaun dan sekarang tengah di rias Debora.
"Sstt pasangan baru jangan banyak bicara.." Sahut Debora.
"Iya.. Buatlah Bisma terpukau dengan kecantikan ini.." Rena mencolek dagu Adel.
"Tapi kan..?"
"Cukup ikuti aja.. Dan turuti ya.." Titah Rena.
30 menit kemudian Adel keluar dari kamar Debora, wajahnya sudah di rias secantik mungkin. Gaun yang di kenakan juga tak kalah cantik, berwarna putih, panjang, tapi di jamin nyaman di gunakan Adel. Memang bukanlah gaun pernikahan hanya sekedar gaun biasa.
Bisma juga sudah siap. Dengan stelan tuxedo berwarna putih juga selaras dengan warna gaun Adel.
__ADS_1
Bisma..