
Bisma tersenyum lalu mengangguk setuju. "Oke nanti aku beli cincin baru.. Sekalian aku dan Adel kan mau beli baju untuk ke undangan itu.. Makasih ya Hel idenya.." Bisma merasa senang.
Hery pun merasa Senang sang kakak sudah sepenuhnya menjadi laki laki. Semoga saja tidak ada lagi gangguan untuk keduanya di masa yang akan datang.
"Aku kembali ke ruangan aku dulu.. Takut takut nanti Adel datang pas gak ada aku lagi.." Pamitnya.
Bisma keluar dari ruangan Hery dan Hery tentu langsung mengabari Dion di rumah. Dion beberapa menit yang lalu mengirimkan hasil kerjanya di rumah Hery.
Hery juga menyukainya. Berharap Bisma juga menyukainya.
"Tapi kayaknya ada yang kurang..?" Hery bergumam.. Kalau ada cincin, harusnya ada gaun cantik dan tuxedo gagah juga.." Hery mendapat ide bagus juga.
Ia segera mengirim pesan lagi pada Dion untuk menyiapkan yang ia maksud.
.
.
.
.
.
.
"Bisma...?" Adel tiba di ruangan Bisma.
"Ya Del.. Akhirnya yang aku tunggu datang juga.." Bisma bangkit dari duduknya dan memeluk Adel.
"Eeemmm.. Sudah jadi romantis ya.." Cicit Adel dari pelukkan Bisma itu.
"Sstt.. " Bisma menempelkan keningnya dan kening Adel.
__ADS_1
"Aku cuma bilan yang aku rasa aja kok.." Bisma memeluk erat Adel.
Adel memberanikan diri untuk mengecup pipi Bisma.
Tapi sayangnya, Bisma sudah tahu dan Bisma menggagalkan kecupan Adel di pipinya dengan mengalihkan wajahnya dan kecupan Adel tepat ke bibirnya.
Bisma tak membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja, dia menarik tengkuk Adel agar kecupan itu berubah menjadi ciuman panas.
.
.
.
.
.
.
"Aku gak suka warnanya terlalu gelap. Istri aku yang cantik ini cocok gaun yang cerah dan berwarna warni. Apalagi dia sangat ceria.. Jadi warnanya juga harus ceria." Bisma memilih beberapa gaun lagi untuk Adel.
"Tapi kan kalau aku cerah, berarti kamu juga harus pakai warna senada dan cerah juga.." Adel mengikuti Bisma dari belakang.
"Ya gak apa apa.. Gak salah kok.. Yang penting aku suka.." Cicit Bisma dan mendapat colekkan di pinggangnya dari Adel.
"Ini cocok sama kamu Del.. Cobalah.. Aku mau liat.." Bisma menyerahkan gaun selutut berwarna Jingga.
"Oke.. Suamiku sayang.." Cicit Adel dan menerima gaun itu dari tangan Bisma.
"Apa tadi..? Coba bilang lagi..." Bisma Mengguncangkan tubuh Adel.
"Su.. Suamiku sayang.." Adel berkedip beberapa kali.
__ADS_1
"Jangan ganti panggilan itu sayang.." Keduanya persis seperti sepasang kekasih yang sedang memulai hubungan.
"Dan kamu.." Adel mengalungkan kedua tangannya di leher Bisma.
"Jangan ubah panggilan itu.. Tetap panggil aku sayang.." Bisma sangat ingin melu*Mat bibir Adel saat itu juga. Tapi Adel melarangnya.
Adel memberi isyarat untuk melihat sekeliling mereka. Banyak orang orang yang juga sedang berbelanja.
Bisma berdecak kesal. "Baiklah.. Setelah dari sini kamu gak akan lepas dari aku.." Bisik Bisma, Adel segera berlalu ke ruang ganti.
.
.
.
"Cih.. Apa mereka benar benar sudah baikkan...?" Stuart memperhatikan Bisma dan Adel dari kejauhan.
Stuart menggeleng. "Gak.. Ini gak boleh terjadi." Rasanya hati Stuart hancur berkeping keping melihat pemandangan romantis Bisma dan Adel.
"Bisma pasti cuma lagi akting.. Gak mungkin dia bisa normal secepat itu.. Traumanya bagaimana..?" Stuart berpikir keras.
"Mending kamu cari cara untuk daatkan Adel lagi dari pada kamu pusing pusing pikirin kenapa Bisma bisa normal seketika.." Ucap Albert yang setia di samping Stuart.
"Ck.. Kamu juga.. Kenapa lambat..?" Stuart menyalurkan amarahnya pada Albert.
"Aku dapat ini.." Albert memberi sebuah USB pada Stuart.
"Apa sangat penting..?" Stuart memutar mutar USB itu.
"Sangat.. Aku yakin kamu juga senang melihatnya. Aku.. Aahh" Albert langsung tak sadarkan diri.
"Baru tiga hari tiga malam jadi hacker.. Sudah tumbang.." Cicit Stuart dan meminta tolong anak buahnya untuk membawa Albert kembali ke mobil.
__ADS_1
Maaf ya readers tersayang.. cuma 2 bab aja hari ini.. nanti malam kalau bisa tambah satu lagi.. Maaf ya... benar benar minta maaf. makasih ya yang selalu pantangin cerita author..