
Debora tahu Rena sangat mengkhawatirkannya tapi ia merasa bisa dan tak perlu di temani.
"Aku bisa sendiri Ren.. Lagi pula yang aku beli juga gak banyak paling cuma kain bedong, popok, baju.. Dikit aja kan.. Gak apa apa.." Debora meyakinkan Rena.
"Yakin bisa.. Kalau kamu beli banyak gimana..?" Rena tetap kekeh.
"Iissshhh buat apa banyak banyak.. Rena kamu percaya kan sama aku.." Akhirnya Rena menganggukkan kepalanya.
"Hati hati ya.."
.
.
.
.
Bisma membuka matanya. Adel masih terlelap, terduduk di lantai hanya lengan hingga kepalanya yang di tempat tidur.
"Adel.." Lirihnya. Bisma turun dari tempat tidur dan menguncangkan tubuh Adel pelan.
"Adel.. Del.. Kok bobok di lantai..?" Adel mengerjap.
"Bisma...?" Adel terbangun dari tidurnya.
"Kamu semalaman bobo di sini gini.." Bisma manarik Adel dan menggendongnya .
__ADS_1
"Bisma..!" pekik Adel terkejut dengan aksi Bisma.
"Kamu harus tidur sama aku.. Bukan di lantai.. Ini baru jam 1 malam.." Bisma mengingatkan Adel.
"Tadi kamu demam, aku kompres.. Aku malah ketiduran di situ.." jelas Adel.
"Maaf, aku buat kamu repot.." Bisma merasa bersalah.
"Bisma.. Kamu suami aku.. Jadi aku harus rawat kamu dalam sakit mau pun sehat.." Bisma tertegun mendengar ucapan Adel.
"Del.. Kamu tahu kan aku gak bisa kasih apa apa sama kamu.."
"Aku tahu Ma.. Gak masalah.. Anggap aja ini sudah kerjaan aku, kamu kan biayain aku hari hari.." Adel tetap tersenyum lebar.
"Adel.." Bisma malu pada Adel.
"Ayo.." Melihat Bisma tak mengubrisnya Adel mendorong kepala Bisma agar berbaring.
"Adel.." Bisma berbalik dan menatap Adel.
"Apa..?" Adel juga memandang Bisma, satu tangannya di bawah pipinya.
Bisma menatap kedua mata hitam Adel. Semua yang ada di hadapannya di tatapnya. Pipi, mata, hidung, bibir, kening alis. Semuanya.
"Apa Bisma..?" Ulang Adel bahkan lebih lengkap lagi berserta nama Bisma.
"Kenapa aku gak normal Adel..?" Adel menyerngitkan alisnya.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa sih..?" Adel memperbaiki posisi kepalanya.
"Kalau aku normal, aku akan jadi laki laki yang paling beruntung di dunia karna peristrikan kamu.." Ucapnya lagi.
"Hah..?" Adel malah terkekeh mendengarnya.
"Iya Del.. Gak ada laki laki yang gak bersyukur dapat istri kayak kamu.." Tambahnya.
"Makanya aku bawa kamu berobat ke Psikiater. Mungkin aja kamu bisa sehat lagi, bisa jadi yang kamu inginkan." Sambung Adel dengan senyum tak luntur di bibirnya.
"Kalau aku normal.. Apa kamu mau punya anak yang banyak sama aku.. Aku suka anak anak.." Bisma melipat tangannya dan menjadikannya bantal kepalanya.
"Ck.. Iya oke.. Yang banyak, sebanyak yang kamu masukkan.. Sudah aahh makin banyak aja lagi cerita kamu.. Sudah tidur.." Ajak Adel lagi. Bisma mengangguk sekilas.
Adel segera masuk lagi dalam mimpinya, sedangkan Bisma terus memandanginya. Adel tak merubah posisi baringnya yang masih menghadap Bisma. Dan Bisma dengan senang hati menatapnya.
"Aku juga mau bahagiakan kamu Del.. Semoga aku bisa ya.." Bisma mengelus pipi Adel dan entah bisiskkan dari mana yang membuat Bisma mendekati Adel dan memeluknya.
Mendekatkan kepala Adel ke dadanya, rasa hangat yang Bisma rasa. Ia kira mungkin karna ada Adel di pelukknya. Atau kah rasa itu dari hatinya yang mulai menghangat dengan keberadaan Adel di sampingnya..?
.
..
.
.
__ADS_1
Uuuyyyyy.. Apa nih komentarnya untuk mereka berdua cocok gak sih..? Atau mau sama Stuart aja..?