AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 204


__ADS_3

Adel menggunakan jaket yang di berikan Bisma. Wajah Bisma masih tak bersahabat dengan Stuart. Setelah Adel sudah menggunakan jaketnya Bisma langsung menariknya keluar dari unit Stuart.


"Kamu.." Stuart menatap Albert.


"Stu aku.." Albert mulai memundurkan dirinya.


"Kamu tahu kan.. Bisma itu sebenarnya..." Stuart menghentikan ucapannya. Rasa menyesal memburu Stuart.


"Coba saja aku benar benar menyentuhnya tadi.." Gumam Stuart.


"Haaaahh?" Albert merasa ia salah dengar apa yang Stuart katakan.


"Adel wanita yang baik.. Kenapa dia harus bersama Bisma..?" Stuart memicingkan matanya.


"Stuart..?" Albert merasa ada yang berbeda dengan Stuart.


"Albert.. Apa kamu mencintai Bisma..?" Stuart berbalik menatap Albert.


"Aku suka dia.. Dia punya tubuh yang bagus sebagai laki laki.." Albert malu malu mengakuinya.


"Itu bagus juga ya.. Apa aku terlalu naif tadi..? Seharusnya aku.." Stuart memegangi luka cakar di bahunya.


Terbayang tubuh Adel di ingatan Stuart. Stuart menutup matanya dan terbayang Adel yang membangungkannya dengan kemeja hitam yang kebesaran di tubuhnya, kulit putih bersih di baliknya, terlihat gundukan juga.

__ADS_1


Stuart menggigit bibirnya sambil tersenyum misteri. Otaknya berkelana, membasahi bibirnya penuh hasrat tinggi.


"Albert.. Aku ada tugas untuk kamu.. Apa kamu mau..?"


Entah ini masalah baru atau akan menjadi kisah baru kita.


***


"Aku dari tadi hubungi Adel tapi gk masuk masuk.." Rena merasa khawatir pada Adel yang tak bisa ia hubungi dari kemarin.


"Paling juga sama Bisma main game.." Sahut Hery.


"Ya tapi gak sampai gak dengar suara ponselnya kan.." Rena tak yakin.


"Mungkin main game yang lain.." Sahut Hery lagi. Rena memicingkan matanya.


"Sayang.." Hery takut tergoda.


"Apa..?" Rena semakin mendekatkan dirinya.


"Sayang.. Aku.. Itu.. Eeemm" Belum selesai berucap Rena sudah mendiamka Hery dengan bibirnya.


"Sayang ini masih pagi.. Aku juga gak mau ganggu baby.." Hery mengelus perut Rena.

__ADS_1


"Oohh yaa..?" Rena tak peduli dan langsung mengelus senjata utama.


"Sayang.. Aahhh.. Gak apa lah terlambat dikit.." Hery membawa Rena ke tempat tidur mereka.


"Mama Mudah ini benar benar suka menggoda suami ya.." Hery sudah di tempatnya.


"Ya donk... Namanya juga Mama Muda.. Masih muda.. Masih kuat donk.." Sahut Rena juga dengan suara menggodanya dan sedikit mendesa*.


"Aah oke.. Ayo.." Sudah rapi tapi sepertinya kerapian itu harus di buka lagi karna ada tugas mendadak dari istri.


***


30 menit kemudian barulah Hery bisa berangkat dengan tenang meski ia akan terlambat sampai di kantor tapi tak apa, karna kantor itu kan adalah miliknya. Tidak ada yang bisa memarahinya kalau ia terlambat.


"Debora kamu mau kemana..?" Rena melihat Debora yang sudah rapi dan tas kecil di tangannya.


"Aku mau ke tempat latihn yoga aku dulu.. Sekarang yang penting kesehatan anak aku Ren.. Aku gak mau tahu tentang laki laki itu lagi." Ucap Debora.


"Oke.. Kamu betul banget Bora. Mau aku temani kah..?" Rena sebenarnya khawatir juga dengan keadaan Debora.


"Gak apa apa kok Ren.. Aku malah suka sendiri dulu.. Ya udah aku pergi dulu ya.." Pamit Debora. Rena mengerti yang Debora rasakan pun mempersilahkannya melakukan yang Debora inginkan.


Sedangkan itu. Roy di kantor dengan ponsel yang terus di telinganya. Sepertinya ia masih berusaha menghubungi Debora dari tadi pagi tapi hasilnya tetap sama.

__ADS_1


Hery juga tak kunjung sampai di kantor membuat Roy makin gelisah. Ia ingin menanyakan keadaan Debora ada Hery.


Ceklek..


__ADS_2