
Debora membuka matanya, rupanya pagi juga sudah menyapanya.
"Eeemmm?" Debora menoleh ke sampingnya.
Sisi tempat tidur itu kosong, seingatnya semalam ada yang berbaring di sana. Debora meraba sisi itu tapi tak merasakan apa apa.
"Jadi memang mimpi.." Gumam Debora.
Debora melakukan aktivitasnya seperti biasa, ia segera mandi dan membersihkan tempat tidurnya. Saat merapikan tempat sisi kosong tadi, kembali Debora teringat Dion yang berbaring di sana saat dalam mimpinya.
"Haaaaaaahh.. Untung cuma mimpi.. Seharusnya aku kecup aja dia semalam di dalam mimpi... Ck." Debora menyesal.
"Bora.. Udah bangun belum..?" Terdengar suara Rena dari luar kamar.
"Iya Ren.. Aku lagi beres beres kamar.." Debora membuka pintunya, terlihat Rena yang sedang menggendong baby Alf.
"Bora kamu gak mau ikut Hery kah? Hery mau ke rumah Dion. Dion semalam jatuh.." Debora menganga.
"Jatuh..?"
"Iya.. Aku juga bingung.. Tapi kata Hery tadi gitu.. Hery suruh aku tanya kamu.. Kamu mau ikut gak.. Kasian di Dion katanya luka dikit gitu.." Hati Debora bergejolak.
"Iya ya aku.. Aku ikut.." Debora segera mengambil tasnya.
"Hery..!" Debora langsung berteriak mencari Hery.
"Astaga bumil ini..!" Cicit Hery sedang mengenakan sepatunya.
"Aku di sini.." Sahutnya.
__ADS_1
"Ayo!" Debora lebih dahulu siap dari ada Hery.
"Iya iya bentar.. Nanti kamu marahin dia ya.. Dia itu ck.. Memang.." Hery menggelengkan kepalanya.
"Kenapa dia bisa jatuh Her..?" Debora sudah sangat penasaran.
"Nanti kamu tanya langsung sama dia..! Ayo.. Sayang aku pergi dulu.. Aku juga ada yang harus aku lakukan sama Bisma. Aku jenguk Dion dulu sama Debora oke.." Hery mengecup seluruh wajah cantik Rena.
"Iya sayang hati hati ya.. Jaga Debora..!" titah Rena.
"Tenang.. Nanti kalau sudah di rumah Dion ada Dion yang jagain Deboranya.." Cicit Hery.
"Ehhh apaan sih..!?" Debora kesal.
"Dada..." Rena melambaikan tangannya.
Bisma menatap wajah Adel yang sembab dan pucat itu. Sepertinya semalaman Adel menangis.
"Haaaahhh.." Bisma menghela nafasnya.
Adel masih terlelap dengan nyamannya di pelukkan Bisma. Bisma tak ingin kenyamana Adel ini terganggu oleh apa pun.
Tok tok tok...
Pintu kamar itu di ketuk kuat.
"Aaissshhh anjing gila ini.." Cibir Bisma.
"Eeeuuuggghh..." Adel meleguh lelah.
__ADS_1
"Adel sayang.." mata Bisma berkaca kaca melihat Adel membuka matanya.
"Bisma..?" Adel menatap sekelilingnya.
"Iya sayang.. Ini aku.. Bisma mu.. Aku milikmu dan kamu milik aku.." Senyum di bibir Bisma mekar semekar mekarnya.
"Kamu jahat..!" Cap Adel pada Bisma.
"Iya sayang.. Aku aku.. Memang jahat.. Aku aku laki laki paling jahat di dunia ini.." Bisma menghapus airmatanya yang sudah keluar.
"Kamu.. Kamu.." Adel juga ikut menangis.
"Maafkan aku.. Aku gak bisa jaga kamu dengan benar.. Aku.. Sangat lemah.." Bisma memeluk Adel erat.
"Jangan sentuh aku..!" Adel berusaha melepaskan pelukkan Bisma padanya.
"Gak.. Gak akan aku lepaskan kamu lagi.." Bisma tak peduli rontaan Adel.
"Kamu... Buat aku gila Bisma.." Adel melemah lagi, ingin rasanya ia menyerahkam hidupnya pada sang pencipta lagi.
"Adel.. Ada alasannya aku begitu.. Aku, aku gak akan begitu lagi.. Kamu mai dengarkan aku lagi kan.. Kamu mau kan.." Bisma kira Adel masih tetap Adel yang sama, Adel yang selalu ada untuknya.
"Gak.. Gak ada yang harus aku dengar lagi dari kamu Bisma.. Kamu cuma peduli kebahagian kamu.. Wanita Itu.... Wanita itu kan kebahagiaan kamu.. Pergilah.. Cari dia.." Adel mengeluarkan semua unek unek di otaknya.
"Wanita...?" Bisma menggeleng.
"Wanita yang kamu tatap di dinding itu!!" Bentak Adel.
"Aiko..?"
__ADS_1
Adel....