AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 267


__ADS_3

Adel tersenyum. "Iya.. Aku mau ikut.. Lagian aku gak pernah tuh pergi ke undangan kayak gitu.. Pengen coba.. Hihihi.." Adel malah cekikikkan.


"Oke beneran ini ya..? Jadi ya..? Ikut ya..?" Bisma menghentikan aktivitasnya dan bertanya bertubi tubi pada Adel.


"Iya.." Adel mengangguk lagi.


"Oke.. Lusa ya.. Kita berangkat.. Tempatnya agak jauh juga gitu.. Bahkan kalau terlalu malam selesai acaranya mau gak mau kita nginap di hotel.. Gak apa apa kan..?" Adel menjawabnya dengan anggukkan lagi.


"Tapi.. Aku gak punya baju yang bagus gitu loooo Ma.." Keluh Adel.


"Aaahh.. Kalau masalah baju gampang aja. Besok datang ke kantor jam istirahat.. Kita pergi belanja baju, sebenarnya aku juga gak ada baju yang pantas di bawa ke acara kayak gitu.. Apa gak sekalian aja kita cari baju pasangn gitu..?" Tawar Bisma.


Ada rasa ingin memberitahu dunia kalau Adel adalah miliknya.


"Boleh juga tuh.. Hihi aku mau.. Oke besok siang ya..?!" Adel menyodorkan jari kelingkingnya.


"Iya.. Janji.." Bisma menyatukan jari kelingking mereka dan melilitkannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Rena menunggu kepulangan Debora yang pergi sejak pagi tadi dan hingga kini belum kembali juga.


"Tenang aja dia sama orang yang tepat.." Hery tahu Debora dengan siapa.


"Betul..?" Rena mendudukkan dirinya di kursi dan di samping Hery.


"Iya.. Gak lama lagi mereka pulang..." Hery mengangguk yakin.


"Ck.." Rena mengusap dadanya.


Tak lama kemudian mobil hitam masuk pekarangan rumah Hery.


Debora turun dengan wajah yang berseri dan tampak berbahagia.


"Bora.. Aku khawatir banget.. Kamu kemana..? Sama siapa?"


"Kamu..? Dion..?" Rena tak percaya yang ia lihat ini.


"Kalian kencan..?" Itulah yang terlintas di otak Rena ketika melihat keduanya pulang bersama.


"Gak." "Iya.." jawab Debora dan Dion nertabrakkan. Debora tidak dan Dion iya.


"Hah..?" Rena menyipitkan matanya pada Debora.


"Gak Ren.. Dia tuh... Aku tadi pagi.."


Flashback on..

__ADS_1


Sore hari Debora pulang dari panti tempat ia bertemu dengan Dion.


Malamnya Debora berkutik dengan ponselnya, mencari pekerjaan yang bisa ia lakukan, mengingat dirinya tak lama lagi melahirkan tentu ia akan sangat membutuhkan pekerjaan.


Setelah bertanya pada sejumblah orang, akhirnya ada teman lamanya yang bersedia menerima Debora. Temanya itu meminta Debora untuk bertemu di caffe. Debora setuju dan paginya Debora berangkat dengan penuh semangat.


Sampai di Caffe itu sudah ada temannya yang menunggu dirinya. Dengan hati senang mereka memulai pembicaraan mereka. Debora setuju bekerja dengan temannya ini lagi meski hanya di pabrik kecil sebagia pendesain baju dan pernak pernik buatan sendiri dan akan di jual di dalam negeri saja.


Tak jauh dari meja Debora dan temanya. Dion memperhatikan Debora. Senyumnya tak luntur memperhatikan wanita denga perut buncit itu.


Debora dan temannya itu sudah selesai dan Dion tak menunggu waktu lebih banyak lagi dan langsung menemui Debora.


"Dion..?" Debora begitu terkejut.


"Hai.. Sibuk gak..?" Debora menjawabnya dengan gelengan.


Dion langsung mengambil tas Debora dan menggandeng tangannya.


"Maaf ya.. Kami permisi dulu.." Pamit Dion pada teman Debora yang masih mematung melihat Debora dan Dion bersama.


Dion menbawa Debora ke Mall lagi dengan alasan menghabiskan uang yang di berikan Hery. Berkali kali Debora menolak tapi Dion tak mengenali yang namanya penolakkan.


Hal itu membuat Debora menyerah dan mengikuti kemana pun Dion membawanya berbelanja.


Dan semua belanjaannya itu hanya untuk Debora dan Calon bayinya nanti. Dan saat itu berpepasan dengan Roy serta Nur juga.


Flashback Off..

__ADS_1


__ADS_2