AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 205


__ADS_3

Ceklek..


Pintu ruangan kerja Hery terbuka. Hery masuk dengan santainya. Mengambil ponsel di saku jasnya.


Menghubungi seseoran dari telponnya.


"Halo.. Rena sayang.. Ini sudah sampai.. Ni sudah di dalam kantor di ruang kerja. Lagi apa..? Oohhh sama Alf. Elf mana..? Belum bangun..? Oohh dasar anak Hery.. Hehee.. Ya kan anak aku.. Mirip aku tooh.. Molor terus.. Ya udah lanjutlah.. Aku juga lanjut kerja ini. Eeemm nanti aku makan siang kok.. Tadi kan sudah sarapan enak sama kamu... Eeemm ya ya.. Oke fokus kerja jangan ingat yang di tempat tidur tadi... Oke.. Daaa.. I love you.. Miss you.. Eeeummaaacchh.." Panggilan itu sepertinya antara Hery dan Rena.


Hery mengitari mejanya dan duduk di kursinya, lalu menghadap depan.


"Astagaaaa..???!!" Hery terlonjak terkejut hingga kursi yang ia duduki mundur sedikit dan tubuhnya bersandar di punggung kursi.


"Roy..???" Hery tak menyadari kalau ada Roy di dalam ruangannya.


"Kapan kamu ada di situ..?" Hery dari tadi tak tahu kalau Roy sudah menunggu di dalm ruangannya.


"Dari aku datang ke sini dan di sini masih sepi.." jawab santai Roy.

__ADS_1


"Tadi itu Rena..?" Roy malah bertanya yang lain lain lagi.


"Kenapa lagi kalau itu Rena..?" Hery sewot mendegar Roy menanyai Rena.


"Ya.. Kalian penuh cinta.. Apa itu betul betul..?" Roy masih tak percaya.


"Astaga..." Hery memijit keningnya.


"Kalau aku gak cinta Rena, kenapa aku tiap malam.. Main, terus kenapa bisa Rena juga terima aku... Main, dan dia suka juga kalau bukan karna kami saling cinta. Dan gak mungkin permainan itu jadi buah hati kami yang sedang di kandung Rena sekarang..?" Hery ingin sekali meninju Roy.


"Ya.. Lalu.. Kalau kami menikah dengan terpaksa apa kami gak boleh saling cinta... Justur karna menikah seperti itu cinta kami makin besar..." Ledek Hery pada Roy lagi.


"Tiap malam kamu tanam bibit sama Rena..?" cicit Roy lagi.


"Roy.. Kalau kamu gak mau aku betul betul tendang kamu dari ruangan aku.. Pergi sendiri sekarang.." Usir Hery pada Roy.


"Eehhh ada yang mau aku tanyakan bukan cuma masalah kamu sama Rena.." Roy baru ingat tujuan awal ia di sini.

__ADS_1


"Apa?" Hery sudah kehabisan kesabaran.


"Debora.. Apa dia baik baik aja.. Aku hubungi dia tapi dia gak bisa di hubungi.. Aku jadi bingung Hery.. Bantu aku.." Hery memutar matanya malas.


"Urus masalah kamu sendiri.. Kalau Debora gak mau hubungi kamu atau di hubungi sama kamu ya jangan minta tolong sama aku, aku juga gak tahu... Kemarin aku sudah kasih saran gak mau di dengar. Tetap aja main sampai lupa waktu, jadinya kesiangan lagi.." Hery menghidupkan laptopnya bersiap berkerja sambil mengoceh pada Roy di depannya.


"Ya aku juga gak tahu Her.. Aku terbuai.. Seandainya kamu rasakan apa yang aku rasa.. Pasti aku jamin juga kamu pasti terbuai juga sama Nur.. Gerakannya itu.." Roy mulai mengkhayal malam panasnya dengan Nur.


"Maaf Rena lebih menawan.. Aku sudah sangat terbuai sama dia.. Gak ada yang bisa lawan Rena.. Dari sisi mana aja gak ada yang bisa." Roy terdiam seketika.


"Cih.. Bekas aku kok.." Ledek Roy.


"Ya makasih looo.. Bekasmu sangat kecil.. Sedangkan aku, harus buat bekas baru biar bisa masuk.. Rena juga akui itu.. Punya aku yang lebih... Besar.." Ledek Hery lagi.


"Haaiisss.." Roy Segera keluar dari ruangan Hery. Ia tahu ia tak akan bisa menang melawan Hery.


Off dulu..

__ADS_1


__ADS_2