
Makan malam selesai, Dion pun pamit pulang pada Debora dan juga Rena.
"Makasih ya makan malamnya.."
"Eeemmm.."Hery bercicit.
"Ck.. Hery..!" Rena sangat tak suka sikap Hery pada Dion.
"Iya.. Ya sayang.." Hery pasrah.
"Hery itu memang gitu sama aku.. Selalu cemburu.." Cicit Dion juga.
"Ishh kamu.." Hery menunjuk Dion dan Dion hanya membalasnya dengan mata membulat.
"Kalian dua.. Teman baik..?" Debora merasa keduanya sangat akrab.
"Iya.. Dulu aku dan Hery pernah kerja sama.. Dan dia selalu cemburu sama aku.. Karna aku lebih manis dari dia.. Sedangkan dia terlalu dingin.." Dion awalnya mendekati Hery dan akhirnya mencolek pinggang Hery.
"Issshh kamu ini.. Gak pernah berubah.. Kenapa sih sama pinggang aku." Hery merasa geli di area pingganngnya.
"Hahahaha.. Kalian liat.. Betapa dekatnya aku sama Hery.. Ya.. Banyak yang gak tahu memang.. Aku dan Hery punya hubungan yang baik." Jelas Dion lagi.
"Tapi Hery gak pernah bilang sama aku.." Rena menatap Hery penuh tanda tanya.
"Nanti kamu tanya aja sama Hery.. Dia lebih tahu dan paham masalah itu." Dion melempar senyum pada Rena.
"Gak usah pandang lama lama.." Hery menutup mata Dion agar tak menatap Rena.
__ADS_1
"Ya udah aku pandang Debora aja.." Goda Dion dan memandang Debora.
"Ck.. Kalian ini" Debora jadi malu di pandang Dion.
"Ya Hery larang aku pandang istrinya ya sudah aku pandang kamu aja.." Cicit Dion masih anteng memandang Debora dengan bertopang dagu.
"Issshh apa sih.." Pipi Debora merona.
"Ion.. Ini sudah hampir jam 9 malam looo.." Hery melirik jam tangannya.
"Belum.. Ini baru jam 8.38 malam.." cicit Dion juga melirik jam tangannya.
"Jam tangan kalian berdua sama..?" Debora sangat teliti dan yakin jam tangan yang Dion dan Hery gunakan sama.
"Iya.. Ini jam tangan pertama dari keuntungan perusahaan Hery.." Dion meneliti jam tangannya.
"Masih.. Jam ini sudah pernah hilang di sungai.. Aku minta tolong tim SAR untuk bantu cari.. Untungnya sungainya sungai berbatu.. Bukan yang berpasir.. Jadi bisa dengan cepat di temukan, tapi makan waktu juga selama 4 hari, juga jam ini pernah mati karna batrainya aku lupa ganti.. Aku langsung panik, takut rusak" Dion mengusap jam tangannya lembut, menghilangkan debu yang tak terlihat menempel di sana.
"Kamu minta tolong tim SAR cuma untuk cari jam tangan di sungai..? Gila kamu.." Hery sedikit kesal mendengarnya.
"Jam ini sangat berarti Her.. Kamu juga tahu artinya.." Dion melempar pandangan pada Hery dan tetap memamerkan senyumnya.
"Dasar bodoh.." Hery meraih Dion dan memeluknya erat.
"Teman seperjuanganku.. Cuma makan Mie mentah sebungkus berdua.." Cicit Dion lagi.
Pemandangan itu membuat Debora dan Rena terharu. Senang melihat Dion dan Hery sangat akrab, bahkan mereka memiliki ceritanya sendiri.
__ADS_1
.
.
.
.
"Aku pamit dulu.. Kapan kapan aku mampir lagi.." Dion berpamitan.
"Iya.. Aku yakin kamu pasti akan sering ke sini setelah ini.. Apalagi dari pengakuan kamu tadi.. Aku betulkan.. Kepiting.." Ledek Hery lagi.
Pipi Dion memerah lagi, dengan cepat Dion menggelengkan kepalanya.
"Ck.. Sudahlah.. Aku pergi dulu.." Dion masuk ke dalam mobilnya dan pandangannya tetap pada Debora.
Dion melambaikan tangannya kepada semua orang dan menyalakan mesin mobilnya.
Debora membalas lambaian tangan Dion dan itu sudah suatu kemajuan dalam hubungannya dan Debora.
.
.
.
.
__ADS_1
Adel..