
Dion bangga memiliki wanita sekuat Debora yang tak mudah di goyahkan dengan kata kata lembut seperti yang di coba oleh Roy barusan.
"Debora.. Kan Eyang gak selamanya buruk ke kamu.." Roy tetap mencoba.
"Maaf Roy gak bisa.." Tegas Debora.
"Haaaahh" Roy menghela nafasnya lagi. Ia sangat ingin kembali memiliki Debora.
Dion mengangguk anggukkan kepalanya, entah itu meledek Roy atau membenarkan yang Debora katakan, tapi Roy sangat terganggu.
"Lalu hubungan kamu sama laki laki ini apa..?" Roy ingin mengetahui lebih dalam tentang Dion dan Debora.
"Dia.." Debora menoleh pada Dion.
"Calon suamiku.." Jawab Debora lantang. Ia juga ingin mengakui Dion sebagai miliknya.
Dion tersenyum lebar mendengar jawaban Debora. Dio merangkul Debora dan hingga menciumi bahu Debora.
"Makasih.." Lirih Dion.
"Oh begitu ya.." Roy pasrah mendengar jawaban Debora.
"Eeehhh.. Dion nginap..?" Rena kali ini yang lewat bersama kedua anaknya.
"Iya.. Aku nginap Ren.. Gak apa apa kan.. Aku ada yang ingin di sampaikan sama Hery juga.." Sahut Dion.
"Oohh oke.."
__ADS_1
"Ren.. Tadi Hery cari kamu sama anak anak.." Sambung Debora.
"Iya kah..? Kok gak liat Papa kalian.." Rena berbicara pada si kembar.
"I don't now.." Alf dan Elf bersamaan.
"Hmmmm..." Hery berkacak pinggang dari arah dapur.
"Di sini kalian..! Papa cari juga kemana mana gak ada... Kemana sih..?"
"Papa.. Mana Es krim Alf..?" Alf berlari terlebih dahulu ke Hery.
"Elf.. Elf.." Elf menyusul sang kakak.
"Ada.. Di kulkas.. Mama.. Punyamu juga.." absen Hery satu persatu karena ketiganya kompak memesan eskrim sebagai cemilan.
"Iya ayo.." Rena berjalan ke arah Hery dan anak anaknya.
"Harmonisnya mereka.. Rena.. Alf, Elf.. Hery.. Haaaahhh.. Aku..? Payah.." Keluh Roy dalam hatinya.
"Oke.. Aku pulang dulu.." Roy sudah kehabisan akal untuk mendapatkan Debora kembali. Padahal ia sangat yakin jika sekali saja Debora pulang ke rumahnya, maka Debora tidak akan ingat untuk kembali ke rumah siapapun karena Roy akan memanjakannya seperti dulu.
"Baguslah.." Sahut Dion tiba tiba.
"Eemmm" Roy berlalu tanpa berkata apa apa lagi.
"Sial.. Laki laki itu.. Senang sekali cari masalah denganku.. Cih.." Roy bergumam ketika sampai di dalam mobilnya. Ia melihat dari dalam mobil, Debora yang sedang nyaman di rangkul Dion masih di tempat yang sama.
__ADS_1
Cepat cepat Roy menjalankan mobilnya menjauh dari pelataran rumah Hery.
Seorang wanita mengurung dirinya di dalam kamar. Matanya sembab dan seluruh ruangannya berantakan.
Terlalu hancur seperti kapal pecah.
Ia hanya duduk di sudut ruangan dengan gejolak hati yang mengebu gebu. Ingin marah tapi apa dayanya, ingin pergi, ia akan pergi kemana..?
Tak ada satupu pulihan yang tepat untuk dirinya.
"Apa salahku..? Apa aku terlalu buruk sehingga aku selalu mendapat perlakuan itu..!" Tangisnya.
"Kemana aku harus pergi.. Aku lelah seperti ini..!" Ia semakin terpuruk.
"Pergi kau.. Pelayananmu kurang nikmat.." Usir seorang laki laki di sebuah ranjang King Size.
"Aaawww..." pekik Seorang wanita melepas tubuhnya yang bersatu dengan tubuh laki laki itu.
"Pergi.." Laki laki itu lagi lagi melempar selembaran uang pada wanita yang telah menemaninya beberapa menit yang lalu.
Wanita itu pergi setelah memunguti uang uangnya. Tinggalah laki laki itu sendiri di atas ranjang.
"Aaarrrhhh.." Ia mengenggelamkan wajahnya di sela bantal yang ada.
"Kurang nikmat.. Tidak seperti.." Mata laki laki itu memicing mengingat kenikmatam tak terlupakannya.
"Dia.." Iirihnya.
__ADS_1